Category Archives: Blogging

Gelisah dalam kenyamanan

dari web nosstress

Album ini sudah dikemas seperti sebuah pertunjukkan di atas panggung. Sebagai pembuka, Cok menyambut dengan buaian “Manipulasi Hati” bagi pengunjung.

“.. kau seperti dewa kau buat hidup ini berwarna. Kau bagai dewa kau buat orang terus bermimpi.” Setelah koor senang dan mulai termotivasi, Kupit mengajak minum kopi di beranda rumahmu. Aransemen ulang “Tanam Saja” yang membuat kita ingin mengelus capung yang entah di mana, sulit ditemukan karena air makin tercemar.

Tapi penonton masih tersenyum. Dan mungkin akan meledak tertawa ketika “Lagu Semut” didendangkan. Kemudian mendadak tersengat ketika merenungkan lagu ini tentang apa. Dan, makin sayang dengan semut hitam yang jalan-jalan di rumah. Haha. Tapi semut hitam di album ini memberi alarm pada situasi di pulau kecilmu ini.

Ketika investor berlomba membuat resor eksotis sampai membelah bukit seperti di Pantai Pandawa, ingin mengurug Teluk Benoa agar dapat sunset dan sunrise di tengah laut. Sementara di bawah kondominium, hotel, atau villa ada nelayan yang mengais sisa-sisa rumput laut yang rusak diterjang ombak.

Maka, kutipan Gandhi yang masyur memang jadi niscaya, bumi tak akan cukup untuk satu orang yang serakah.

Continue reading Gelisah dalam kenyamanan

Atraksi Kuliner Lokal

pesan tlengis anggabaya/luhde

Nyaris semua perempatan utama di Denpasar ada dua kompatriot atau lebih tepat sekutu perusahaan makanan cepat saji dengan bahan utama ayam. Padahal menunya hampir sama, tapi bisa mendapat lokasi sangat strategis, dan berdampingan di pusat kota.

Di sejumlah perempatan, papan nama perusahaan dengan neon box gemerlap berpadu dengan patung-patung pahlawan Bali seperti I Gusti Ngurah Rai yang gugur melawan penjajahan. Patung-patung ini biasa diletakkan di tengah perempatan jalan besar sebagai pengingat tentang heroism di tanah dewata.

Penjajahan masa kini berwajah baru. Salah satunya di industri pangan dan makanan. Tentang isi perut. Seorang pedagang soto pernah membuat spanduk tentang isi perut ini dalam bahasa Bali, Weteng Wareg Gumi Ajeg. Artinya perut kenyang, bumi pun tenang.   Continue reading Atraksi Kuliner Lokal

Perlawanan Luviana

Bercakap dengan Luviana, jurnalis yang dipecat Metro TV karena ingin membuat serikat pekerja. Di masa depan, kita akan teringat pada perjuangan ibu satu anak ini yang melawan keangkuhan industri media.

Ia sudah berpeluh lahir dan batin dengan mendatangi Komnas HAM, Komnas Perempuan, LBH, DPR, menghadapi tekanan pejabat dan rekan sekerja hampir satu tahun ini. Apakah Luviana akan berhasil meminta haknya diperjakan kembali? Bukan pesangon puluhan juta, tapi haknya untuk bekerja sebagai wartawan. Continue reading Perlawanan Luviana

Kondom, Candy, dan Kamu

Sanjay, seorang desainer muda sudah merasakan membuat desain kampanye kondom seperti melatih nalar, mempelajari budaya, dan mengasah kreativitas.

Selama beberapa pekan Ia dan timnya berdiskusi, bertemu dengan aktivis penanggulangan AIDS di Bali untuk menerjemahkan budaya dan perilaku pemakaian kondom. Bagi pria single 🙂 seperti Sanjay Ia tak punya banyak persepsi mengenai kondom. Continue reading Kondom, Candy, dan Kamu

Cerita Air, Kini dan Nanti

“Aku, selalu suka hujan di bulan Desember,” begitu kutipan lirik ERK, band intelek ini. Juga saya, banyak orang, seusai musim panas yang sangat menyengat tahun ini di Bali. Tapi, kata suka mudah berubah jadi panik ketika air hujan masuk rumah.

Maka jadilah, saya mengundang teman yang bisa membuat lubang biopori ke rumah. Dalam waktu satu jam, jadilah dua lubang bipori, kedalaman sekitar 1,5 meter di halaman depan dan belakang. Rumah kami lebih rendah dari jalan, jadi air hujan mudah masuk dan menggenang. Dan, benar saja, satu lubang biopori cukup ampuh meredam luapan air saat hujan deras.

Tak langsung lenyap, tapi airnya masuk secara perlahan ke dalam tanah. Barangkali tak mudah meresap karena bekas-bekas semen ketika membangun rumah di lapisan tanah dan sampah plastic yang mengendap. Continue reading Cerita Air, Kini dan Nanti

Kisah di balik air minumku dan minummu

Satu demi satu warga menyatakan pendapat. Ada yang datar, dan sebagian besar dengan nada emosi. “Tiang taen 2 tiban ten maan yeh. Mangkin tiang takut anak cucu ten maan yeh,” kata Gusti Sujaya, dalam bahasa Bali yang menjadi bahasa pengantar dalam rapat desa. Ia mengingat pengalaman pernah dua tahun tidak dapat air karena sumber air dekat rumahnya kering setelah dibor. Ia tak mau anak cucunya nanti seperti itu lagi di masa depan.

Untuk pertama kali saya mengikuti rapat desa yang menghasilkan keputusan menolak eksplorasi sumur atau pengeboran oleh perusahaan air kemasan di Bali. Diskusi ini berlangsung lebih dari dua jam pada hari Minggu, awal Desember ini di Kabupaten Karangasem. Continue reading Kisah di balik air minumku dan minummu

Jurnalis dan Buruh Perempuan #BeraniMelawan

Dini hari, 11 November, dengan berjingkat saya mengambil laptop agar tak membangunkan Satori, bayi 8 bulan yang selalu seranjang.

Entah kenapa ingin membuka milis ajisaja duluan. Biasanya klik milis baliblogger dulu :}

Benar saja, keheningan subuh tiba-tiba terasa gaduh karena selembar email ajakan ke makam SK Trimurti. Sayangnya ini di Jakarta. Continue reading Jurnalis dan Buruh Perempuan #BeraniMelawan

Keme5raaan 5tahun BBC

desain @sigilahoror
desain @sigilahoror

 

Nabeshima Creative Space (NCS) saya kenal ketika Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar membuat program apresiasi jurnalis budaya bekerja sama dengan Arti Foundation, pendiri tempat itu. Nabeshima, nama yang digunakan juga familiar karena pernah meliput prosesi ngaben untuk almarhum Mari Nabeshima yang meninggal karena demam berdarah.

Saya ingat, kematian Nabeshima ini sangat mengejutkan bagi keluarga, suaminya Kadek Suardana tentu saja, dan seniman serta budayawan yang mengetahui proses kreatif perempuan cantik itu. Saya sendiri baru mengenal profil Nabeshima dari cerita-cerita singkat temannya saat mengikuti acara ngaben. Kematian, sekali lagi menggunakan caranya yang misterius bagi mereka yang dihormati komunitas dan lingkungannya. Continue reading Keme5raaan 5tahun BBC

Hamil: Boleh Resah Asal Gak Bikin Makin Susah

Kehamilan kali kedua ini bikin loyo.

Jelang Bani 5 tahun, kehamilan ini memang direncanakan. Pertama, buka alat kontrasepsi IUD dulu dong. Proses pencabutan IUD di tempat masang dulu, klinik PKBI Gatsu tengah cukup singkat sekitar 10 menit.

Tanpa alat kontrasepsi, tak perlu waktu lama sampai aku gak menstruasi lagi. Sperma si ayah lincah dan sel telur bunda juga pintar menyeleksi satu yang terbaik. Jadilah pembuahan itu. Tidak ada yg lebih superior antara sperma dan sel telur. Jutaan sperma boleh menyerbu dengan kecepatan tinggi tapi hanya satu yang bisa diterima sel telur. Kalau tidak ada yang berkenan di hati sel telur, semua sperma akan layu. Lalu, mati.

Continue reading Hamil: Boleh Resah Asal Gak Bikin Makin Susah