Apa transformasi BBC selama 7 tahun?

blog-BBC7tahun1
foto2 @15june

Apa tranformasi selama 7 tahun Bali Blogger Community ini? Tentu saja, banyak pasangan menikah lalu punya anak. Bahkan sebagian sudah menuju anak ke-2. Juga tak sedikit pasangan yang putus.

Mama Aqira yang desainer itu bahkan membuat logo Baby Blogger Community. Karena saking beranak pinaknya, sudah bisa buat tim sepak bola.

Anak generasi pertama ada Aqira, Achi, Ran, Amura, Ryu, Bani, Gending, Bayu, Galang, Rindra, Davin, Mirah, dan lainnya. Lalu generasi ke dua dan calon bayi ada Satori, Tara, Ayunda. Generasi ke tiga juga ada, anaknya @blogdokter. Si Abi yang montok baru bisa merangkak.

blog-BBC7tahun

Dulu bahan ngobrol kalau kumpul seperti ngoprek blog, komentar blog, kopdar dengan komunitas blog lain, dan bikin kaos. Sekarang, kecuali jomblo dan sejenisnya, pasti anak. Sebagian memang sudah tak aktif ngblog. Lebih riang di socmed atau grup chatting.

Tapi, sisa-sisa manfaat ngblog sangat terasa. Misal, untuk perempuan, mereka skeptis pada informasi kepengasuhan. Misalnya paham mencari informasi tentang menyusui, mencari dokter anak, dan pemasaran produk online bagi yang berbisnis.

Tentang kehebatan momi-momi blogger ini berbisnis pernah saya catat sekilas di sini. Continue reading Apa transformasi BBC selama 7 tahun?

Makanan lokal di pusat keramaian turis

IMG_2677

Camilan dan jajanan lokal adalah salah satu buruan saya kalau ke luar kota. Jika repot mencari di pusat kota atau jalanan, maka saya pergi ke pasar tradisional. Nah, sayangnya pasar ini biasanya baru buka pagi sekali dan tutup sore hari. Padahal, break atau rehat dari pertemuan atau diskusi ya pasti petang sampai malam hari. Di mana mencari jajanan lokal ini?

Mari kita bandingkan di Denpasar, Makassar serta Jakarta. Tiga kota besar yang mirip dari segi semerawut dan landmark pesisirnya. Bulan lalu saya ke Makassar lagi. Hanya menginap dua hari satu malam di salah satu hotel di kota tersebut. Maklum, masih punya anak di bawah tiga tahun, jadi bawaannya masih klangenan.

Makassar malam hari? Salah satu tujuannya pasti Losari. Di sini memang ada deretan pedagang kaki lima kuliner lokal macam pisang epe, minuman hangat saraba’, dan lainnya. Pisang epe ini pisang muda yang dibakar sebentar trus digeprak dengan kayu agar jadi gepeng. Lalu dilumuri topping manis aneka varian.

Di Jakarta, kata teman saya yang belum lama berkunjung ke sana jajanan seperti ini ada juga, yaitu pisang yang dibakar dan nantinya dikasih topping aneka rasa, baik manis dan pedas. Dari segi jajanan, Jakarta ini memang tidak terlalu bervariasi seperti Bandung, tetapi ada pusat-pusat yang memang khusus menjajakannya. Sebut saja area Pasar Baru, tempat yang menjual aneka produk ini menjajakan berbagai kebutuhan, termasuk kuliner. Tempat ini juga dilengkapi dengan fasilitas yang memadai untuk para turis yang berkunjung ke Jakarta, seperti Busway, penginapan dan hotel-hotel murah di Jakarta. Jadi sekilas ada kemiripan kuliner antara satu kota dengan kota lainnya di Indonesia ini, walaupun memang beda nama dan cara penyajiannya.

Bagaimana kalau di Bali? Nah ini, lebih ruwet menemukan pusat penganan lokal pada malam hari. Mari kita coba telusuri. Salah satu pusat makanan malam hari adalah pasar senggol. Memang jauh berbeda dengan duduk di pantai sambil santai. Di pasar senggol, tempat berhimpitan, nyenggol sana sini, dan bising.

Tapi ada beberapa pasar senggol yang relatif lebih lapang, seperti pasar Senggol Tabanan, Gianyar, dan Bangli. Semuanya di luar kota Denpasar. Biasanya penganan lokal yang ada Jaje Bali, Jukut Serombotan, dan Es Campur. Kalau di Denpasar, salah satu teramai di Kreneng. Sumpek dan kurang banyak varian penganan lokalnya.

Pernah membayangkan, di Denpasar ada satu kawasan yang bisa jadi lokasi tempat ngongkrong khususnya penganan lokal di malam hari. Bisa di lapangan timur Lapangan Renon atau Lapangan Puputan Badung. Beri mereka tempat, buat mekanisme penataan dan sanitasinya. Di dua kawasan pusat kota dan ramai ini yang bisanya terlihat malah Satpol PP yang mengejar-ngejar pedagang kaki lima agar tak berjualan di lapangan.

Denpasar juga tiap tahun membuat banyak festival dan beri stan untuk beberapa penganan lokal. Tapi ini cuma beberapa hari dan sifatnya seremonial. Seolah hanya pajangan. Tidak untuk dukungan berkelanjutan. Apalah artinya keliling nusantara tanpa menikmati kuliner lokalnya? Apalagi sambil nongkrong malam hari dan cuci mata.

 

Kicau #bani

Untuk bunda

Ceritcropped-bunda-bani-blog.jpga ulang tahun yang terlupakan

Hari Selasa sore itu sedang mandi. Oh ya, namaku Bani. Aku cepat sekali lupa ulang tahun orang tuaku. Aku Cuma ingat ulang tahunku saja dan kepentinganku. Seperti PR, sekolah, dan kebutuhan manusia (maksudnya pokok).

Ya, manusia itu kan juga suka lupa. Tapi cerita ini baru permulaan saja. Seperti bumi.

*banyak gambar, globe, kue ultah, lilin*

(page 1 of 3)

Episode dihipnotis

Saat hari Senin aku sedang di sekolah. Aku piket. Saat sudah selesai, aku melihat bundaku menunggu lama sekali. Saat pulang, aku mandi dan bundaku bilang, “Bani, ingat ulang tahun bunda?” Aku bilang aku tidak tahu. Continue reading Kicau #bani

Tentang poligami di Bali: 3 suami, 17 istri, 20 anak

bitterhoney

Potret kehidupan berpoligami di Bali dipotret Robert Lemelson dalam film Bitter Honey yang sedang dipertontonkan di bioskop-bioskop Amerika Serikat. Dalam sebuah diskusi bedah film ini di Denpasar, sejumlah aktivis anti kekerasan pada perempuan menyatakan UU Perkawinan harus diubah agar pria tak bisa mudah poligami.

Lemelson sejak awal menuturkan dengan runut alasan dan apa yang terjadi dalam pernikahan poligami. Antropolog dan film maker ini ini tak berniat mengarahkan penonton ke kesimpulan anti poligami.

Bahkan, di kisah pemeran pertama, Made Darma yang beristri lima, malah terlihat pria berbadan kekar seperti cowboy. Diperlihatkan Darma dilayani istri-istrinya dengan bangga dan memegang kendali dalam keluarga ini. Continue reading Tentang poligami di Bali: 3 suami, 17 istri, 20 anak