Makanan lokal di pusat keramaian turis




IMG_2677

Camilan dan jajanan lokal adalah salah satu buruan saya kalau ke luar kota. Jika repot mencari di pusat kota atau jalanan, maka saya pergi ke pasar tradisional. Nah, sayangnya pasar ini biasanya baru buka pagi sekali dan tutup sore hari. Padahal, break atau rehat dari pertemuan atau diskusi ya pasti petang sampai malam hari. Di mana mencari jajanan lokal ini?

Mari kita bandingkan di Denpasar, Makassar serta Jakarta. Tiga kota besar yang mirip dari segi semerawut dan landmark pesisirnya. Bulan lalu saya ke Makassar lagi. Hanya menginap dua hari satu malam di salah satu hotel di kota tersebut. Maklum, masih punya anak di bawah tiga tahun, jadi bawaannya masih klangenan.

Makassar malam hari? Salah satu tujuannya pasti Losari. Di sini memang ada deretan pedagang kaki lima kuliner lokal macam pisang epe, minuman hangat saraba’, dan lainnya. Pisang epe ini pisang muda yang dibakar sebentar trus digeprak dengan kayu agar jadi gepeng. Lalu dilumuri topping manis aneka varian.

Di Jakarta, kata teman saya yang belum lama berkunjung ke sana jajanan seperti ini ada juga, yaitu pisang yang dibakar dan nantinya dikasih topping aneka rasa, baik manis dan pedas. Dari segi jajanan, Jakarta ini memang tidak terlalu bervariasi seperti Bandung, tetapi ada pusat-pusat yang memang khusus menjajakannya. Sebut saja area Pasar Baru, tempat yang menjual aneka produk ini menjajakan berbagai kebutuhan, termasuk kuliner. Tempat ini juga dilengkapi dengan fasilitas yang memadai untuk para turis yang berkunjung ke Jakarta, seperti Busway, penginapan dan hotel-hotel murah di Jakarta. Jadi sekilas ada kemiripan kuliner antara satu kota dengan kota lainnya di Indonesia ini, walaupun memang beda nama dan cara penyajiannya.

Bagaimana kalau di Bali? Nah ini, lebih ruwet menemukan pusat penganan lokal pada malam hari. Mari kita coba telusuri. Salah satu pusat makanan malam hari adalah pasar senggol. Memang jauh berbeda dengan duduk di pantai sambil santai. Di pasar senggol, tempat berhimpitan, nyenggol sana sini, dan bising.

Tapi ada beberapa pasar senggol yang relatif lebih lapang, seperti pasar Senggol Tabanan, Gianyar, dan Bangli. Semuanya di luar kota Denpasar. Biasanya penganan lokal yang ada Jaje Bali, Jukut Serombotan, dan Es Campur. Kalau di Denpasar, salah satu teramai di Kreneng. Sumpek dan kurang banyak varian penganan lokalnya.

Pernah membayangkan, di Denpasar ada satu kawasan yang bisa jadi lokasi tempat ngongkrong khususnya penganan lokal di malam hari. Bisa di lapangan timur Lapangan Renon atau Lapangan Puputan Badung. Beri mereka tempat, buat mekanisme penataan dan sanitasinya. Di dua kawasan pusat kota dan ramai ini yang bisanya terlihat malah Satpol PP yang mengejar-ngejar pedagang kaki lima agar tak berjualan di lapangan.

Denpasar juga tiap tahun membuat banyak festival dan beri stan untuk beberapa penganan lokal. Tapi ini cuma beberapa hari dan sifatnya seremonial. Seolah hanya pajangan. Tidak untuk dukungan berkelanjutan. Apalah artinya keliling nusantara tanpa menikmati kuliner lokalnya? Apalagi sambil nongkrong malam hari dan cuci mata.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *