Hidup Baru dengan Cuci Darah

Gagal ginjal. Cuci Darah. Hidup baru saya.

Berganti baju operasi, penutup kepala dan masker menuju ruang operasi. Tanpa sandal, lantai ruang operasi sangat dingin. Menunggu 30 menit untuk persiapan alat dalam sunyi dengan tanda tanya dan kerisauan membuncah. Apa yang akan terjadi? Katanya leherku dipasang selang untuk proses cuci darah.

Masuk ruang operasi, lantai makin dingin, baju dilepas sebagian, dibius lokal bagian bawah leher kanan, aku merasakan sayatan, kemudian tusukan, jaritan, dan dua perawat yang sibuk menyeka darah. Karena kepala harus mendongak, sangat sulit bernafas dan ini bikin tambah takut, ya tuhan cepatlah berakhir.

Batuk karena bronkitis menambah buruk, celana yang sudah dilapisi pembalut basah karena setiap batuk keluar kencing. Akhirnya jaritan terakhir, selesai, kembali digiring ke sal cuci darah. Sal ini penuh, sedikitnya ada 10 bed berjejer. Ada usia anak, dewasa, remaja, dan kini saya.

Nafas masih sesak. Dengan sigap dua petugas datang memasang alat dan menghibur, cuci darah gak sakit kok, tidak ada yang disuntik. Prosesnya akan berjalan 3 jam. Nafasku masih sulit diatur, perasaan gundah, apa rasanya?

Setelah sekitar satu jam, ada tambahan transfusi darah. Ya, karena aku masuk UGD dengan diagnosis anemia, HB sangat rendah. Prosesnya cepat, kurang dari setengah jam, satu kantong darah habis. Namun inilah babak yang membuatku trauma. Tiba-tiba aku menggigil, awalnya bergetar sedikit, lalu seluruh tubuh bak kesetrum. Sakit dan paling menyedihkan terasa diambang kematian.

Petugas sempat berpesan, panggil ya kalau menggigil atau keluar keringat dingin. Inilah dia, reaksi tubuh karena ada benda asing masuk tubuh, seperti alergi. Aku pernah beberapa kali mendonorkan darah tapi tumben menerima darah.

Suami terus memegang tangan menguatkan. Apalagi pemberian obat pertama tidak berhasil, saya terus meringis dan badan seperti kejang tak bisa dikontrol. Ditambah obat lain, beberapa menit kemudian akhirnya mereda.

Saya pasien cuci darah terakhir di jam 8.30 malam itu. Sebuah babak baru dalam hidup yang sulit dimengerti kenapa saya? Apa penyebabnya?

Setelah ditelusuri riwayatnya, kemungkinan saya mengidap hipertensi sudah lama dan terlambat minum obat, dan sudah kadung merusak ginjal. Inilah pentingnya mendapat informasi kesehatan dengan komrehensif.

Saat med-ceheckup Januari 2024 lalu memang sudah ada indikasi hipertensi namun saat itu dokter yang memberi penjelasan hasilnya tidak memperingatkan dampak buruk jika tak minum obat. Saya pun abai karena tidak pernah merasakan gejala hipertensi seperti sakit kepala, mudah letih, dan lainnya.

Saya malah baru mulai minum obat ketika ngobrol dengan dokter gigi, dia cerita dampak buruk jika tak segera terapi obat setiap hari dari pengalaman hipertensi keluarganya. Ini sekitar 3 bulan terakhir ini, namun sering lupa juga diminum. Saya sudah terlambat.

Sebulan terakhir ini saya mulai merasakan gejala susah makan, bibir asam, mual, dan mudah sakit. Ketika ke layanan kesehatan, sejumlah diagnosis muncul, gerd, bronkitis, dan tentu saja tensi tinggi. Sampai kemudian tes darah dan didiagnosis anemia harus segera masuk UGD.

Di rumah sakit terakhir lah saya dites ulang, dan akhirnya diketahui sumber semua ini adalah gagal ginjal.

Hal yang masih membingungkan, bagaimana saya bisa hipertensi? Olahraga sudah teratur nyaris tiap hari dua tahun terakhir, tidak suka daging merah. Stres? Mungkin iya tapi gak sering. Banyak yang dipikirkan? Ya tentu saja tapi setiap orang juga kan. Entahlah, mungkin ada yang tak kusadari dan sudah merusak kini.

Saya merasa kini merasa jadi orang yang tidak produktif, tidak bisa keluar kota karena harus rutin cuci darah, sulit liputan karena imun menurun, dan perubahan lainnya. Bahkan merasa kematian bisa kapan saja. Ya udahlah, jalani aja.

Hal menyedihkan lain, rencana pindah ke Jogja akhir Juni ini pun urung karena harus terapi cuci darah seminggu dua kali. Padahal sudah kontrak rumah. Pindah dalam kondisi seperti ini cukup berisiko karena harus mengakses layanan kesehatan terdekat dengan dokter yang sudah memantau sejak awal. Tak hanya itu, support system juga penting. Begitulah hidup, hanya bisa berencana.

6 thoughts on “Hidup Baru dengan Cuci Darah”

  1. Terimakasih Luh De, atas tulisannya yg sangat menyentuh dan banyak pesan, semoga ada jalan terang untuk kian sehat, tetap semangat dan selamat istirahat ????????

  2. Terima kasih sudah berbagi mbok, kesehatan hal penting yang sering terlupakan dan terabaikan. Ini menjadi catatan penting dan pengingat buat saya juga ????????

  3. Kita hanya bisa berencana dan berusaha sisanya diurus semesata, Cepat sembuh Luh De, kami bergantung padamu. ????????

  4. Saya banyak belajar dari yang mbok Luh De ceritakan melalui tulisan ini. Sadar akan kesehatan diri dan menjaganya. Kembali sehat mbok Luh De .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *