Atraksi Kuliner Lokal




pesan tlengis anggabaya/luhde

Nyaris semua perempatan utama di Denpasar ada dua kompatriot atau lebih tepat sekutu perusahaan makanan cepat saji dengan bahan utama ayam. Padahal menunya hampir sama, tapi bisa mendapat lokasi sangat strategis, dan berdampingan di pusat kota.

Di sejumlah perempatan, papan nama perusahaan dengan neon box gemerlap berpadu dengan patung-patung pahlawan Bali seperti I Gusti Ngurah Rai yang gugur melawan penjajahan. Patung-patung ini biasa diletakkan di tengah perempatan jalan besar sebagai pengingat tentang heroism di tanah dewata.

Penjajahan masa kini berwajah baru. Salah satunya di industri pangan dan makanan. Tentang isi perut. Seorang pedagang soto pernah membuat spanduk tentang isi perut ini dalam bahasa Bali, Weteng Wareg Gumi Ajeg. Artinya perut kenyang, bumi pun tenang.  

Sementara itu, di pinggir jalan, di atas trotoar para pedagang kuliner lokal berjualan tak layak. Di Denpasar saja ada puluhan pedagang seperti ini. Misalnya penjual sate ikan, sate babi, jukut srombotan, plecing, pepes, tum, jaje Bali, dan lainnya. Mereka berebutan lahan dengan pejalan kaki atau pengendara.

Lalu, para pemimpin pemerintahan membuat jargon-jargon, selamatkan kuliner lokal. Ayo hargai makanan lokal, dan sebagainya. Sejumlah pameran pembangunan dibuat, puluhan stan untuk kuliner lokal disiapkan. Tapi hanya sesaat. Saat ulang tahun kota atau festival-festivalan. Hanya sehari, paling lama empat hari.

Keberpihakan pada kuliner lokal lalu sekadar mengisi kangen. Setelah itu para pedagang kecil kembali dibiarkan, tak diberikan tempat atau pendampingan. Di Bali dan sejumlah tempat wisata di Indonesia, makanan lokal masih lekat dengan stigma sanitasi. Turis enggan karena merasa tak terjamin kesehatannya.

Faktanya, sanitasi lebih banyak masalah edukasi. Pertama, apakah pembungkus makanan tradisional dari daun pisang dianggap kurang bersih? Malah ini jauh lebih aman dibanding kertas atau plastik. Para pengolah makanan di masa lalu memiliki teknologi juga ketika memasak dan menghidangkan.

Inilah kearifan sekaligus teknologi masa lalu yang harus dihidangkan sebagai atraksi kuliner. Bisakah para pelaku ekonomi kreatif bidang desain, tata boga, dan lainnya mendampingi sejumlah usaha kecil makanan tradisional untuk menunjukkan teknologi mereka pada khalayak? Membantu membuat warung atau stan yang menarik, membuatkan papan dan informasi produk, dan lainnya.

Misalkan, para penjual pepes ikan dan sate lilit misalnya memperlihatkan bagaimana mereka mengolah dahan daun kelapa menjadi tusuk sate. Menjadikan daun kelapa menjadi alas makan. Daun pisang batu sebagai pembungkus makanan. Lalu batang pisang atau biyu batu yang gurih dijadikan sayur Ares yang terkenal di set menu Betutu dan Babi Guling.

Rasanya tak sulit juga mengatur pedagang penganan tradisional ini dengan misalnya melarang berjualan di trotoar, lalu memberikan stan di pasar-pasar tradisional atau pusat kuliner khusus. Kemudian didampingi untuk penyajian dan informasi produknya.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *