Kicau #bani

Untuk bunda

Ceritcropped-bunda-bani-blog.jpga ulang tahun yang terlupakan

Hari Selasa sore itu sedang mandi. Oh ya, namaku Bani. Aku cepat sekali lupa ulang tahun orang tuaku. Aku Cuma ingat ulang tahunku saja dan kepentinganku. Seperti PR, sekolah, dan kebutuhan manusia (maksudnya pokok).

Ya, manusia itu kan juga suka lupa. Tapi cerita ini baru permulaan saja. Seperti bumi.

*banyak gambar, globe, kue ultah, lilin*

(page 1 of 3)

Episode dihipnotis

Saat hari Senin aku sedang di sekolah. Aku piket. Saat sudah selesai, aku melihat bundaku menunggu lama sekali. Saat pulang, aku mandi dan bundaku bilang, “Bani, ingat ulang tahun bunda?” Aku bilang aku tidak tahu. Continue reading Kicau #bani

Tentang poligami di Bali: 3 suami, 17 istri, 20 anak

bitterhoney

Potret kehidupan berpoligami di Bali dipotret Robert Lemelson dalam film Bitter Honey yang sedang dipertontonkan di bioskop-bioskop Amerika Serikat. Dalam sebuah diskusi bedah film ini di Denpasar, sejumlah aktivis anti kekerasan pada perempuan menyatakan UU Perkawinan harus diubah agar pria tak bisa mudah poligami.

Lemelson sejak awal menuturkan dengan runut alasan dan apa yang terjadi dalam pernikahan poligami. Antropolog dan film maker ini ini tak berniat mengarahkan penonton ke kesimpulan anti poligami.

Bahkan, di kisah pemeran pertama, Made Darma yang beristri lima, malah terlihat pria berbadan kekar seperti cowboy. Diperlihatkan Darma dilayani istri-istrinya dengan bangga dan memegang kendali dalam keluarga ini. Continue reading Tentang poligami di Bali: 3 suami, 17 istri, 20 anak

Svara Bumi di ibukota untuk #tolakreklamasitelukbenoa

Hastag #balitolakreklamasi beberapa kali direspon dengan komentar, “Tak hanya orang Bali kok yang tolak reklamasi.” Jadilah muncul #tolakreklamasitelukbenoa dan diboyong ke ibukota. Karena tak sedikit selebritis yang ingin menyuarakannya. Tanpa dibayar.

Selasa malam pukul 6.30, saya dan seorang kawan di Jakarta, Musfarayani berhitung waktu dan menimbang opsi transportasi menuju Kemang, Jakarta Selatan, lokasi Rolling Stone Café. Kami ingin menonton semua yang ada di panggung #konsersvarabumi sejak menit pertama.

Tapi kami sadar itu tak mungkin. Dari Jakarta Pusat menuju daerah padat Jaksel di jam pulang kantor dalam setengah jam? Benar saja, kami kehilangan orasi Saras Dewi, doctor muda UI berdarah Bali yang juga penyanyi ini. Juga tak bisa dengar hiphop cerdas Jogja @killthedj dan trio folks idaman tua muda @nosstressbali. Continue reading Svara Bumi di ibukota untuk #tolakreklamasitelukbenoa

Musik berkisah di beranda rumah

Pukul 6 pagi. Alarm hape jadul mencicit. Biasanya yang sudah bangun duluan Anton. Dia kerap bangun dini hari untuk buka laptop, tapi kalau tidurnya lebih awal maksimal pukul 9 lah.

Menjerang air, seduh kopi. Kemudian Bani bangun, dan terakhir Satori. Nah, si adik ini juga biasanya mencicit usai terjaga. Menangis, seperti orang kepupungan.

Saatnya hidupin tape. Selama beberapa bulan terakhir ini, tiga pemutar keeping CD dalam satu tape ini memutar Dialog Dini Hari/DDH (Tentang Rumahku), Tulus (Gajah), Pygmos (Kabar dari Hutan), Navicula (love Bomb), terakhir Nosstress (Perpektif Bodoh II). Selain Tulus, lainnya musisi indie Bali. Continue reading Musik berkisah di beranda rumah

Kenangan pada Sri dan Mimpi Boneka Jari

Senin (25/8) sore ini saya menelpon ke rumah singgah Yayasan Kasih Anak Kanker (YKAK) Bali. Ibu Rahayu, pengurus yayasan sedang tidak ada. Lalu saya berbincang dengan bu Emmy, kepala sekolah Sekolahku, program belajar semacam homeschooling di yayasan ini.

Saya ingin minta pendapat mereka mengenai keinginan untuk mengadvokasi kampanye pengadaan pelayanan kesehatan untuk pasien kanker di Lombok. Karena destinasi wisata yg konon internasional ini paling banyak menjadi tempat tinggal pasien kanker anak yang harus ke Bali, terancam putus sekolah karena lamanya proses pengobatan.

Lalu, kabar duka disampaikan, Sri, anak perempuan yang kami lihat sebentar di Sal Pudak RSUP Sanglah saat acara Merdeka dan Mandiri dengan Boneka Jari ini sudah meninggal. Saat itu, ibunya terlihat menangis sambil menunggui Sri yang terlihat sangat kesakitan. Intan membawakan boneka setelah mendapat izin perawat. Ia meninggal sore itu, sesaat setelah kami baru berkunjung ke rumah singgah YKAK, tempat tinggal sementara Sri.

Saya mengenalnya sebentar. Ketika pertama kali berkunjung ke Sekolahku, dan ini dia ulasan serta memori pada Sri. Ia akan bergabung di tembok foto “in memoriam” bersama temannya. Setelah berjuang dengan sangat keras melawan kanker.

 

===================================

Agar anak dengan kanker tak putus sekolah

Sejumlah anak dengan kanker yang harus menjalani perawatan panjang beruntung tak harus putus sekolah. Kini ada program Sekolahku, dibuat Yayasan Kasih Anak Kanker (YKAK) Bali setahunan ini.

Laily, anak perempuan ini baru saja ikut ujian nasional tingkat sekolah dasar di sekolahnya di Lombok Timur. Ia ke Lombok hanya untuk ikut ujian kelulusan ini beberapa hari karena tak pernah masuk sekolah seperti temannya. Continue reading Kenangan pada Sri dan Mimpi Boneka Jari

Gelisah dalam kenyamanan

dari web nosstress

Album ini sudah dikemas seperti sebuah pertunjukkan di atas panggung. Sebagai pembuka, Cok menyambut dengan buaian “Manipulasi Hati” bagi pengunjung.

“.. kau seperti dewa kau buat hidup ini berwarna. Kau bagai dewa kau buat orang terus bermimpi.” Setelah koor senang dan mulai termotivasi, Kupit mengajak minum kopi di beranda rumahmu. Aransemen ulang “Tanam Saja” yang membuat kita ingin mengelus capung yang entah di mana, sulit ditemukan karena air makin tercemar.

Tapi penonton masih tersenyum. Dan mungkin akan meledak tertawa ketika “Lagu Semut” didendangkan. Kemudian mendadak tersengat ketika merenungkan lagu ini tentang apa. Dan, makin sayang dengan semut hitam yang jalan-jalan di rumah. Haha. Tapi semut hitam di album ini memberi alarm pada situasi di pulau kecilmu ini.

Ketika investor berlomba membuat resor eksotis sampai membelah bukit seperti di Pantai Pandawa, ingin mengurug Teluk Benoa agar dapat sunset dan sunrise di tengah laut. Sementara di bawah kondominium, hotel, atau villa ada nelayan yang mengais sisa-sisa rumput laut yang rusak diterjang ombak.

Maka, kutipan Gandhi yang masyur memang jadi niscaya, bumi tak akan cukup untuk satu orang yang serakah.

Continue reading Gelisah dalam kenyamanan

“Ring Tinju” di Rencana Reklamasi untuk Siapa?

band nosstress dan made mawut di aksi forbali

Wayan Renten, menyebut dirinya tokoh masyarakat di Benoa tiba-tiba bangun dari kursinya dan berteriak pada Kadek Duarsa, anak muda Ketua LPM Benoa. “Hei, siapa kamu? Pembohong kamu. Baru kemarin sore kamu. Saya tokoh di Benoa,” teriaknya.

Ia menunjuk-nunjuk Duarsa dengan galak sembari minta dukungan dari rekannya untuk menyoraki anak muda yang membawa surat Sabha Desa Tanjung Benoa dan tanda tangan penolak rencana reklamasi di Teluk Benoa. Duarsa terlihat berusaha menahan kemarahannya, suaranya bergetar menunjukkan satu bundel surat itu. “Saya Ketua LPM,” sahutnya dengan gejolak amarah yang diredam agar tak meledak karena mungkin sebal ditunjuk-tunjuk dianggap bukan siapa-siapa. Karena masih muda dan sudah berani mengkritisi rencana reklamasi di depan forum resmi para pejabat-pejabat dari Jakarta ini. Continue reading “Ring Tinju” di Rencana Reklamasi untuk Siapa?

Ikhtiar Warga Desa Bungaya untuk Berkabar

bungaya blog

I Ketut Sarjana terhenyak. Pada halaman satu google terlihat judul berita BaliPost tentang sebuah kecelakaan bermotor. Sarjana yang akrab dipanggil Pak Mangku, karena menjadi Jro Mangku ini terlihat tegang.

Saya masih tertawa. Karena sejurus lalu, kami tertawa bersama tentang gaya hidup beli motor baru warga di sebuah banjar. Warga berseloroh, karena hampir semua lebih senang beli motor baru dari pada bekas, ada ungkapan, “jual tanah, beli motor.”

Latra, rekannya sesama pengurus desa bertanya,”bisa Pak Mangku tabah baca berita ini?” Saya bingung. Tapi masih tersenyum. Continue reading Ikhtiar Warga Desa Bungaya untuk Berkabar

Atraksi Kuliner Lokal

pesan tlengis anggabaya/luhde

Nyaris semua perempatan utama di Denpasar ada dua kompatriot atau lebih tepat sekutu perusahaan makanan cepat saji dengan bahan utama ayam. Padahal menunya hampir sama, tapi bisa mendapat lokasi sangat strategis, dan berdampingan di pusat kota.

Di sejumlah perempatan, papan nama perusahaan dengan neon box gemerlap berpadu dengan patung-patung pahlawan Bali seperti I Gusti Ngurah Rai yang gugur melawan penjajahan. Patung-patung ini biasa diletakkan di tengah perempatan jalan besar sebagai pengingat tentang heroism di tanah dewata.

Penjajahan masa kini berwajah baru. Salah satunya di industri pangan dan makanan. Tentang isi perut. Seorang pedagang soto pernah membuat spanduk tentang isi perut ini dalam bahasa Bali, Weteng Wareg Gumi Ajeg. Artinya perut kenyang, bumi pun tenang.   Continue reading Atraksi Kuliner Lokal

di mana pikiran beristirahat