Ikhtiar Warga Desa Bungaya untuk Berkabar




bungaya blog

I Ketut Sarjana terhenyak. Pada halaman satu google terlihat judul berita BaliPost tentang sebuah kecelakaan bermotor. Sarjana yang akrab dipanggil Pak Mangku, karena menjadi Jro Mangku ini terlihat tegang.

Saya masih tertawa. Karena sejurus lalu, kami tertawa bersama tentang gaya hidup beli motor baru warga di sebuah banjar. Warga berseloroh, karena hampir semua lebih senang beli motor baru dari pada bekas, ada ungkapan, “jual tanah, beli motor.”

Latra, rekannya sesama pengurus desa bertanya,”bisa Pak Mangku tabah baca berita ini?” Saya bingung. Tapi masih tersenyum.

Pak Mangku mengangguk, tanda setuju untuk membuka link berita itu. Tanpa rasa curiga apa pun, saya klik link berita itu. Ternyata itu berita peristiwa kecelakaan anaknya Maret tahun lalu.

“Honda Inkomda tewas tabrakan.” Itu judul beritanya. Ternyata kepanjangan dari honor daerah (PNS honorer) yang bertugas di Dinas Inkomda. Agak garuk-garuk kepala membaca judulnya.

Pak Mangku maju ke depan layar untuk bisa membaca dengan jelas. Berita hanya 3 paragraf dengan satu narasumber polisi ini dibacanya agak lama. Rekannya bertanya, “benar beritanya, pak?” Pak Mangku mengangguk. Baru pertama kali ini ia tahu ada berita tentang kecelakaan alm anaknya itu.

Ini kali pertama juga Pak Mangku melihat bagaimana mesin pencari informasi bekerja. Kami ingin melihat, apa saja berita tentang banjar dan desa mereka, Bungaya di Karangasem. Salah satu desa tua dengan kekayaan tradisi di Bali Timur.

Kelas Jurnalisme Warga edisi #21 pada 4-5 April ini dihelat di Kantor Desa Bungaya, sekitar 65 km dari Denpasar. Latra, pendiri Yayasan Pusat Pengembangan Disabilitas (Puspadi) Bali yang dulu bernama Yakkum Bali juga adalah pengurus Lembaga Pemberdayaan Desa (LPM) Bungaya.

Ia berinisiatif ingin mengembangkan media informasi dan komunikasi desa dan minta Sloka Intitute membuat kelas yang sama seperti pernah dilaksanakan di Puspadi Bali. Ketika itu, kelas menulis ini diberikan pada 15 difabel yang akan magang kerja di sejumlah perusahaan. Program softskill Puspadi tiap tahun.

Latra menyebut masih banyak hal unik atau kegiatan desa yang belum dipublikasikan dengan baik. Termasuk opini-opini warga tentang masalah desa, keinginan untuk berkembang, dan berinteraksi dengan publik lebih luas.

Sejujurnya, pelatihan di Desa Bungaya ini paling menantang saya selama lebih 3 tahun kelas jurnalisme warga yang didukung Iam An Angel (IAA), sebuah komunitas filantropis ini. Karena, di kelas kali ini sebagian besar mengaku tidak punya ketertarikan pada menulis dan mengelola media. Sebanyak 10 peserta mendaftar atau didaftarkan oleh LPM, kemudian hanya 8 yang aktif. Peserta beragam usia dan pekerjaan, paling banyak pria berusia lebih dari 40 tahun.

Dari curah pendapat, ada yang mengaku hanya ikut-ikutan. Kemudian ada yang ingin melaporkan hasil kerja di PNPM Mandiri. Juga ikut karena mewakili staf desa.

Saya sangat menghargai kejujuran mereka. Namun saya tak ingin menyerah. Saya meyakini, mereka tak terlalu tertarik karena belum tahu. Belum tahu jika media dan informasi yang dibuat sendiri memberikan mereka sesuatu. Bahkan ini menantang adrenalin saya, menunjukkan bahwa membuka jendela informasi dan mendorong kepercayaan diri untuk mendokumentasikan adalah modal penting dalam berkegiatan.

Di hari ke-2, pada sesi pelatihan internet, untuk kali pertama peserta bisa online per laptop karena bekal modem dari IAA. Memang tak semuanya bisa lancar koneksinya. Namun, satu blog dengan nama HarmoniBungaya bisa dibuat. Ada satu artikel dari peserta, artikel perdana tentang berbagi kebahagiaan untuk anak-anak SD setempat oleh LPM dan IAA.

Blog ini menurut saya bisa jadi rumah induk dari dua grup di facebook yang sudah ada soal Bungaya. Di antaranya Bungaya Santhi oleh anak mudanya dan Krama Perantauan Bungaya. Cikal bakal penyebar gagasan dan gerakan mereka nanti.

Yang lebih menarik sebenarnya upaya kolaborasi di kelas jurnalisme warga kali ini. Ini juga untuk kali pertama, IAA tak hanya datang untuk sharing di kelas tapi bertatap muka dengan anak-anak, pengurus desa, camat, dinas pendidikan,  dll untuk mendorong perubahan. Misalnya mengajak mengumpulkan sampah plastik, memberi perhatian pada gizi anak, dan lainnya. Memang, mereka sudah melakukan ini tiap pekan di desa-desa lain.

Titik perhatian saya adalah inovasi dan dinamika kelas pewarta warga ini. Kemudian warga desa sendiri mendokumentasikan apa yang dilihat dan dirasakan untuk dibagi ke masyarakat luas. Di sisi lain, ada tokoh masyarakat yang juga ingin membuat program-program kreatif untuk memecahkan masalahnya.

Saya pikir ini adalah cara kerja masyarakat madani. Saya beruntung terlibat sedikit di dalamnya. Jadi, IAA dan LPM Desa Bungaya, ayo lanjutkan menumbuhkan benih yang mulai ditanam.

 

 

 

One thought on “Ikhtiar Warga Desa Bungaya untuk Berkabar”

  1. kasian pak mangku. sekalinya baca berita justru ttg berita duka. seharusnya, dia dan warga desa bungaya lain bisa lebi banyak bercerita lewat media jurnalisme warga. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *