Svara Bumi di ibukota untuk #tolakreklamasitelukbenoa




Hastag #balitolakreklamasi beberapa kali direspon dengan komentar, “Tak hanya orang Bali kok yang tolak reklamasi.” Jadilah muncul #tolakreklamasitelukbenoa dan diboyong ke ibukota. Karena tak sedikit selebritis yang ingin menyuarakannya. Tanpa dibayar.

Selasa malam pukul 6.30, saya dan seorang kawan di Jakarta, Musfarayani berhitung waktu dan menimbang opsi transportasi menuju Kemang, Jakarta Selatan, lokasi Rolling Stone Café. Kami ingin menonton semua yang ada di panggung #konsersvarabumi sejak menit pertama.

Tapi kami sadar itu tak mungkin. Dari Jakarta Pusat menuju daerah padat Jaksel di jam pulang kantor dalam setengah jam? Benar saja, kami kehilangan orasi Saras Dewi, doctor muda UI berdarah Bali yang juga penyanyi ini. Juga tak bisa dengar hiphop cerdas Jogja @killthedj dan trio folks idaman tua muda @nosstressbali.

Apa daya, ibukota metropolutan memang tak bisa diharapkan dalam hal kelancaran transportasinya. Hal yang sama mulai  nampak di kota Denpasar. Ratusan kendaraan baru tiap hari, ruas jalan tak bertambah, dan minim angkutan public. Ini soal waktu, sampai pemerintah berencana membuat jalan tol seperti di Bali selatan.

 

Setelah memasukkan donasi Rp 100 ribu per orang dalam kardus, kami mendapatkan stempel bertuliskan “LAWAN!!” dari penjaga pintu. Sepertinya ini stempel milik @taman_baca Kesiman (TBK) pernah dapat juga ketika fundraising sejenis untuk kampanye #tolakreklamasitelukbenoa di sana.

Stempelnya mirip tinta pemilu, masih berbekas keesokan harinya walau sudah digosok pas mandi. Hehe

Di dalam arena belakang café Rolling Stone Indonesia (RSI) ini penonton hampir penuh. Kami langsung mendapat Navicula yang baru naik panggung. Hanya enam lagu paling popular tanpa track “Harimau” yang disukai anak 2 tahunan saya, Satori. Penonton kanan kiri juga meneriakkan Harimau tapi agaknya Roby disiplin waktu.

Roby tak banyak ngobrol juga, padahal biasanya lucu sekaligus bernas di tiap jeda lagu. Penonton juga masih ingin stagediving setelah Kali Mati, Metropolutan, Orangutan, dan 3 lainnya.

Kemudian muncul Cinta Ramlan, saya baru pertama menonton penyanyi perempuan yang mukim di Bali ini. Dia sempat duet dengan Djenar Maesa Ayu untuk syair yang penggalannya, kuraang lebih “Jadilah Ratu. Perempuan sering diperdaya…..” Kurang terdengar jelas karena pake TOA. Saya meyakini ini doa untuk ingatan pada ibu bumi yang terkoyak.

Cinta Ramlan dan Djenar berbaju hitam dengan aksesoris semacam kalung perak di rambut. Seksi dan bertenaga.

Oya, di tiap jeda muncul duo penyiar @solehsolihun-arie dagienkz yg spontanitasnya tak pandang bulu. Penonton, artis, dan crew diubek-ubek. Menciptakan kesan egaliter, keren juga comedian era baru ini.

Berikutnya giliran Melanie Subono. Perempuan feminis cum aktivis, model, dan penyanyi ini baru beberapa hari lalu buat spontanitas aksi ngamen di Jakarta untuk #tolakreklamasitelukbenoa. Mereka mengumpulkan jutaan dalam beberapa jam.

Malam ini, ia kembali tampil sukarela. Seperti semua penampil lainnya. Artis-artis yang biasanya bayaran per panggungnya minimal belasan-puluhan juta. Rakyat Bali berbangga.

Saya tumben melihat Melanie di panggung. Puluhan anak muda langsung merangsek, merekam dengan hp, dan berebutan naik panggung saat diajak nyanyi. Gaya propagandanya menarik. Dia bicara pada penonton seperti karib. “Ini bukan soal Bali, bentar lagi tanah di daerah lo yang dikoyak,” serunya santai. Melanie juga kerap spontan ejek-ejekkan dengan penonton di barisan depan. Ngomel tapi ngangenin, ibaratnya begitu.

Jeda sebentar, lanjut @seringai. Saya memerhatikan gaya gitarisnya Ricky Siahaan, karena managing editor RSI ini baru saja membagikan gitar pada belasan komunitas di Bali dalam program 1000 gitar untuk anak Indonesia. Kontras dengan kegaharannya main bersama Seringai. Kami berdua serta merta terdesak ke belakang karena kaum serigala militia ini membuat playground untuk headbang. Memang militant.

Pukul 22.00 lebih sedikit, tetiba di twitter sudah ratusan yang meretwit cuitan @iwanfals yang mengunggah sebuah foto konser diambil dari balkon RSI café dengan kalimat “bali tolak reklamasi.” Huaaa benar, ini dia tamu misteriusnya.

Kabarnya manajemennya tak mau kehadiran Iwan diumumkan sebelum konser. Mungkin karena venue hanya bisa nampung 1500an orang saja. Sudah empet-empetan dengan penikmat rombongan artis di atas.

Iwan, seperti biasa, orasinya adalah syair dan lagu itu sendiri. “Pembangunan juga sumber penderitaan. Langkah Bali ini membuka cakrawala. Saya sedang mencari proses keseimbangan dari hidup yang fana ini,” khotbahnya. Ia tampil solo, nyanyi sambil main gitar. Rambut dan jenggot putihnya awut-awutan, dengan tshirt #Balitolakreklamasi, dan menggetarkan.

“Aku tak mau terlibat persekutuan manipulasi. Aku tak mau terlibat pengingkaran keadilan. Aku mau jujur saja, bicara apa adanya,” Hio Hio Hio bersahutan di udara.

Persekutuan manipulasi ini memang sedang dipertontonkan di rencana proyek reklamasi di Teluk benoa ini. Hampir dua tahun, gerakan @forbali13 menelisik adanya keanehan. Misalnya bolak-balik surat rekomendasi dan keputusan tentang pemberian izin pemanfaatan pada investor tanpa diketahui publik. DPRD Bali dan Gubernur saling tuding. Sampai akhirnya Presiden SBY pun mengeluarkan Perpres yang mengganti aturan konservasi jadi pemanfaatan terbatas alias lampu hijau reklamasi.

 

Dalam rundown, direncanakan ada Gendo yang akan bersuara di panggung. Entah kenapa ini tak ada. Langsung dilanjut Superman Is Dead yang menjadi pemuas outsider loyalnya di mana pun. Sebagai penutup, “bangun Bali subsidi petani, kita semua makan nasi, bukannya butuh reklamasi,” berkumandang.

Di luar panggung, ada puluhan aktivis hukum, lingkungan, dan lainnya menyebar di sejumlah sudut. Mereka juga berdonasi dan kadang ikut ajojing dalam perlawanan tanpa kekerasan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *