Bali Masih Dihantui Ribuan Anak Putus Sekolah

Ni Kadek Sinta, anak perempuan 13 tahun ini bekerja sebagai tukang suun (buruh angkut) di Pasar Badung selama 11 jam per hari.  Dari tengah hari sampai tengah malam, tanpa waktu libur. Ia hanya mengenyam bangku sekolah dasar sampai kelas 4.

Demikian juga dua adik perempuannya, yang harus membantu ibunya yang juga tukang suun di pasar terbesar di Bali dan beroperasi 24 jam itu.

Sedikitnya ada 50 tukang suun anak putus sekolah atau tak sekolah sama sekali di Pasar Badung saja. Belum lagi sekitar 100 anak lain yang bekerja sebagai pedagang buah keliling di seputaran Denpasar dan Badung. Continue reading Bali Masih Dihantui Ribuan Anak Putus Sekolah

Mengenang Mari, Seniman Bali asal Jepang

I Kadek Suardana, seniman kontemporer serba bisa ini masih menunjukkan sisa sembab di wajahnya. Pada para tamu yang datang silih berganti mengucapan duka cita, Ia memaksa untuk menyambut dengan senyuman. Kadek amat terpukul setelah kehilangan Mari Nabeshima, istrinya dan pasangan tarinya di rumah.

Begitu juga ketika Wakil Gubernur Bali, AA Puspayoga kembali datang melihat jenasah Mari Nabeshima, istrinya pada Senin. Sebelumnya Puspayoga dan istrinya menemani Mari ketika menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Daerah Wangaya, Denpasar pada Minggu (4/7) dini hari. Mari meninggal karena dengue shock syndrome (DSS), akibat serangan nyamuk demam berdarah yang membuatnya tiba-tiba kehilangan kesadaran dengan cepat. Continue reading Mengenang Mari, Seniman Bali asal Jepang

I’am (only) 35 days single parent, hore…

Mendengar kabar beberapa hari ia akan kembali sungguh menyenangkan. Dua minggu terakhir ini aku sudah menghitung hari.  Rasanya tak tahan lagi. Hm, ini mirip sebuah lagu. Ingat jingle-nya tapi lupa penyanyinya.

Hampir tiap hari aku bersama Bani, termasuk mengajaknya ke tempat kerja. Dan memarahinya (dengan rutin, rata-rata 2 kali sehari) seminggu terakhir.  Sumber kemarahanku, coba kuingat-ingat dulu. Pertama, kalau Bani lemot.

Contohnya, pagi-pagi pas ke warung mo beli bahan masakan, Bani yang lagi nonton teve atau main laptop teriak minta ikut. Trus, aku yang sedang di sadel motor menunggunya dengan meriang karena dia pasti bengong dulu di depan pintu, main-main dengan sandalnya, kadang malah pake duduk. Dipanggil, gak nyahut. “Bani, ikut ndak?” kataku sambil berancang-ancang. “Bundaa…..(melolong) ikut,” masih males-malesan, bukannya mempercepat. Continue reading I’am (only) 35 days single parent, hore…

Gunakan Kekuatan Tanganmu! (Angkatan III)

Sebab dengan tulisan-tulisan, kamu bisa mengabarkan banyak hal. Cerita pribadi, tempat bersantai, masalah kota, sampai curhat. Apa saja bisa kamu tulis ala Jurnalisme Warga, di mana warga tak hanya jadi objek berita tapi sekaligus penulisnya.

Tak usah takut tulisanmu tidak menarik. Menulis itu karena kebiasaan, bukan hanya soal berbakat atau tidak. Kini waktunya kamu belajar. Sebab Sloka Institute pengelola blog jurnalisme warga Bale Bengong bekerjasama dengan I’m an Angel, akan mengadakan Kelas Menulis Jurnalisme Warga Angkatan III.

Materinya tentang teori dasar jurnalistik seperti menulis berita langsung dan berita kisah maupun tentang jurnalisme warga. Bukan hanya belajar teori, peserta akan langsung praktik menulis dipandu pemateri dan fasilitator berpengalaman. Selain jurnalisme, peserta juga dilatih membuat blog untuk mempublikasikan karyanya dan sebagai jurnal harian.
Continue reading Gunakan Kekuatan Tanganmu! (Angkatan III)

Setelah Ada UU KIP, Apakah Jadi Terbuka?

Apa dan Bagaimana? Mulai Mei 2010 tiap Badan publik harus sudah siap memenuhi informasi publik sesuai UU No 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP).  Inilah hasil diskusi SLoka Institute dengan teman-teman LSM dan media di Bali hampir setahun lalu.

Apa itu Informasi Publik? adalah informasi yang dihasilkan, disimpan, dikelola, dikirim, dan/atau diterima oleh suatu badan publik yang berkaitan dengan penyelenggara dan penyelenggaraan negara dan/atau penyelenggara dan penyelenggaraan badan publik lainnya yang sesuai dengan Undang-Undang ini serta informasi lain yang berkaitan dengan kepentingan publik.  Siapa Badan Publik? Continue reading Setelah Ada UU KIP, Apakah Jadi Terbuka?

Musim Gugur Buruh Jurnalis Indonesia

Tahun 2010, boleh dibilang, sebagai musim gugur pekerja media di Indonesia. Jika pada kurun
November 2008-April 2009, AJI mencatat hanya ada 100 pekerja media yang dipecat, kini data tersebut kian melonjak tajam. Berdasarkan data yang dihimpun AJI Indonesia, PHK massal dan skorsing bernuansa union busting melanda sedikitnya 217 pekerja stasiun teve Indosiar.

PHK massal juga dialami 144 pekerja koran Berita Kota pasca diakuisisi Kelompok Kompas Gramedia (KKG), 50-an pekerja Suara Pembaruan dan kelompok media grup Lippo lainnya, serta puluhan pekerja stasiun teve Antv. Continue reading Musim Gugur Buruh Jurnalis Indonesia

Warnai World Silent Day dengan Caramu Sendiri

Novia Claudia Wijaya, 16 tahun, sibuk menjawab pertanyaan kenapa harus mematikan handphone selama empat jam, Minggu, di Vihara Vimalakirti, Kabupaten Badung. Remaja perempuan ini sudah tak asing dengan pertanyaan seperti itu karena hal yang sama juga dihadapinya seminggu ini di sekolahnya, SMAK Harapan Denpasar.

Sejak seminggu terakhir ini ia giat menggalang 10 juta tanda tangan untuk World Silent Day (WSD). “Karena sulit meminta orang menonaktifkan handphone, walau cuma 4 jam hari ini, kami akan memungut sampah plastik saja dia areal vihara,” ujar Novia.
Continue reading Warnai World Silent Day dengan Caramu Sendiri

Wartawan Perempuan Legendaris di Nusantara

Perkembangan jurnalisme Indonesia tidak lepas dari kontribusi jurnalis-jurnalis perempuan. Sejumlah nama wartawan perempuan legendaris mewarnai perjalanan pers di tanah air. Siti Roehana Koeddoes misalnya adalah tokoh pendidik dan jurnalis perempuan di Sumatera Barat. Minatnya terhadap aktivitas intelektual bermuara pada pendirian sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) yang dibentuk pada 1911. Di sini ia mengajarkan baca tulis, budi pekerti, dan berbagai keterampilan lainnya.

Tak berhenti di situ saja. Pada 10 Juli 1912, Roehana bersama Ratna Djoewita menerbitkan surat kabar Soenting Melajoe, yang artinya ‘Perempuan di Tanah Melayu’. Melalui tulisan-tulisannya di Soenting Melajoe, Roehana mengangkat berbagai masalah seputar kehidupan perempuan ke dalam tulisan-tulisannya. Dunia jurnalisme Indonesia juga merasakan pulasan dari sejumlah nama besar lainnya. Sebut saja SK Trimurti dan Herawati Diah. Mereka berjuang pada masanya untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan lewat pers. Continue reading Wartawan Perempuan Legendaris di Nusantara

Gunakan Kekuatan Tanganmu

Kelas Jurnalisme Warga Angkatan II Telah Dibuka:
Gunakan Kekuatan Tanganmu!

Sebab dengan tulisan-tulisan, kamu bisa mengabarkan banyak hal. Cerita pribadi, tempat bersantai, masalah kota, sampai curhat. Apa saja bisa kamu tulis ala Jurnalisme Warga, di mana warga tak hanya jadi objek berita tapi sekaligus penulisnya.

Tak usah takut tulisanmu tidak menarik. Menulis itu karena kebiasaan, bukan hanya soal berbakat atau tidak. Kini waktunya kamu belajar. Sebab Sloka Institute pengelola blog jurnalisme warga Bale Bengong, akan mengadakan Kelas Menulis Jurnalisme Warga.

Materinya tentang teori dasar jurnalistik seperti menulis berita langsung dan berita kisah maupun tentang jurnalisme warga. Bukan hanya belajar teori, peserta akan langsung praktik menulis dipandu pemateri dan fasilitator berpengalaman. Selain jurnalisme, peserta juga dilatih membuat blog untuk mempublikasikan karyanya dan sebagai jurnal harian.

Kapan?
Sabtu-Minggu, 20-21 dan 27-28 Maret 2010 (empat kali pelatihan)
Pukul : 13.00-16.00 WITA Continue reading Gunakan Kekuatan Tanganmu

Pluralisme di Sulut: Kebajikan Fernando dan Bukit Kasih

Fernando, remaja pria 14 tahun ujug-ujug menyambut dengan sangat ramah di pintu masuk Bukit Kasih, sekitar 50 km selatan Kota Manado, Sulawesi Utara. Keramahannya adalah kelihaiannya bercerita. Langkah kaki guide cilik di kawasan wisata alam dan spiritual di Desa Kanonang, Kecamatang Kawangkoan, Kabupaten Minahasa ini sangat ringan sepanjang menapak ratusan anak tangga. Sebuah tas kresek besar berisi lusinan kaos bergambar Bukit Kasih digamitnya santai.

Dari mulutnya meluncur tanpa henti hikayat Bukit Kasih, sebuah mitologi tentang kasih dan persaudaraan. Alkisah ketika bukit masih kosong ada seorang peri bernama Kerawa. Lalu ada anak dan ibu, Toar dan Lumimuut, yang kemudian disebut sebagai nenek moyangnya Minahasa. Kerawa memberikan sebuah tongkat untuk mereka, yang lalu dibagi dua bagian. Continue reading Pluralisme di Sulut: Kebajikan Fernando dan Bukit Kasih

di mana pikiran beristirahat