"Jangan Baca Berita Tanda Bintang"

jangan-baca-1.jpg

Gerakan ini didedikasikan untuk pembaca surat kabar yang telah dibodohi karena membaca tulisan pesanan. Perhatikan tiap berita yang mencoba memanipulasi pembaca dengan menyertakan tanda bintang (*) di akhir artikel.

Makin banyak media yang berani menurunkan berita pesanan (yang bisa dibeli) tanpa memberi tanda bahwa itu advetorial atau berita iklan. Bahkan, berita itu tidak biberi garis api-tanda tegas untuk membedakan iklan dan berita.

Tragisnya lagi, berita tanda bintang makin merajalela, tak lagi malu-malu. Berita iklan kini di halaman depan alias headline!

Maka dari iru, demi manusia yang makin tengik, bumi yang makin terbakar dengan gombal dan narsis yang tak beradab, sudahilah membaca artikel tanda bintang. Kalau perlu, jangan beli korannya.

Bersama Lucy Sepanjang Hari

Lucy, 20 tahun, perempuan ranum berambut cokelat. Kakinya jenjang, tubuhnya atletis. Sorotannya teduh. Menemani Bani, Ayah, dan aku sepanjang hari ia tak mengeluh. Bahkan ketika petir dan kilat menyambar-nyambar tubuhnya Minggu sore (23/3) kemarin.

Langit biru yang cerah tiba-tiba menghilang cepat. Selimut mendung segera menitikkan hujan. Belum lima menit, rintik berubah menjadi deras. Gemuruh petir menambah muramnya sore itu.

Kami dipaksa hengkang dari Puri Pemecutan oleh hujan. Padahal belum ada informasi apa pun soal puri megah ini. Kami hanya menerka-nerka kejadian-kejadian yang terjadi sebelumnya di rumah Raja Pemecutan. Sebuah mural soal pruralisme lah satu-satunya cerita yang menemani kami sore itu. Continue reading Bersama Lucy Sepanjang Hari

Pengalaman Pertama Pake Alat Kontrasepsi Dalam Rahim

Akhirnya tiba juga waktunya aku mencoba IUD alias alat KB pasang. Pagi tadi sekitar jam 9 aku dah nongkrong di Klinik PKBI, Gatsu IV.

Sesuai anjuran petugas jaga klinik PKBI saat pertama datang, aku disuruh pasang KB jenis ini pada hari ke-3 masa menstruasi. ”Biar gampang pasangnya. Kalau nggak, dokter pasti nggak mau pasang karena susah masukinnya,” begitu kata si ibu petugas pos pendaftaran.

Nah, inilah waktunya. Padahal aku udah takut karena telat menstruasi sebelumnya. Untung deh, ternyata tidak ada kesalahan penggunaan kondom. Hehe Continue reading Pengalaman Pertama Pake Alat Kontrasepsi Dalam Rahim

Spa Berjalan Men Tunjung

Hampir 30 tahun ini Men Tunjung membawa kesegaran dari rumah ke rumah. Berbekal dua toples ramuan tradisional ia menyusuri jalan-jalan seputaran Denpasar. Peluhnya berbuah wangi kenanga di tubuh pelanggannya.

Sekitar pukul 10 pagi ia bersiap dari rumahnya di kawasan Batubulan, Gianyar, menuju sejumlah tempat tinggal pelanggan jasa kecantikannya. Men Tunjung sendiri tak menunjukkan citra sebagai seorang ahli kecantikan. Tubuhnya terbalut kamen (sarung tradisional Bali), baju kebaya lusuh plus sehelai handuk yang kadang terlilit di kepalanya. Continue reading Spa Berjalan Men Tunjung

The Beginning…

Februari Maret ini dipenuhi dengan kemungkinan-kemungkinan. Pertama kemungkinan masa yang suram dalam upayaku untuk menambah saldo untuk permak rumah. Ah, ini mah bukan kemungkinan lagi. Udah pasti nok….

Lalu, pindah kantor Sloka ke Noja Ayung. Kantor sebelumnya di Drupadi sudah habis kontrak, dinaikkan harganya ma broker, service buruk, suasana muram durja, lalu apa yang perlu dipertahankan? No execuse. Harus pindah! Yang lebih murah, long term office, menghemat biaya operasional, minimalis (merujuk ke semua hal yang serba minimal bukan interior). Continue reading The Beginning…

Pekerja Seks dan Pelanggan: Mencegah HIV/AIDS Masuk Rumah

foto-blog-psk1.jpgfoto-blog-psk1.jpg

Lokasi transaksi seks (lokalisasi?) itu nyata ada dan telah hidup menghidupi masyarakat sekitarnya sejak 1975. Di tengah pemukiman penduduk, sekolah dasar, SMA, SMP, tempat ibadah, hotel, dan remaja yang menikmatinya.

Daerah transaksi seks ini akrab disebut Carik, karena dulu berdiri di tengah-tengah sawah. Persawahan itu kini menjadi perumahan yang padat. Saking padatnya, ruas-ruas gang semrawut dan sepeda motor kesulitan melaluinya. Continue reading Pekerja Seks dan Pelanggan: Mencegah HIV/AIDS Masuk Rumah

Anakku, Jangan Jadi Tukang IT ya

Ayah suka kalau Bani udah ngobrak-abrik PC, laptop, nyopot kabel-kabelnya. “Ntar jadi hacker ya,” serunya girang. Kini, setelah ngobrol ma isoul, aku gak terlalu girang dengan dunia IT yang boom itu.

Isoul yang kartunis dan desainer yahud itu cerita kalau dia nggak terlalu ngoyo juga ngayuh duit dari dunia IT. Padahal kesempatan dan bakatnya nyambung banget. Isoul bisa jadi salah satu figur masa depan dunia IT. Dia bisa nulis, mrogram, bikin kartun, ngdesain, utak atik html, dan sebangsanya. Continue reading Anakku, Jangan Jadi Tukang IT ya

Dont Marry Rock Star – a Tribute for Nyonya M

Pagi-pagi di Subak Dalem. Kita bertiga ngobrol di meja makan. Ayah nyeletuk komporannya Andre Ramayadi di blognya. Isinya begini,

Apakah anda seorang fans berat Ahmad Dhani dan merupakan seorang blogger? Jika ya, maka lebih baik mulai sekarang singkirkan Ahmad Dhani dari list artis / musisi favorit anda. Mengapa ? karena pada hari ini 20 Februari 2008, pkl 12.45 salah satu televisi swasta dalam siaran infotainmentnya

menyiarkan statement yang keluar dari mulut sang bintang, berikut cuplikannya :

“Orang yang membuat blog di Internet adalah orang yang kurang kerjaan”
“Orang yang membaca blog di Internet adalah orang-orang bodo!” (komen untuk blog Maia)

Aku ngakak. Kesenengan dengan kekalahan Dhani. Akhirnya… Continue reading Dont Marry Rock Star – a Tribute for Nyonya M

Sad Ending

Kunjungan saya ke kantor KPA Bali, Jl Melati pada Senin (18/2) Februari lalu itu benar-benar menjadi klimaks. Sad ending. Penyesalan dan kekecewaan saya membuncah.

Padahal hari itu saya membawa semangat yang bertumpuk ke KPA. Saya merencanakan akan membuat beberapa artikel Lentera media cetak dengan tenang sambil makan siang. Saya mengemas makan siang dari rumah, lengkap dengan air minumnya. Tumben banget, padahal saya biasanya selalu minta air di Rai-IHPCP. Nggak tahu, mungkin saking semangatnya mau menghabiskan setengah hari itu di KPA. Continue reading Sad Ending

di mana pikiran beristirahat