"Jangan Baca Berita Tanda Bintang"




jangan-baca-1.jpg

Gerakan ini didedikasikan untuk pembaca surat kabar yang telah dibodohi karena membaca tulisan pesanan. Perhatikan tiap berita yang mencoba memanipulasi pembaca dengan menyertakan tanda bintang (*) di akhir artikel.

Makin banyak media yang berani menurunkan berita pesanan (yang bisa dibeli) tanpa memberi tanda bahwa itu advetorial atau berita iklan. Bahkan, berita itu tidak biberi garis api-tanda tegas untuk membedakan iklan dan berita.

Tragisnya lagi, berita tanda bintang makin merajalela, tak lagi malu-malu. Berita iklan kini di halaman depan alias headline!

Maka dari iru, demi manusia yang makin tengik, bumi yang makin terbakar dengan gombal dan narsis yang tak beradab, sudahilah membaca artikel tanda bintang. Kalau perlu, jangan beli korannya.

24 thoughts on “"Jangan Baca Berita Tanda Bintang"”

  1. benar..
    biasanya keterangan tanda bintang itu ditulis kecil-kecil.
    menggiring opini kita untuk langsung percaya dengan bahasa iklan mereka..

    salam,..

  2. ayo, bu. kita hajar terus.. 😀

    @ devari: di online tetep keliatan bintangnya kok. tp msh mendinglah kalo online. kan tdk perlu beli korannya. 😀

  3. saya suka beli koran baca lowongan kerjaannya..
    tapi nggak pernah liat tanda bintangnya bu bani..

    tapi saya akan mendukung ini..
    MERDEKA.!!!

  4. to febra, tehaha, devari, budarsa, yanuar, anton, dipoetraz, winyo, dek didi:
    jangan lupa tolong sebarkan kampanye ini ya. copy bannernya dong. soalnya belum ada yang berani protes sama media yang makin gila mata duitannya. kasian pembaca yang gak tahu arti tanda bintang itu. suksma.

  5. blog saya ga ada tanda bintangnya kok…
    coba aja lihat di Baliage…
    semua bebas bintang..wuekekekekek. 😆

    by the way,on the way,bus way…
    gimana kalo Pan Bani dapat pesanan berita mbok..??isi bintangnya ga…??

  6. blogdokter: tidak hanya BP, nyaris semua media di bali mulai banyak tanda bintangnya. memang yang laris BP group.

    ghozan: iyah

    ady gondronk: ***** perlu dicek juga

  7. saya tidak ada pilihan lain mbok selain membaca balipost. ada saran lain untuk dibaca yang membahas perkembangan bali ga mbok? tapi yang benar – benar objektif. balipost agak – agak -tiiittttt- (sensor) beritane mbok …

  8. hmmm kurang mengerti dgn kode etik jurnalistik, di zaman sekarang semua nya dijadikan lahan sumber duit dan promosi, karna itu adalah cara jitu untuk bisa meraih keuntungan dan bonefit.

  9. wah keras banget nih bro… sejujurnya sih wajar aja kalo koran masang berita iklan, kan mereka juga butuh pendanaan… kalo gak ada iklan ya gak ada koran juga…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *