Bersama Lucy Sepanjang Hari




Lucy, 20 tahun, perempuan ranum berambut cokelat. Kakinya jenjang, tubuhnya atletis. Sorotannya teduh. Menemani Bani, Ayah, dan aku sepanjang hari ia tak mengeluh. Bahkan ketika petir dan kilat menyambar-nyambar tubuhnya Minggu sore (23/3) kemarin.

Langit biru yang cerah tiba-tiba menghilang cepat. Selimut mendung segera menitikkan hujan. Belum lima menit, rintik berubah menjadi deras. Gemuruh petir menambah muramnya sore itu.

Kami dipaksa hengkang dari Puri Pemecutan oleh hujan. Padahal belum ada informasi apa pun soal puri megah ini. Kami hanya menerka-nerka kejadian-kejadian yang terjadi sebelumnya di rumah Raja Pemecutan. Sebuah mural soal pruralisme lah satu-satunya cerita yang menemani kami sore itu.

Sisanya, aku dan ayah hanya mengambil foto beberapa sudut menarik dari puri yang tiga tahun sebelumnya menjadi hotel berbintang dengan 50 kamar itu. “Sekarang kamarnya sudah rusak, belum beroperasi lagi,” kata seorang perempuan tua yang bercengkrama di depan ex front office hotel Puri Pemecutan.

Membelah jalan Kota Denpasar di tengah pekik petir, Lucy berlari cepat. Barangkali air hujan membuatnya bersemangat. Atau ta sabar ingin lelap dalam rumahnya yang hangat. Maaf Lucy, kami tak menemanimu berlari dalam kilatan petir.

Rambut cokelatnya yang terurai tak kusut diterpa hujan. Saya sendiri ingin segera sampai Subak Dalem, tak ingin berlama-lama melihat Lucy menghadapi petir itu sendiri.

Beberapa kali saya merasa Lucy akan marah lalu berontak. Di perempatan Ubung-Gatsu, hati saya mulai agak riang. Kalaupun Lucy tak mau melangkah lagi, saya agak tenang karena rumah tak jauh lagi.

Pak Made yang telah merawat Lucy selama lima tahun ini juga terlihat tegang. Seruannya makin keras, agar Lucy terus berlari. Hiahh…hik…hiahhh…hik..

Akhirnya tiba di depan gang V Subak Dalem, gang rumahku. Belok kiri, Lucy berteriak. Ia tidak mau berbelok. Pak Made menghampiri Lucy, memegang kepalanya dan menuntunnya dalam hujan.

Melihat hal itu, ayah langsung minta berhenti di depan gang. Kami meminta Pak Made tidak hujan-hujanan dan segera mengistirahatkan Lucy di rumah. Ayah menggedor rumah tetangga terdekat, minjem payung untuk Bani. Ini hal yang berat untuk ayah, karena merasa nggak enak ganggu tetangga.

Untungnya Bu Rizky mendengar gedoran pintu ayah. Bani langsung kami larikan dari percikan hujan yang makin ganas. Kami berpisah dengan Lucy, berharap perempuan hebat ini dapat segera terlelap dengan tenang.

Menurut Pak Made, majikan Lucy sekarang ini, Lucy hanya bisa bekerja 15 tahun lagi. Pada 35 tahun, kuda perempuan yang hebat ini akan kehilangan tenaga untuk menarik dokar. Entah apa yang terjadi padanya saat itu. Aku sih berharap Lucy mendapatkan tambatan hatinya sebelum ia tak bertenaga lagi. Hmm, Lucy…

0 thoughts on “Bersama Lucy Sepanjang Hari”

  1. hehe…aku juga berharap hal yang sama bunda….semoga Lucy lekas menemukan tambatan hatinya sebelum ia tak bertenaga lagi. Hmm, Lucy….i wish u all the luck Lucy…:)

  2. yahhhh…padahal tadi udah semangat waktu dibilang kalau Lucy ini masih ranum..iya ranumnya kuda..hehe

    padahal udah mau minta no hp, janji ketemu dimana gitu…siyal siyal ternyata kuda.hwa..

  3. imsuryawan, widi, arie, ady gondrong, dok oks, dipoetraz, ervie: lucy pasti seneng banget ada yang menyukai dia walau di dunia maya… ntar aku posting si lucy cantik yah

  4. novan: kasian selo longor, selalu pas semuanya untuk dia

    winyo: ih, saya ga bermaksud lo, situ aja yang ingin ditipu kaleeee

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *