Pengalaman Pertama Pake Alat Kontrasepsi Dalam Rahim




Akhirnya tiba juga waktunya aku mencoba IUD alias alat KB pasang. Pagi tadi sekitar jam 9 aku dah nongkrong di Klinik PKBI, Gatsu IV.

Sesuai anjuran petugas jaga klinik PKBI saat pertama datang, aku disuruh pasang KB jenis ini pada hari ke-3 masa menstruasi. ”Biar gampang pasangnya. Kalau nggak, dokter pasti nggak mau pasang karena susah masukinnya,” begitu kata si ibu petugas pos pendaftaran.

Nah, inilah waktunya. Padahal aku udah takut karena telat menstruasi sebelumnya. Untung deh, ternyata tidak ada kesalahan penggunaan kondom. Hehe

Sebenarnya aku sudah merasa cukup aman dengan alat kontrasepsi kondom. Tapi, karena seringnya mendengar keluhan ibu-ibu pake alat kontrasepsi non kondom, aku juga mau merasakan kerisauan-kerisauan itu. Soalnya sering banget liputan soal kesehatan reproduksi dan njubilah banyak deh problemnya. Pingin juga merasakan tantangan seputar kespro ini.

Nah, sampai di pos pendaftaran klinik PKBI, nggak ada orang yang jaga. Salah seorang petugas di ruang admin bilang daftarnya d gedung depan. PKBI emang bikin gedung baru. Buka pintu, belasan tatap mata langsung menerjangku. Maklum, ruang tunggu itu berjejer pas banget depan pintu masuk. Jadi nggak nyaman.

Aku langsung menuju meja administrasi. Seorang petugas perempuan lagi mencatat, di depannya duduk seorang cowok. Karena masih ada kursi di sebelahnya, ya aku duduk di situ. Eh, si pegawai nanya, ”Ibu istrinya?” sambil nunjuk bapak di sebelah.

”Nggak, mau daftar bu.” Lho, kok tiba-tiba aku dibilang istrinya??? Ternyata, oh ternyata, semua orang yang duduk di ruang tunggu itu lagi antre daftar, karena si ibu pegawai baru datang. Jadilah aku dianggap penyerobot antrian. Meneketehe, sori dah.

”Iya, pegawainya baru datang, padahal biasanya buka jam 8,” kata salah seorang bapak di belakangku. Wadow, gawat juga. Karena tutupnya siang, kan jam servicenya jadi pendek.

Haloooo, tolong banyak luangkan jam klinik untuk kespro dong. Ini kan kesehatan dasar. Anybody hear me???

Aku hitung-hitung aku ada di urutan empat mendapatkan pelayanan. Sampai Menunggu sampai pukul 10.30, setelah lebih dari sejam, belum juga dapat. Salah satu yang bikin agak lelet, menurutku adalah karena ibu dokter bolak-balik nelepon dari ruang perawatan ke tempat daftar. Tidak terlihat ada perawat yang bantu sih.

Aduh, nasibmu perempuan, bahkan di klinik khusus kespro pun dukungan pelayanannya nggak optimal. Apakah karena kurangnya sokongan dana? Atau memang benar, kespro tidak menjadi prioritas di daftar kebijakan pemerintah. Padahal, pak pejabat kalau boleh nanya lahir dari mana? Lewat vagina atau seksio kan. Kalau ada masalah di rahim, manusia bisa lahir nggak sempurna. Si ibu bisa mati atau bahkan janinnya sendiri, calon pejabat itu nanti?

Setelah pasien nomor tiga pulang, asik ini giliranku. Ternyata bu dokter manggil pasien lain. ”Lho bu, saya kan berikutnya. Saya mau pasang kontrasepsi.”

”Kalau kontrasepsi di belakang ya. Langsung aja kesana,” sahut bu dokter. Nah lho, kenken ne? Kalau gitu, kenapa aku dari tadi dibiarin nunggu di ruangan ini? Siyal, siyal.

Pas di ruang belakang, aku langsung minta dilayani karena udah nunggu lama. Untungnya klinik belakang lagi sepi sih. Coba kalau rame antre juga, wah aku bisa teriak-teriak protes.

Ah, kegusaranku diredakan oleh senyum manis dokter Dewi yang melayaniku. Dia mengambil alih konsentrasiku karena mengajak ngobrol soal IUD dan dampak-dampaknya. Jadi perhatianku kini bukan lagi pada ruangan yang agak syerem. Kaya gedung yang nggak terawat, mungkin karena sudah tua. Tembok dan aksen pintu jendelanya kaya rumah tua gitu.

Seorang perawat pria yang bantu dokter Dewi juga ramah dan familiar. Aku diminta buka semua penutup tubuh bagian bawah. Dokter Dewi juga mengatakan agak sakit dan terasa perih karena vagina bakal dijepit untuk masukin IUD bentuk T. Di bungkusnya bermerk Cooper T. Harganya 150 ribu, lumayan mahal dibanding yang lain. Katanya sih bagus, dan harga klinik ini lebih murah karena harga LSM. Gitu kata ibu admin di pos daftar.

Bener aja, pas ditarik atau dimasukin alat apa, vagina perih banget. Aku menarik nafas, berkali-kali mengingatkan bahwa aku udah siap mental hari ini. ”Agak perih ya, ntar saya kasi antibiotik. Soalnya ibu seksio, jadi agak nutup,” keto Dokter Dewi. Iya sih, kalau udah pernah mengeluarkan bayi dari vagina, pasti lebih elastis gitu kan.

Setelah 15 menitan, finally, si cooper T berhasil dimasukkan ke dalam vagina untuk menangkal sperma bertemu dengan sel telur. Catatan dokter Dewi, setelah seminggu harus kontrol apakah ada masalah dengan posisi IUD dan rasanya saat ML. ”Kontrasepsi kan harus menyenangkan kedua pihak. Jangan sampai menggangu salah satunya,” ujarnya dengan bijak. Selain itu juga kontrol setelah sebulan, tiga bulan, dan enam bulan pemakaian IUD.

Pada beberapa kasus, ada perempuan yang bisa hamil walau pake IUD. Dokter Dewi said, karena IUD tidak pada posisinya, dia masuk ke rahim atau sekitarnya sehingga pembuahan terjadi. Untuk kasus kaya gini, harus segera USG untuk cek posisi IUD untuk dikeluarkan. Kalau nggak, ada kemungkinan berpengaruh pada janin. Karena itulah kontrol IUD sesuai waktu yang ditentukan.

Namun, kegagalan IUD sebagai kontrasepsi kurang dari 1%, lebih rendah dari pemakaian kontrasepsi lain seperti suntikan atau pil KB. Satu kali pasang IUD pun bertahan untuk 8 tahun. Sungguh hemat dibanding biaya 8 tahun beli pil atau suntik KB.

Pandangan ngeri soal alat yang dimasukkan ke vagina dan mitos kenikmatan ML akibat IUD memang membuat banyak perempuan menjauhi IUD. Butuh information treatment aja yang banyak dan nyaman untuk perempuan.

So, plizzzzzzz, berempatilah pada perempuan yang begitu dilematis dan berhitung untuk menjaga kesehatan reproduksinya. Kalau ntar melahirkan anak yang sehat, kan ente juga seneng. Jaga baik-baik perempuan di dunia ini.

50 thoughts on “Pengalaman Pertama Pake Alat Kontrasepsi Dalam Rahim”

  1. hi..lode akhirnya ada yang senasib dengan saya utk pake cooper t, dan kebetulan juga saya secio, tapi saya memtuskan utk pake alat ini 2 bulan setelah melahirkan dan sampe skrg (saya uda pake dari september 06)ga ada masalah baik saya maupun misua ga ada keluhan, cuma saya kok malas kontrol ke dokter kandungan saya ya padahal beliau saranin saya utk rajin papsmear utk mencegah segala resiko yg kemungkinan tjd.

    1. halo mba. saya pake cooper T lagi setelah lahiran anak kedua. tiap tahun kontrol sekalian papsmear. jadi enak lah 2 in 1. sekali angkat kaki dua hal penting diselesaikan. haha

  2. mba widi: dulu waktu baru melahirkan saya dilarang langsung pake IUD. Setelah 1 thn baru boleh karena seksio. Baguslah ngga ada masalah ya. yap, dokter tadi juga minta kontrol papsmear. Banyak lo bu yang terdeteksi gangguan rahim setelah papsmear. sampe jumpa ya

  3. ayah: tanyain bani deh…

    kaka kiyut: ayuh kaka, dijerat pakai tambang biar ga lari lagi

    didut: wadow, jauhhh ya. minta jatah? hehe

    devari: pake kondom bersih, nggak kececer, susah dibersihin spreinya bok

    neng ophie: mister I ajah neng, tokcer, udah terbukti kan

  4. Komplikasi yang paling sering dari IUD/AKDR adalah infeksi. Infeksi terjadi karena benang yang nongol di leher rahim menghubungkan rahim dengan vagina/dunia luar. Apalagi Mr P-nya Papa tidak bersih maka akan mudah tertinggalnya kuman disana dan masuk ke rahim dengan memanjat benang tadi.
    Infeksi inilah yang akan mencetuskan terjadinya kanker di daerah itu bila tidak tertangani dengan baik.
    Saran saya, ikuti saran dokter untuk rajin kontrol agar tidak menyesal nantinya.

  5. wow..aku tuh mulai pake september 2007..sampe skrg ngak pernah control…malas aja !! awal2 pemakaian,spotting saat ML…but not now anymore

    tapi,anybody has a lot experiance of it ?? share it to us….

    bahaya ngak ya?

  6. Gue pake IUD juga, awalnya enak-enak aja (more than 2 th), tapi setelah rumah gue pindah jauh (+/- 40 km ke kantor, belum pulangnya, waduh), trus Sabtu Minggu mesti lanjutin kuliah, dirumah ga ada pembantu, kebayang dong… setelah semua itu, setiap ML berdarah, lemes bo lihat darahnya, belom lagi suami langsung “ilfil” lihat darahnya terus sakit perut ga karuan.
    Jadi gue lepas aja, tapi nanti kalau sudah tidak cape gue mo pasang lagi. Jatuhnya lebih murah n nyaman..
    Tapi ada yang bilang klo pasang IUD kita ga boleh cape n setiap 2 tahun sekali ganti aja (untuk alasan kebersihan)

      1. ga ada pengaruhnya deh… IUD kalo dah pemasangan pas, ga bisa jatuh kok. KOntrol aja tiap tahun ke bidan, ngecek posisinya dan benangnya

  7. haiiii….gabung donk kebetulan banget neh topiknya pas…..aku baru aja seminggu yang lalu pasang iud setelah 2 bulan melahirkan..kata dokter itu pilihan yg paling pas buat aku krn aku gemuk..setelah pasang langsung mens and blooding abis ..hiks bahaya nggak ya? trus aku orangnya aktif n banyak gerak kira kira bahaya nggak ya? share dunk buat yang tau…thanks a lot

  8. nina dan yuyun: ayo, kita share terus ya… blognya mana ni?
    kata dokter 3 bulan pertama aja blooding. eh, saya udah hampir 6 bulan masih aja mens-nya lama dan darahnya buanyak. harus cek lagi, kemungkinan ga pas IUD-nya tau apa. kita jalani aja deh. kecuali kalao dah sangat mengganggu, back to 100% condom deh.

  9. iya…aku juga dah ke dokter lagi..ini hampir sebulan blooding terus padahal udah di kasih obat juga…actually kalo terganggu banget enggak sih cuman penasaran aja sih kapan ne selesai bloodingnya…mana lagi puasa jadi aneh banget puasa trus blooding ria gitu..but the fact kayaknya IUD the best choice buat aku soalnya nggak ribet gitu deh

  10. papun yang membuat wanita lebih baik aku dukung aja.sekalipun masi bnyak yang anggap berKB itu haram, tp saya dukung aja.toh kalo udah jadi”hamil”wanita juga yang repot.banyak anak banyak rejeki,bohong banget……

  11. wah, kebetulan istri g baru melahirkan 1 bln yg lalu, and masih mikir mo pasang alat kontrasepsi apa ya… ato pake kondom aja ya ??

    1. waduh, ada jg kejadian kaya gini yak? bener2 ga bisa diprediksi. padahal bukan KB hormonal. Makanya saya pengen banget pemerintah memberikan akses aborsi aman untuk ibu2 yg gagal KB. Kan pemerintah hrs tgjwb juga dong krn dah promosi KB, harus tanggung juga kalo gagal. ***esmosi

  12. Abis melahirkan disaranin dokter yang terbaik pake IUD katanya… Sekarang baby udah 13 bulan… Tapi masih takut buat pasang… rasanya syerem banget… tapi pake KB yang hormonal takut ada efek sampingnya ke fisik. Idih… bingung. Untung suami pengertian. Mo pake kondom setahun ini (thanx ya Ayah…). Tapi akhir2 ini kepikiran pengen juga KB cara lain soalnya kasian juga ma suami. Apa dunk???

    1. IUD aja deh. ga ssakit sama sekali. takut mitos ya… faktanya IUD emang lebih mujarab dibanding alat lain lo. rajin cek aja pada enam bulan pertama. kalo ga suka, kan tinggal buka

  13. q juga lagi bingung neh pengen pasang IUD tapi sakit g ya?
    n setelah pemasangan apa boleh langsung ML?
    Apakah mens teratur? tolong dung kasih solusi???

    1. hai ecy, coba aja dulu pake IUD. aku pikir ini yang paling aman untuk alat KB dan ga ribet. Ga sakit sama sekali kok. ntar kita cek rutin apakah IUD terpasang dgn bener. Trus pas ML juga ga masalah sama sekali, (kalo yg ini mesti tanya pasangan kita). Emang, mens-nya jadi agak lama. Aku skarang mens seminggu. Tapi ada juga yg aman dan gampang, pake kondom. saya juga kadang masih pake kondom lho, walau dah pake IUD. karena kok lebih bersih aja. hehe

  14. yang lagi bingung milih alat kontrasepsi apalagi pasangan baru yang baru saja punya anak, pilih IUD saja. awalnya memang ndak nyaman tapi lama-lama enjoy juga. apalagi bagi yang dak bisa pake kontrasepsi hormonal lebih pas laaa…

  15. AQ juga lg bingung nich mo KB pake yang mana mau KB suntik takut jd gemuk mau pake IUD takut sakit ,dan sudah 50 hari habis melahirkan hmm pake yg mana ya???

  16. wahh..bagus ne topiknya, a jg mo share ah…kira2 1,5 bl yg lalu a psg Copper T, trs 1 bln kmdian melorot (celana kalee…), udah gt dibenerin lg ma dokternya,dsuruh nunggu 1 mgu ga ML dl,trs pas kontrol lg trnyata mlorot lagi,akhirnya dilepas,sekarang pake jaket karet, suami ngeluh mulu,mnta dipasangin IUD lg, duh pusing! dokternya blg srh nunggu 2-3 bln lg nek mo psang IUD lg, cuz kemungkinannya rahimku msh agak melar, he…gr2 sikecil malang melintang teyus wktu di dlm peyut…hiks! dilematis to?

    1. novie,
      waduh, ternyata bener ya ada kasus lorot melorot kaya gitu. beneran banyak yg gak suka pake IUD. aku kira cuma mitos. Waduh, pake kondom dlm jangka panjang emang ga terllau nyaman, kecuali it have to krn alasan medis kondisi tertentu spt infeksi IMS/HIV. Coba jenis KB yg lain? Atau coba ricek di dokter lain, apakah dokter kamu udah sesuai prosedur masangnya. Bisa juga kamu coba masang di dokter lain, sapa tau lebih mujarab. Kadangkala pemasangan IUD tergantung skill. hehe…

  17. Hi..galz…
    gw mo share nih…gw pake IUD dr bln desember 08 ga da keluhan apa2 tp baru bulan kemaren gw terlambat mens trus beberapa hari kemudian keluar darah setelah ML, gw kira gw mens tp ternyata bsknya udah ga keluar lg. Trus beberapa hari kemudian keluar flek. tp cuma dikit ‘n besoknya ga keluar lg…itu kira2 knp ya?

  18. walah…aku pasang IUD…,ternyata infeksi jgkpthn disertai darah.Sejak pasang keputiha banyak bwangeeettt……,lama mens jg lbh lama.Gak tau nih mau ganti apa?kmr papsmear aja,takut knapa2….So…,setelah ini ingung KB apa?

    1. saya sekarang sudah ngeluarin IUD setelah 4 tahun pake karena mo program punya anak 🙂 hanya butuh waktu 2 menit mengeluarkannya tanpa rasa sakit. slama pasang IUD memang mens saya jadi lama sekitar 10 hari tapi efek lainnya ga ada. trmasuk ketika ml.
      kalau sudah punya bayi saya mau pasang lagi. kunci utama dari dokter, rajin cek IUD minimal setahun sekali. saat ini usai IUD keluar, mens saya kembali normal jadi 4 hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *