Pekerja Seks dan Pelanggan: Mencegah HIV/AIDS Masuk Rumah

foto-blog-psk1.jpgfoto-blog-psk1.jpg

Lokasi transaksi seks (lokalisasi?) itu nyata ada dan telah hidup menghidupi masyarakat sekitarnya sejak 1975. Di tengah pemukiman penduduk, sekolah dasar, SMA, SMP, tempat ibadah, hotel, dan remaja yang menikmatinya.

Daerah transaksi seks ini akrab disebut Carik, karena dulu berdiri di tengah-tengah sawah. Persawahan itu kini menjadi perumahan yang padat. Saking padatnya, ruas-ruas gang semrawut dan sepeda motor kesulitan melaluinya.

Sebuah klinik kesehatan yang dibuat Yayasan Kerti Praja berdiri di kawasan itu. Ruangan sangat sederhana, berukuran sekitar 5×5 meter yang dibuka dua kali seminggu itu memberi wajah lain di kawasan ini.

Ruangan berlantai semen ini barangkali sudah menolong puluhan nyawa. Tak hanya bagi pelanggan dan pekerja seks di sekitar itu. Tapi juga menyelamatkan pasangan mereka, suami, istri, anak-anak, dan keluarga para pelanggan seks itu di rumah. Tahukah, mungkin kita adalah salah satu yang diselamatkan. Karena bisa jadi salah seorang kerabat laki-laki pelanggan seks itu saudara atau kita sendiri.

Klinik kecil ini memberikan jasa pemeriksaan dan pengobatan khususnya untuk infeksi menular seksual (IMS), tes HIV, dan pemeriksaan kesehatan reproduksi umum. Hasilnya, banyak yang terinfeksi IMS, dari gejala ringan sampai berat. IMS juga bisa menulari pasangan seksual dan berpengaruh pada janin yang dalam kandungan.

Seperti yang dirasakan Made Rai, sebut saja demikian. Pria muda ini datang ke klinik dan mengeluhkan luka yang datang tiba-tiba tiap kali seusai berhubungan seks. “Apang seken nawang penyakitne, harus periksa. Nyak periksa?” tanya Gusti Ayu Wahyuni, perawat yang bertugas di klinik itu membujuknya untuk memeriksa kepastian jenis penyakit apa yang diidap Made.

Made terlihat bimbang. Ia mengatakan penyakitnya bisa sembuh kalau dikompres dengan air hangat dicampur garam. Wahyuni merasakan kebimbangan Made dengan menganjurkan ia melakukan pemeriksaan di Klinik Amerta, klinik milik YKP juga yang berada di Jalan Raya Sesetan, Denpasar itu. “Di sana ada dokter cowok, silakan periksa di sana ya, kan sudah tahu tempatnya,” ujar Wahyuni pada Made.

Wahyuni memaklumi kadangkala pelanggan seks laki-laki malu diperiksa oleh perempuan. Namun soal cara mengobati IMS yang kerap memusingkan perawat yang telah bekerja di YKP sejak 1976 ini. Banyak sekali cara-cara salah yang dilakukan untuk mengobati IMS. Praktik perawatan dan pengobatan yang biasanya berkembang dari mulut ke mulut itu malah seringkali membuat IMS makin parah dan kebal pada obat.

Hal ini yang mengakibatkan IMS datang terus setiap kali usai berhubungan seks dan tidak pernah sembuh. Seperti yang diakui Made.

Memberikan informasi yang benar dan menganjurkan pengobatan pada laki-laki pelanggan seks bukan perkara mudah. Hal ini diakui Wahyuni dan petugas lapangan penjangkau pelanggan seks di Bali.

“Krama Bali kebanyakan maboya. Laki-laki pelanggan seks menganggap dirinya sakti bisa menghindari HIV atau IMS padahal mereka tahu banyak yang sudah kena. Disuruh pakai kondom tidak mau. Akhirnya menularkan ke istri atau anak-anaknya,” papar Novita E. Wuntu, salah seorang pendamping orang yang terinfeksi HIV (Odha) di Bali.

Menurut penelitian Prof dr. Dewa Nyoman Wirawan, MPH, pendiri YKP, karena masih ada pelanggan seks yang menolak menggunakan kondom maka pada 2008 ini diperkirakan akan ada 800 orang pelanggan seks yang terinfeksi HIV. Jumlah ini meningkat karena sebelumnya diperkirakan ada 800 orang pelanggan seks terinfeksi HIV selama tiga tahun (2003-2006).

Tak heran, kasus HIV dan AIDS kini didominasi karena akibat hubungan heteroseksual (antar laki-perempuan). Menurut data Dinas Kesehatan Bali, akhir November 2007 lalu jumlah kasus HIV dan AIDS di Bali melonjak menjadi 1.782 kasus. Sebagian dari jumlah itu diidap oleh anak muda berusia 20-29 tahun (920 orang), dan 44 remaja berusia 14-19 tahun.

Sebanyak 53% orang tertular melalui hubungan seks laki-laki dan perempuan (heteroseksual). Sekitar 34% terinfeksi karena penggunaan narkoba suntik. Padahal sebelumnya kasus tertinggi selalu akibat penggunaan narkoba suntik. Dua puluh anak-anak dan bayi terinfeksi HIV tertular dari ibunya.

Sejumlah pekerja seks di kompleks Carik dengan sadar kini selalu memaksa pelanggannya untuk memakai kondom. Beberapa di antaranya juga dengan rutin memeriksakan kesehatan ke klinik YKP, dan ada yang telah sukarela tes HIV. “Saya tidak mau banyak yang kena penyakit. Makanya saya selalu minta pelanggan pakai kondom. Saya sendiri juga nggak mau tertular,” ujar Indah, sebut saja demikian, salah satu pekerja seks di sana.

Kadang-kadang mereka berkumpul di klinik itu untuk bagi-bagi pengalaman cara pencegahan HIV dan IMS. Juga berbagi trik cara merayu pelanggan agar mau pakai kondom. Para petugas lapangan YKP, perawat, dan perempuan pekerja dipaksa kondisi untuk terus menjangkau pelanggan seks. Mencegah penularan HIV dan IMS dari pelanggan ke keluarga mereka di rumah.

0 thoughts on “Pekerja Seks dan Pelanggan: Mencegah HIV/AIDS Masuk Rumah”

  1. blogdokter: sedap dok….

    devari: di karibia udah puasss ya liat ML dimana-mana

    ayah: tentu ayah, jangan bawa bani ya. *basa-basi

  2. tanpa bermaksud memarginalkan pekerja seks (PS), tetapi memang perlu sekali mengikis ambivalensi, misalnya banyak yang anti lokalisasi PS tapi tahunya selingkuh atau malah nyari PS juga. saya punya klien konseling sekarang 2 anak SMA padahal anak orang kaya yang juga nyari duit dengan berjualan tubuh, berarti ini masuk yang indirect lho, lebih susah lagi pendampingannya, syukur mau konseling. nah, estimasi tahun 2003 pekerja seks yang terinfeksi HIV sekitar 9%, tahun 2007 estimasinya menjadi 14%.sangat tepat memang harus ada pendampingan yang efektif ya…edukasi juga harus jalan terus, yang perlu banget adalah mengikis mitos, ya kayak tadi..masih ada juga yang ngakunya kebal sama penyakit. kebal dari hongkong!

  3. Duh..segitunya. Apakah memperkerjakan diri sendiri hanya dengan mengeksploitasi tubuh dan mengumbar hawa nafsu saja ? Intinya pencegahan sebenarnya dari diri kita kaaaan. Mau apa nggak. Yang jelas pekerjaan itu bisa dicarii, yang penting halal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *