Category Archives: Bali

Pada Gelahang, Sebuah Negoisasi

I Ketut Sukarta dan Ni Made Lely Nawaksari kini bisa bernafas lega. Mahkamah Agung mengabulkan putusan peninjauan kembali atas putusan pengadilan di Bali yang memvonis tak sah perkawinan Pada Gelahang (PG) pada November 2008 lalu. Salinan putusan ini belum diterima, namun telah dipublikasikan di website MA pada September lalu.

Hampir dua tahun mengikuti proses penyidikan dan sidang pengadilan, Sukarta mengaku sangat lelah. Pertama, pasangan yang tinggal di Surabaya ini shock perkawinan mereka yang sah secara adat dan dikuatkan pula dalam akte perkawinan dengan status PG diadukan oleh ibu tiri Lely.

Kedua, pasangan tiga putra dan putri ini tak mengira masalah keluarga harus diselesaikan secara hukum. “Ibu tiri istri saya menganggap perkawinan PG menyalahi aturan leluhur dan meyakini leluhur akan menghukum karena kami sepakat sebagai pasangan yang kapurusan (punya status yg sama),” katanya saat dihubungi, Selasa (26/10). Continue reading Pada Gelahang, Sebuah Negoisasi

Kotaku Ramah (Sesaat)

tukad badung yg membelah pasar badung-kumbasari

Ribuan warga berkumpul di nol kilometer Kota Denpasar, merayakan akhir tahun 2010 dengan menikmati kenangan akan kota yang kini makin padat penduduk ini. Warga berharap kota Denpasar yang lebih baik tahun ini.

Sejumlah warga terlihat tertegun dan kadang tertawa menikmati potongan-potongan gambar yang direkam oleh beberapa komunitas fotografer di Denpasar.

Seorang perempuan pedagang canang yang bengong menunggu pembeli. Si pedagang canang menyandar di tembok bangunan tua yang masih sedikit tersisa di kawasan heritage Jalan Gajah Mada. Potret ini dibingkai dalam wadah kaleng minyak yang diterangi lampu neon di dalamnya. Ada juga potret kusir dokar yang juga melamun menunggu pengguna jasanya.

“Wah, Denpasar ternyata punya dokar juga. Lama tidak melihat dokar,” seru Anik, seorang ibu bersama anak perempuannya. Ia tak ingat Denpasar punya moda transportasi dalam kota tradisional yang kelihatan indah di bingkai foto. Padahal, keseharian dokar dan kusirnya adalah keterasingan dan kesepian. Continue reading Kotaku Ramah (Sesaat)

Perempuan Bali yang Menghidupkan Ritual

dewi, tukang suun ibu hamil di pasar badung, denpasar

Tak ada perempuan Bali yang libur jika hari raya tiba. Mereka menambah jam kerja mencari uang dan juga lembur membuat aneka sesajen. Waktu 24 jam sehari terasa kurang untuk menghidupkan aura Bali dengan doa-doa dan semangat bekerja.

Ni Ketut Dewi, perempuan 17 tahun ini sedang hamil lima bulan ketika Ia berebutan dengan buruh tukang suun lainnya di Pasar Badung, Selasa (7/12) dini hari. Tiap satu jam, Ia menjunjung belasan sampai puluhan kilogram barang belanjaan pembeli dengan keranjang di atas kepala.

Ia menerima upah antara Rp 5000-15 ribu sekali angkut dengan waktu rata-rata satu jam keliling mengikuti tiap pembeli. Continue reading Perempuan Bali yang Menghidupkan Ritual

Microsoft Bloggership 2011: Lawan Kemiskinan dengan Berbagi Informasi

kampanye kebebasan informasi, desaign by isoul untuk sloka

Tahun ini adalah tahun kemerdekaan jiwa untuk saya dan sejumlah teman lain. Kami memberanikan diri membuat sejumlah program rintisan memanfaatkan media-media social dan internet. Saya berkeyakinan kalau kemiskinan jiwa, harta, percaya diri bisa dilawan dengan informasi. Salah satunya melalui pemanfaatan teknologi informasi.

Awal tahun ini saya dan teman-teman di Sloka Institute membuat sejumlah program rintisan yang sederhana. Program-program pembelajaran teknologi informasi yang kami lakukan secara swadaya dan melibatkan jejaring yang kami miliki. Swadaya dan berjejaring adalah keyakinan lain yang kami semai dan tumbuhkan bersama. Kami, tua-muda, kuat, dan berbahaya J  Meminjam kalimat sakti band SID. Continue reading Microsoft Bloggership 2011: Lawan Kemiskinan dengan Berbagi Informasi

Wine Salak Sibetan, Anyone?

foto dari karangasemcraft.com

Ribuan pohon salak adalah rumah bagi penduduk Banjar Dukuh, Desa Sibetan, Karangasem. Wilayah dengan luas hampir 150 hektar itu ditanami pohon salak hampir 90%. Tak ada blok-blok perumahan karena sistem tempat tinggalnya adalah ngubu atau membuat rumah di dalam kebun masing-masing.

Masyarakat Dukuh Sibetan hidup menyebar di antara lahan kebun salak. Tiap satu rumah menempati sebagian kecil dari luasan kebun yang dimilikinya. Jadi, secara khusus tidak ditemukan kawasan pemukiman di wilayah banjar Dukuh Sibetan, kecuali beberapa rumah dan warung di sekitar balai banjar. Walaupun tersebar, sebagian besar rumah yang ada sudah mendapat layanan listrik PLN, namun baru sebagian kecil yang mendapat layanan air PDAM. Continue reading Wine Salak Sibetan, Anyone?

Seniman Bali Frustasi Kampanye AIDS

memahami hiv/aids bersama KPAP Bali

I Nyoman Nardayana, seorang dalang wayang Cenkblonk, yang sangat kondang di Bali mengatakan pesan-pesan pencegahan HIV/AIDS yang kerap dilontarkan melalui pertunjukkannya dianggap sekadar lelucon.

“Apa yang kami lakukan kalah cepat dengan virus HIV. Pesan-pesan yang disampaikan dengan guyu (joke) malah jadi lelucon saja. Tidak masuk ke hati mereka,” jelas Nardayana yang populer karena tema cerita wayangnya soal keseharian orang Bali ini.

Menurut Nardayana, penyebaran HIV sudah sangat cepat dan sosialisasi juga gencar. “Efeknya pada masyarakat bagaimana? Banyak penonton saya yang menganggap itu hanya angin lalu. HIV ini seperti gunung es, bagaimana Bali nanti?” tanyanya. Continue reading Seniman Bali Frustasi Kampanye AIDS

Histeria dan Frustasi di Perangalas

Ditha mengajar membaca di kamar tidur

“Yang dot dadi gigolo, mbok,” sahut Gede Adi, sebut saja demikian dengan yakin. Pria muda 16 tahun yang ngebet disukai banyak perempuan ini setiap hari bangun jam 5 pagi. Rambut setengah pirangnya  yang kelimis menjadi lepek ditindih sedikitnya 10 kilogram aneka buah hingga jam 4 sore.

Adi pasti menjadi gigolo yang kuat dan tahan banting, jika Ia tetap pada pendiriannya kelak.  Setelah bosan menjadi anak buah juragan buah di kompleks Desa Perangalas, Lukluk. Continue reading Histeria dan Frustasi di Perangalas