Histeria dan Frustasi di Perangalas




Ditha mengajar membaca di kamar tidur

“Yang dot dadi gigolo, mbok,” sahut Gede Adi, sebut saja demikian dengan yakin. Pria muda 16 tahun yang ngebet disukai banyak perempuan ini setiap hari bangun jam 5 pagi. Rambut setengah pirangnya  yang kelimis menjadi lepek ditindih sedikitnya 10 kilogram aneka buah hingga jam 4 sore.

Adi pasti menjadi gigolo yang kuat dan tahan banting, jika Ia tetap pada pendiriannya kelak.  Setelah bosan menjadi anak buah juragan buah di kompleks Desa Perangalas, Lukluk.

Kami, tim Sekolah Beranda (aih, suka namanya) pulang pergi ke Kapal dan Lukluk, Kabupaten Badung menemui anak-anak pedagang buah keliling yang ngompleks di dua daerah di kabupaten terkaya di Bali ini. Ini program keaksaraan fungsional yang melibatkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Bali. Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) awalnya memberi bantuan.

Mbok, harusne tiap hari mai. Pang enggal dueg,” rayu Lanus, remaja sebaya Adi padaku, Intan, dan Ditha yang dua kali seminggu ke Perang.

Kami berlima  mengajar masing-masing sekitar 10 anak di kelas yang berbeda. Bukan ruang kelas seperti di sekolah umum. Tapi sudut rumah-rumah kontrakan mereka yang penuh buah-jagung-dll, dagangan utama para bosnya.

Satu setengah bulan sudah kami bertiga ke Perang malam-malam. Ditemani hujan dan angin yang selalu datang tanpa diundang. Buatku, ini perjalanan agak menakutkan. Karena malam kombinasi hujan adalah hantu buat mata minus-silinderku. Terlebih lewat JL Ahmad Yani yang bergelombang, lubang-lubang, dan tanpa lampu. Mobil-motor yang pake lampu jauh yang bikin selalu misuh-misuh… Tak syak, sedikitnya sukses terserempet sekali, tiga kali hampir ditabrak atau menabrak.

Tapi ini bukan kisah success story. Satu bulan pertama adalah kegagalan kami membuat mereka yakin kalau bisa membaca dan menulis adalah soal penting. Memang tidak semua murid menolak atau acuh. Tapi satu-dua anak yang begitu, perasaan kami jadi getir. Frustasi.

Rasa frustasi karena kita tak mengira resistensi mereka sedemikian besar pada pendidikan. “Jadi apa men? Masih kene-kene gen, hidupe,” sahut satu-dua anak yang membuat kami terdiam.  Kami mengira, anak-anak histeria bisa mendapatkan buku pertamanya, pulpen, crayon, atau memegang laptop yang selalu saya bawa untuk menarik perhatian mereka pada huruf-huruf di keyboards.

Sebagian besar tersenyum, tapi bukan histeria. Itu hanya ada di iklan-iklan CSR perusahaan di koran dan televisi. Suatu kali Anik Leana, tutor di Kapal tersenyum kecut ketika anak-anak tak menyukai film Laskar Pelangi yang dibawanya dengan suka cita. “Mereka cuma tahan 10 menit, trus satu demi satu pergi ke kamar atau pura-pura ke kamar mandi,” kata Anik nelangsa.

Anak-anak mengaku tidak suka karena tak ada sesuatu yang istimewa dari gerombolan anak-anak yang semangat bersekolah di sekolah reyot ala Laskar Pelangi ini. “Nasib mereka mungkin lebih buruk, ngapain juga melihat kondisi yang sama,” Anik tertawa.

Film langsung diganti dengan Transformers. Anak-anak kembali datang dan duduk dengan riang. Kali ini benar-benar histeria melihat robot-robot berperang.

Karena itu, saya kagum dengan Anik-Jaya di Kapal yang mengajar sekitar 25 anak, dan juga Ditha-Intan di Perang dengan sekitar 28 anak plus ibu-bapak muda yg buta huruf. Mereka tak pernah kehilangan semangat seperti saya.

Sudah dua kali saya bilang pada Intan-Ditha kalau saya frustasi menghadapi anak-anak umuran 13-15 tahun di kelompok belajar saya. Mereka bisa membaca-menulis, walau tak terlalu lancar. Jadi, silabus program yang penuh dengan pengajaran baca tulis tak bisa saya terapkan secara penuh. Saya harus berimprovisasi dengan alat peraga, pengetahuan kespro, dan hal lain tiap kali ada kelas.

Karena itu saya terlonjak ketika Sanjay dan Eka, dua anak muda yang punya musisi dan kartunis itu bersedia datang sekali ke Perang. Sering-sering dong datang 🙂

Beberapa kali beberapa anak menolak ajakan saya untuk memulai kelas. Misalnya Suma yang beberapa kali terlihat bertengkar atau dimarahi bos karena dagangannya masih banyak tersisa. Saya melihat kemurungan dan risau yang sangat karena setahun-dua tahun lagi, pekerjaan ini tak akan menghasilkan uang.

Pedagang buah yang laris hanya anak-anak. Karena pembeli trenyuh. Dan sebentar lagi, anak-anak remaja ini akan tumbuh dewasa dan tak ada rasa kasihan lagi untuk mereka. Saat ini saya masih memikirkan ide-ide pengajaran yang mengurangi rasa frustasi. Any idea?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *