Seniman Bali Frustasi Kampanye AIDS




memahami hiv/aids bersama KPAP Bali

I Nyoman Nardayana, seorang dalang wayang Cenkblonk, yang sangat kondang di Bali mengatakan pesan-pesan pencegahan HIV/AIDS yang kerap dilontarkan melalui pertunjukkannya dianggap sekadar lelucon.

“Apa yang kami lakukan kalah cepat dengan virus HIV. Pesan-pesan yang disampaikan dengan guyu (joke) malah jadi lelucon saja. Tidak masuk ke hati mereka,” jelas Nardayana yang populer karena tema cerita wayangnya soal keseharian orang Bali ini.

Menurut Nardayana, penyebaran HIV sudah sangat cepat dan sosialisasi juga gencar. “Efeknya pada masyarakat bagaimana? Banyak penonton saya yang menganggap itu hanya angin lalu. HIV ini seperti gunung es, bagaimana Bali nanti?” tanyanya.

Nardayana menyebut cara pencegahan HIV di Bali terlalu sarat dengan nilai moral. Masih menganggap sumbernya oleh pendatang atau orang asing. “Saya setuju dengan lokalisasi agar pekerja seks dan pelanggannya bisa diminta cek kesehatan. Sekarang lokalisasi dianggap tidak ada, padahal sudah kemana-mana,” ujarnya. Menurutnya sudah banyak pekerja seks orang Bali asli tapi pakai nama samaran.

Saat ini, tambah Nardayana, pemerintah  tidak punya sikap yang jelas soal kontrol bisnis seks. “Dianggap ada tapi tiada. Membuat citra Bali sebagai daerah yang suci padahal digerogoti penyakit,” katanya.

Kegalauan yang sama juga dilontarkan Nanoe Biroe, musisi dan penyanyi berbahasa Bali yang digemari ratusan ribu anak-anak dan remaja. Di setiap sampul kasetnya, dia mencantumkan gambar buku dan logo pita merah tanda peduli AIDS.

“Saya bersedia terlibat membuat iklan kondom. Tapi kemudian dianggap fans menganjurkan seks. Sebaiknya pemerintah melakukan penelitian apa komunikasi yang lebih efektif untuk warga Bali yang cenderung munafik dan cuek,” pinta Nanoe.

Nanoe mangatakan Ia kerap ditegur orang lain karena kerap menyampaikan pesan pencegahan HIV. “Pesan seks aman dan kondom dianggap tabu dan menyarankan seks,” katanya.

Keprihatinan pada kesenjangan komunikasi pencegahan HIV/AIDS ini didiskusikan oleh sejumlah artis dan seniman Bali yang kerap tampil di depan publik. Selain Nanoe dan Nardayana, juga ada Nyoman Subrata alias Petruk dan IB Gede Ngurah Yasa alias Topok, pemain drama gong, dan lainnya.

Trainining untuk meningkatkan pemahaman HIV/AIDS di kalangan seniman ini difasilitasi Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) Bali, Jumat (5/11), di Denpasar.

“Kami akan berkolaborasi dengan seniman lokal Bali untuk memuat strategi komunikasi pencegahan HIV/AIDS ke masayarakat luas. Karena kami tidak punya daya jangkauan di wilayah ini,” ujar I Made Suprapta, Sekretaris KPAP Bali.

Suprapta mengatakan epidemi HIV di Bali sudah masuk ke general population, karena yang terpapar tak hanya kelompok berisiko tinggi. Hingga Oktober, hampir 4000 orang dengan HIV yang tercatat di Dinas Kesehatan Bali. Namun KPAP Bali memperkirakan sedikitnya ada 7000 ODHA di Bali.

Pada 2004, jumlah ODHA yang berhasil diketahui 590 orang, tiga tahun kemudian menjadi 1253 orang. Sebanyak 80% ODHA berusia 15-49 tahun, dan dari kelompok heteroseksual. Kelompok Injecting Drug Users (IDU) yang terinfeksi 22%, dan dari ibu ke anak lebih 2%.

“Puluhan ibu rumah tangga sedang sakit karena HIV, demikian juga anak-anak. Orang yang berisiko semakin luas ke masyarakat umum,” kata Suprapta. Menurut KPAP, ratusan warga di Bali sayangnya sulit dijangkau atau mencari pelayanan kesehatan walau positif HIV.

Penolakan warga pada orang terinfeksi HIV diakui Putra, sebut saja demikian, seorang dengan HIV positif. “Saya pernah mengalami penolakan pada status HIV saya, dan saya sekarang mengalami penolakan dari orang lain,” ujarnya di depan seniman.

Namun, Putra yang mengalami beberapa kali relapse untuk kembali menggunakan HIV dan putus terapi HIV masih punya semangat untuk memperpanjang usia. “Saya sekarang berteman dengan HIV, menjadi buddies bagi ODHA lain di Tabanan, dan melanjutkan pengobatan,” katanya.

Putra mengatakan salah satu peran yang penting adalah memberikan alarm bagi bagi masyarakat luas sedini mungkin soal HIV/AIDS di Bali. “HIV harus stop sampai di sini,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *