All posts by lodegen

The Battle of FKY and PKB

Seru sekali judulnya ya. Haha.. Maksudnya untuk menunjukkan genderang perang di bidang kesenian memang mesti berani ditabuh. Bahwa kesenian dan pertunjukkan seni budaya memang berani diadu. Bidang ini, antara lain seharusnya kompetitif dalam memuaskan hasrat penonton dan pemujanya.

Nah tahun ini, nyaris pada saat yang sama, Pesta Kesenian Bali (PKB) dan Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) dihelat. Dari segi daerah pelaksana, dua provinsi ini juga layak diadu. Punya tradisi, kesenian, dan budaya yang dijual untuk pelancong. Keduanya juga sudah berusia cukup tua. FKY berusia 20 tahun, dan PKB, hampir 30 tahun. Nah, sekarang yang saya adu adalah bagaimana FKY dan PKB punya potensi memuaskan hasrat penontonnya? Karena saya yang menulis, pasti menuruti nafsu sendiri ya. Hehe

Tetapi, saya berusaha menguraikannnya untuk mendekati (sedikit) objektif dengan data dan fakta. Saya mulai dengan kesan pertama. Ketika menginjakkan kaki di Benteng Vredeburg dan Taman Budaya Yogyakarta, pusat kegiatan FKY. Saya merasa jauh terpelanting dari suasana pasar malam PKB. Continue reading The Battle of FKY and PKB

Naskleng, Goban Ci Cara Gareng

Hilir mudik di Malioboro selama 23-27 Juni ini, kesenangannya cuma satu. Cuci mata. Wajah, pakaian, dan perangai turis-turis sebangsa. Barangkali saya juga bagian dari objek cuci mata pihak lain. Hmm…

Lalu lalang ribuan orang tiap hari, sebagiannya mungkin turis yang sama, karena menginap di daerah Malioboro. Seperti saya dan Bani. Celakanya, selama lima hari di pusat turis di Jogja ini mata saya belum menangkap desain kaos lucu. Maksudnya tshirt unik yang dipake orang. Adanya cuman Billabong, Quiksilver, freestyle, dan kaos-kaos yang menjual trade mark alias merek lainnya. Kaos yang tak terlihat mereknya pun nyaris sama, semuanya dengan desain khas kaos distribution outlet (distro). Menggunakan kata-kata berbahasa Inggris pendek, yang bagi saya pesannya nggak jelas.

Continue reading Naskleng, Goban Ci Cara Gareng

Periksa Vagina Yuk…

Dimulailah kesibukan baru sebagai perempuan yang telah melakukan hubungan seksual aktif dan pernah melahirkan. Sebenarnya sih gak bikin sibuk amat, tapi harus membuat jadwal periksa dengan disiplin. Ada apa, kenapa?

Pertama, karena saya memutuskan menggunakan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) atau lebih ngetop dengan sebutan KB pasang. Nama AKDR saya “Cooper T”. Sebuah benda berukuran sekitar 10 sentimeter berbentuk “T” yang dimasukkan ke dalam rahim melalui vagina. Tentu saja. Masa lewat pantat? Continue reading Periksa Vagina Yuk…

Bani's Patron

Bani, bayi 20 bulan ini sudah cakap mengatakan ayah…bunda… Kalo bunda masih belepotan. “Nda, nda..”

Sisa kalimat lainnya yang panjang-panjang itu, buat saya, sangat sulit diterjemahkan. Sori menyori, Bani my dear.

Yang bikin kalap adalah patron Bani. Ayah menyapu, bani ikut merebut sapu. Ayah nungging, bani jumpalitan. Ayah mencet tombol power komputer, Bani mencet sepuluh kali. Pyet… komputer hang and pingsan, gak bangun-bangun. Ayah ngorok, Bani sami mawon manut.

Ayah, behave…

UU ITE Mencoba Kembali Mengekang Kebebasan Informasi dan Berekspresi

Mahkamah Konstitusi telah menghapus pasal-pasal ancaman pidana bagi pencemaran nama baik dalam KUHP yang termasuk pasal karet karena kerap digunakan penguasa untuk memenjarakan pengkritiknya. Namun kini, Undang-undang No 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang baru-baru ini disahkan malah berisi pasal-pasal terkait pencemaran nama baik dan penghinaan yang sangat membingungkan itu.

Isi UU ITE terkait ini mengancam semua pengguna dan penyedia informasi seperti pembaca, pembuat blog/web, pers, dan lainnya. Tak hanya itu, di DPR juga telah ada rancangan undang-undang Tindak Pidana Bidang Teknologi Informasi. Melihat judulnya, sangat jelas tujuan undang-undang ini.

Demikian rangkuman diskusi yang dilaksanakan Bali Blogger Community (BBC) di D’Palensa Cafe, Renon, Denpasar, Minggu (11/5). Diskusi interaktif ini menghadirkan pembicara I Ketut Jack Mudastra (Kabid Sistem Informasi Manajeman Badan Informasi dan Telematika Daerah (BITD) Bali, I Putu Hendra Brawijaya (Professional Web Desaigner, anggota BBC), dan Wayan “Gendo” Suardana (Ketua Persatuan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI) Bali. Continue reading UU ITE Mencoba Kembali Mengekang Kebebasan Informasi dan Berekspresi

Kebangkitan Pers Nasional?

Isoul, jurnalis kartun ini tiba-tiba ngucapin selamet hari pers di milis alumni akademika.

Selamat Hari Pers, ya,” gitu ucapannya.

Emang skarang Hari Pers ya? Whatever lah, yang penting ngartun. Perlu kredit kartunnya gak? Hehe.. dijelasin aja dikit ya. Yang nutupin mata, mulut si X bertopi PERS itu amplop. Semoga amplop kosong ya, biar si pers ketipu. hehe.. Continue reading Kebangkitan Pers Nasional?

Ini Awal yang Baik untuk Kami. Need Help…

dear semuanya,

mahap menggemberikan kabar gembira ini dengan suka cita. maklum, wong ndeso NakNik Community ini bisa juara blogging tentang lingkungan.

Dari pinggiran daerah miskin subak dalem yang kotor, bantu kami untuk bisa bikin daerah kami lebih bersih ya. mmuahhhhhh.. …..

kami tunggu bantuan dan dukungan om/tante dimana pun jika ingin bekerja sama dengan NakNik untuk membuat deplot pengolahan sampah (kita masih mau advokasi ke banjar), pembuatan tong sampah lucu (oya, duit hadiah maunya untuk bikin tong sampah lucu, ada yang punya ide?), hadiah barang daur ulang untuk anggota NakNik (ada yang tau toko yang oke dan murah? maklum NakNik jumlahnya sekitar 25 orang), dll ada ide lain?

sungguh kami tunggu kerja sama dari semua yang mau bantu kita biar pinggiran denpasar ini bisa lebih hijau, sungai bersih, dll. hehe

kontak kami di sini ya:
1. risma (081 337803169)
2. mbok luhde (o81 23986124) atau
blog kami di:
http://naknik. wordpress. com/

terima kasih banyak yang sudah berbagi dengan NakNik untuk lingkungan: PPLH Bali, tante mercya, dan lainnya.

Lihat pengumuman pemenangnya disini ya: http://blog. supporterwwf. org/

———–
NakNik adalah kelompok anak-anak di Gang V Jl. Subak Dalem Denpasar. Kami bermain dan bersenang-senang sambil belajar hal baru. Subak Dalem adalah daerah pinggiran denpasar yang saat ini kondisinya kotor, tidak ada pengelolaan sampah, anak-anaknya buanyakkkkk. Kami butuh banyak bantuan atau kerja sama untuk meningkatkan diri untuk anak-anak dan orang dewasa di sini.

Kompor Gas Bledug Pala Puyeng

SUatu hari di suatu bale banjar. Sekitar 200 warga banjar sudah berkumpul. Bale banjar itu penuh sesak oleh pria, wanita, dan anak-anak. Mereka sumringah karena akan mengisi formulir calon penerima kompor gas gratis. Program konversi minyak tanah ke gas itu lo…

Nah, semua warga udah dikasi formulir kuesioner dari Pertamina dan PT. Pos Indonesia (logo yang tertera di kop surat). Satu lagi yang dikasi adalah kartu pengambilan gas warna biru. Tiba akhirnya saat pak kelihan banjar memberi instruksi cara pengisian kuesioner. Oya, sebelumnya dia berkali-kali wanti-wanti warga untuk jangan ngisi sendiri, pasti salah deh.

Padahal pertanyaannya di formulir itu kayanya gak ada masalah, kita bisa ngisi ndiri lah. Ternyata jawabannya adalah:

1. Bahan bakar untuk memasak yang digunakan? Instruksi pak instruktor di banjar adalah: coret pilihan minyak tanah/kayu bakar semuanya ya. Kalau nyoret gas otomatis gak dapat kompor gas
2. Tingkat pengeluaran sehari-hari/bulan? Instruksi: jangan coret yang >1,5 juta. Ntar ketahuan gak miskinnya
3. Hasil survey? Instruksi: coret “layak diberikan” Continue reading Kompor Gas Bledug Pala Puyeng