Category Archives: Tulisan

ANBTI Mengajak Terus Melawan UU Pornografi

Oleh LUH DE SURIYANI

Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas meminta elemen masyarakat nusantara terus mendukung penolakan pada Undang-undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi yang saat ini dalam uji materiil yang ditangani Mahkamah Konstitusi.

Hal ini diungkapkanya dalam pidato pembukaan Simposium Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI) untuk kawasan Indonesia bagian timur dan tengah, yang dilaksanakan di Manado, Sulawesi Utara, Rabu. Continue reading ANBTI Mengajak Terus Melawan UU Pornografi

PJKBM Dinilai Diskriminatif dan Birokratis

Hingga hari ke-5 pelaksanaan program Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM), nama program pemberian pelayanan kesehatan gratis dari Gubernur Bali Made Mangku Pastika ini, belum banyak warga yang memanfaatkannya. RS Sanglah, rumah sakit rujukan terbesar di Bali ini belum melakukan sosialisasi pada pasien karena belum ada petunjuk teknis.

JKBM juga dinilai cenderung birokratis dan sangat sedikit layanan yang dibiayai secara gratis. “Kasus darurat seperti kecelakaan malah tak tertanggung,” ujar I Wayan Sukra, Rabu. Sukra tengah mengantre untuk membayar perawatan keponakan perempuannya yang ditabrak motor.
Continue reading PJKBM Dinilai Diskriminatif dan Birokratis

Ibu Ayu, I Cant do What u Did

Jumaendah, demikian nama gadis Ibu Ayu, 50 tahun. Sejak 2005, Ayu telah menemani  sedikitnya 100 pasien miskin dari berbagai wilayah Lombok, Nusa Tenggara Barat yang mencari pengobatan ke Bali. Pada Selasa (15/12), Ayu menemani Riyan Saputra, remaja 15 tahun dari Selong, Lombok Timur.

Riyan saat ini membutuhkan bantuan karena mengidap tumor kelenjar getah bening di lehernya. Riyan terlihat lemah dengan benjolan besar di leher kirinya. Besarnya hampir menyamai ukuran kepala remaja kelas III SMP ini. Ia dirawat di kamar kelas III RS Sanglah Denpasar setelah Rumah Sakit Mataram menyerah dan merujuknya ke Denpasar. Continue reading Ibu Ayu, I Cant do What u Did

Galungan Sunyi di Pulau Menjangan

rusa-menjangan-1

Dua ekor rusa (cervus timorensi) atau menjangan sedang berdiri dengan tenang di dalam Pura Taman Kelenting Sari, Pulau Menjangan, Buleleng, Rabu (14/10). Dua rusa jantan sebesar kuda poni ini seperti penjaga pura. Tanduknya tinggi dan kokoh. Mereka adalah tuan rumah di pulau ini.

Para rusa hanya mengamati ketika sejumlah pengunjung menaruh sesajen di tugu-tugu persembahan, menghidupkan dupa, sampai memulai persembahyangan di Hari Raya Galungan itu. Kehadiran kedua rusa liar ini membuat pengunjung pura terhibur. Continue reading Galungan Sunyi di Pulau Menjangan

Lalu, Bagaimana Nasib Ayu?

Ni Putu Ayu, sebut saja demikian, bayi perempuan 18 bulan itu bersama ibunya telah dianggap meninggal oleh keluarga. Dua perempuan dengan HIV ini oleh balian atau “orang pintar” disebut tidak bisa sembuh dan memang dikorbankan untuk Pura Dalem di desanya di Karangasem.

“Biarkan saya mati, tapi jangan anak saya satu-satunya ini,” rintih Wati sebut saja demikian, ibu Ayu, dalam Bahasa Bali, Selasa (16/9).

Ayu kini 1,5 tahun dan tergolek lemah di dipan kecil bersprei putih ruang anak Rumah Sakit Sanglah Denpasar ketika ditemui. Ia masih tak bisa duduk sendiri, jadi ibunya nyaris sepanjang hari menemani. Ayu sudah dua bulan di ruangan kecil khusus pasien kelas III, kelas termurah karena ibunya mengandalkan surat miskin. Continue reading Lalu, Bagaimana Nasib Ayu?

Perempuan dengan Kanker Serviks di Bali Meningkat

Risiko kematian perempuan di Bali akibat kanker leher rahim atau kanker serviks makin meningkat. Kini, angka kematiannya dua kali dibanding angka kematian ibu di Indonesia.

Prof dr I Ketut Suwiyoga, Kepala Instalasi Kebidanan dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana di Rumah Sakit Sanglah mengatakan insiden kematian akibat kanker serviks di Bali adalah 150 orang per 100 ribu penduduk. Atau sekitar 5000 orang. Sementara angka kematian ibu sekitar 82 orang per 100 ribu penduduk.

“Sebanyak 85% di antara pengidap kanker serviks meninggal karena sudah stadium invasif. Virus sudah menyebar karena terlambat dideteksi,” ujar Suwiyoga, Jumat. Jika virus telah menginvasi tubuh, akan menyebar ke pembuluh limfa dan darah yang mengakibatkan bengkak kaki serta nyeri. Continue reading Perempuan dengan Kanker Serviks di Bali Meningkat

Memanusiakan Kambing untuk Menyejahterakan Perempuan

IMG_7705

Sri Mardani, 43 tahun, ini lebih dikenal dengan nama ibu Sri Kambing. Nama belakangnya didapat sebagai penghormatan dan ikon warga Dusun Embung Rungkas, Desa Ketare, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Diawali dengan dua ekor kambing, Sri memberikan hak anak-anaknya untuk sekolah sampai kuliah, mencegah depresi ekonomi puluhan perempuan yang ditinggal suaminya menjadi buruh migran di Malaysia, penguatan ekonomi rumah tangga, dan menumbuhkan semangat warga dusun menjaga lingkungan. Continue reading Memanusiakan Kambing untuk Menyejahterakan Perempuan

Buka Mata tentang Diskriminasi Odha

Sejumlah pemuka lintas agama menyerukan pembentukan tim relawan dari pemuka agama untuk mengatasi diskriminasi pada orang dengan HIV/AIDS (Odha), Kamis pada dialog lintas agama soal AIDS di Denpasar. Hal ini terkait makin maraknya kasus diskriminasi jenazah Odha di Bali.

Istina Dewi, aktivis pendampingan Odha dari lembaga Bali+ (Bali plus) mengatakan tahun ini sedikitnya ada tujuh kasus jenazah Odha ditolak masyarakat di Bali. Terakhir, akhir pekan lalu di Mengwi, Badung, diskriminasi ini terjadi pada suami istri dengan HIV yang memiliki satu anak lelaki 4 tahun. “Suami istrinya positif, dan memutuskan membuka status HIV. Namun, saat suaminya meninggal, masyarakat melakukan diskriminasi. Continue reading Buka Mata tentang Diskriminasi Odha

Pergulatan Perempuan Pasar Menghadapi Kespro

Kecilnya ukuran kursi dan lamanya duduk, membuat Ni Ketut Partini, 43 tahun, kadang mendapat gangguan pada alat reproduksinya. Ia beberapa kali harus periksa alat kontrasepsi jenis spiral yang dipakainya sejak 15 tahun lalu.

“Saya merasa kadang-kadang pas duduk terus, kelaminnya seperti ditusuk-tusuk sama alat KB-nya. Mungkin talinya longgar ya?” ia tampak bingung menjelaskan keluhannya.

Rasa sakit karena alat kontrasepsi kerap datang karena ia harus banyak duduk. “Kalau berdiri, beteg (bengkak) kakinya,” ibu dua anak ini beralasan. Continue reading Pergulatan Perempuan Pasar Menghadapi Kespro