Ibu Ayu, I Cant do What u Did




Jumaendah, demikian nama gadis Ibu Ayu, 50 tahun. Sejak 2005, Ayu telah menemani  sedikitnya 100 pasien miskin dari berbagai wilayah Lombok, Nusa Tenggara Barat yang mencari pengobatan ke Bali. Pada Selasa (15/12), Ayu menemani Riyan Saputra, remaja 15 tahun dari Selong, Lombok Timur.

Riyan saat ini membutuhkan bantuan karena mengidap tumor kelenjar getah bening di lehernya. Riyan terlihat lemah dengan benjolan besar di leher kirinya. Besarnya hampir menyamai ukuran kepala remaja kelas III SMP ini. Ia dirawat di kamar kelas III RS Sanglah Denpasar setelah Rumah Sakit Mataram menyerah dan merujuknya ke Denpasar.

Sri Hartini, Ibu Riyan minta bantuan Dinas Sosial di Lombok untuk mendampingi ke Denpasar, namun gagal. “Dinas sosial bilang tak bisa bantu karena biayanya besar,” keluh Sri.

RS Mataram, menurut Sri tidak memiliki alat kemoterapi. Karena itu dirujuk ke Denpasar. Ia terlihat masih kebingungan membaca rekam medis Riyan dan jenis obat-obatan yang tertulis di sejumlah dokumen yang dipegangnya.

Dari informasi mulut ke mulut, ia mengetahui ada Ibu Ayu, perempuan dermawan yang kerap membantu pasien-pasien miskin yang dirujuk ke Denpasar. Ayu menyanggupi permintaan Sri.

“Sayang sekali, Riyan sudah divonis tumor stadium III dan penyakitnya sudah sangat parah. Saya terlambat mengetahuinya,” ujar Ayu. Namun, Ayu masih bersemangat dengan mengurus administrasi surat miskin untuk Riyan dan mencarikan tempat kos di Denpasar. “Riyan akan menjalani kemoterapi dan akan sangat mahal kalau bolak balik Denpasar-Lombok,” katanya.

Benjolan tumor di leher kanan Riyan memang sudah terlihat delapan bulan lalu. Benjolan itu diobati selama 1,5 bulan di Lombok dan sempat hilang. Tiba-tiba tiga benjolan sekaligus malah muncul di leher sebelah kiri. Kini sudah sangat besar karena didiamkan dengan alasan takut ke Bali sendiri.

Ayu mengakui sebagian besar pasien yang didampinginya adalah pasien dengan tumor atau kanker yang tak bisa diobati di Lombok. Pasien pertama yang dibantunya adalah anak kecil berusia 8 bulan dengan tumor di kepala.

Ayu menyimpan sejumlah nomor telepon wartawan media lokal di Bali untuk menggalang bantuan bagi pasien yang didampinginya di RS Sanglah. “Saya tidak punya banyak uang dan butuh donasi sukarela,” katanya.

Ikhwal kegiatan pendampingannya ini karena anak perempuannya kerap sakit ketika kecil. “Saya kesulitan bolak-balik mengobati anak saya, jadi saya selalu trenyuh melihat peristiwa seperti ini,” tambah Ayu.

Ketika mengantar Riyan, Ayu tumben didampingi suaminya, Kamaluddin ZA yang telah pensiun sebagai dosen di Universitas Islam Indonesia. “Anak-anak saya juga sering ke Bali tapi bukan untuk liburan. Namun nganter pasien juga,” katanya sambil tertawa.

Banyak pasien miskin yang butuh pendampingan, menurut Ayu untuk mengurus administrasi surat miskin, pengurusan obat, dan pengurusan operasi. Karena itu Ayu dengan fasih hapal nama-nama dokter bedah dan dokter penyakit dalam di RS Sanglah.

Pengabdian Ayu memperlihatkan masih sulitnya warga mengakses sarana kesehatan khususnya untuk kasus darurat dan berbiaya tinggi.

0 thoughts on “Ibu Ayu, I Cant do What u Did”

  1. Salut atas pengabdian Ibu Ayu, semoga tetep menginspirasi ayu-Ayu muda lainnya diluar sana. Fakta getir dunia kesehatan kita memang masih memprihatinkan, ya mbak …

    Terus sebarluaskanlah perihal ini melalui tulisan di blog agar lebih banyak khalayak yang bisa sadar dan kemudian dapat memberdayakan pelayanan sosial (dan kesehatan) kita.

    Salam hangat dari afrika barat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *