Bangganya Menteri kita Punya Saloon




Tak sengaja nonton tayangan berita di Trans 7 tentang uji coba wartawan pake mobil baru menteri. Dua menteri yang menurut aku harusnya paling punya rasa empati dan kemanusiaan, Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar dan Menteri Agama Surya Darma Ali, malah memperlihatkan kesombongan semu atas mobil yang katanya seharga 1,3 milyar itu.

“Pantas dong menteri dapat penghargaan dengan mobil ini. Itu penghargaan negara pada kami. Kalau mobil bagus kan sangat membantu kerja kita,” begitulah kira-kira komentar salah seorang menteri di atas.

Siapa yang menghargai siapa? Emang negara pernah minta persetujuan kita untuk mobil seharga pendapatan lebih dari 2000 pekerja dengan UMR kurang dari Rp 600 ribu itu?

Lalu, jika itu atas nama negara, rakyat juga yang harus menanggung pertamax, biaya cuci, sopir, perawatan, dempul kalo tergores, dan lainnya yang belum sama sekali dipublikasikan… Entahlah, apakah kita kuat nafas kalau semua biaya itu dijabarkan.

Sementara Menag dengan lugunya berpose di sebelah mobilnya dan dijepret banyak wartawan. Tak kalah dengan atlet F1 ketika menyongsong balapan baru. Tapi pose ini mungkin diminta wartawan. Tapi kok mau? Pose pak menteri sungguh membuat dada saya sesak. Menyakitkan. Apalagi komentar-komentarnya. Nyaman pak? “Nyaman sekali.”

Wartawan TV7 yang mencoba mobil itu memperlihatkan isi mobil yang membuat menteri-menteri baru kita girang kepalang. Ndak usah ditambahin, girang di atas penderitaan rakyat. Kalimat ini bagi menteri kita barangkali udah basi. Tak lagi bermakna.

Ada kulkas di balik jok kulit kursi. Ada monitor dengan huruf2 kanji Jepang. Si Saloon memang impor Jepang. Tak ada huruf latin atau teks inggris yang kulihat di petunjuk monitor. Wah, hebat dong semua sopir dah bisa baca teks kanji ya?? Monitor pintar tapi tak ngerti yang diinstruksikan, piye jadinya ya?

Trus ukuran mobil juga besar, isinya cuma 1 orang. Yang jelas, ndak mungkin berani lewat di jalan yang macet atau masuk kawasan jalan pasar. Takut kesenggol gerobak. Kalau begitu logikanya, bagaimana mobil mewah memberi jaminan menteri bekerja lebih baik? Wong kalau di mobil itu sama saja ndak tau macet, semrawutnya jalan pasar, gepeng. Dengan mesin 3000 cc, apakah cocok dengan jalanan Jakarta yang tak pernah lengang?

Senin, 28 Desember 2009 | 11:15 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Para menteri Kabinet Indonesia Bersatu II mulai mengenakan mobil dinas baru yang mentereng seharga Rp 1,3 miliar. Mobil dengan merek Crown Royal Saloon ini menggantikan Toyota Camry yang telah menemani para menteri KIB selama lima tahun.
Mobil dinas ini terlihat digunakan oleh sejumlah menteri jajaran menteri perekonomian saat mengggelar rapat terbatas di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, Senin (28/12/2009) pagi ini.
Bahkan, berdasarkan sumber, beberapa menteri kabinet sudah mulai memakainya sebelum perayaan Natal atau beberapa pekan lalu. Pagi ini, mobil berkapasitas mesin 3000 cc yang merupakan generasi terbaru dari jajaran jenis Toyota Crown itu tampak diparkir berjajar di halaman Gedung Menko Perekonomian. “Kalau mobil baru itu pasti enak. Semua mobil baru pasti enak. Namun, kalau dibandingkan dengan Camry baru, masih bagus Camry baru. Terus AC-nya kurang dingin,” tutur seorang sopir pribadi menteri.

0 thoughts on “Bangganya Menteri kita Punya Saloon”

  1. Kadang kita juga perlu melihat sisi éntitlements yang berlaku untuk sekelas pejabat negara setingkat menteri.. bagi kebanyakan pejabat dari negara dunia ketiga, umumnya seperti ini, sama dengan mereka di negeri si bau kelek ini 😀

    Meski jalan rusak, tetap saja mereka ngotot dengan Mercedes S-Classnya, kondisinya lebih ironis.. sense of crisisnya masih rendah, namun demikian, mari kita cermati bahwa dengan éntitlements mobil baru dan berbagai tunjangan negara ini, istilah “pay per performance”harus sesuai agar tidak –> berat di bungkus! 😀

    Salam hangat dari afrika barat!…

  2. kenapa nggak pake mobil murah aja (xenia, avanza, jazz, city, baleno, dll), terus kan dapet sisa uang, bagikan deh ke masyarakat yg kurang mampu.. ah tapi mungkin gampang ngomongnya aja, hhe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *