Category Archives: Bebas

Dialog (Jangan) dalam Diam

foto @eshasw, doi salah satu dari personil. aminnn..

Minggu pagi, sudah pukul 9, detaknya jarumnya tak mungkin berhenti. Bani, pria 5 tahun itu saya siapkan ember hitam untuknya berendam. Laptop lusuh saya buka dan memasukkan keping CD berusia dua hari dari tanggal beli di Antida. Mengawali Hari, track pertama mengalun.

“Apa yang kita lihat/apa yang kita terima/apa yang kita rasa/semua karna kita sendiri,” suara datar Cok Bagus Pemayun sayup-sayup di antara kucuran air di tempat Bani mandi. Saya bayangkan Bani di masa depan, remaja yang dikejar pertanyaan, cita-citanya apa? Continue reading Dialog (Jangan) dalam Diam

Mahakarya Hujan, Petir, dan Guntur

Mahakarya…mahakarya..

Ikhwal mahakarya ini lahir ketika Bani, lelaki 4  tahun ini menciut nyalinya mendnegar gelegar guntur dan kilatan petir, plus hujan yang datang tiba-tiba. Ini bukan yang pertama dia super ketakutan seperti itu. Sebelumnya pernah sampai sembunyi di bawah meja di kantor Sloka, trus lima menit kemudian ketiduran di kolong meja.

Berkali-kali diajak ngobrol bagaimana terjadinya hujan, dan kenapa harus ada guntur dan petir, ga mempan. Sampai bikin istilah petir itu ibarat kentutnya langit karena dia sakit perut kebanyakan angin dan air hujan. Ga ngaruh… Continue reading Mahakarya Hujan, Petir, dan Guntur

Histeria dan Frustasi di Perangalas

Ditha mengajar membaca di kamar tidur

“Yang dot dadi gigolo, mbok,” sahut Gede Adi, sebut saja demikian dengan yakin. Pria muda 16 tahun yang ngebet disukai banyak perempuan ini setiap hari bangun jam 5 pagi. Rambut setengah pirangnya  yang kelimis menjadi lepek ditindih sedikitnya 10 kilogram aneka buah hingga jam 4 sore.

Adi pasti menjadi gigolo yang kuat dan tahan banting, jika Ia tetap pada pendiriannya kelak.  Setelah bosan menjadi anak buah juragan buah di kompleks Desa Perangalas, Lukluk. Continue reading Histeria dan Frustasi di Perangalas

I’am (only) 35 days single parent, hore…

Mendengar kabar beberapa hari ia akan kembali sungguh menyenangkan. Dua minggu terakhir ini aku sudah menghitung hari.  Rasanya tak tahan lagi. Hm, ini mirip sebuah lagu. Ingat jingle-nya tapi lupa penyanyinya.

Hampir tiap hari aku bersama Bani, termasuk mengajaknya ke tempat kerja. Dan memarahinya (dengan rutin, rata-rata 2 kali sehari) seminggu terakhir.  Sumber kemarahanku, coba kuingat-ingat dulu. Pertama, kalau Bani lemot.

Contohnya, pagi-pagi pas ke warung mo beli bahan masakan, Bani yang lagi nonton teve atau main laptop teriak minta ikut. Trus, aku yang sedang di sadel motor menunggunya dengan meriang karena dia pasti bengong dulu di depan pintu, main-main dengan sandalnya, kadang malah pake duduk. Dipanggil, gak nyahut. “Bani, ikut ndak?” kataku sambil berancang-ancang. “Bundaa…..(melolong) ikut,” masih males-malesan, bukannya mempercepat. Continue reading I’am (only) 35 days single parent, hore…