Dialog (Jangan) dalam Diam




foto @eshasw, doi salah satu dari personil. aminnn..

Minggu pagi, sudah pukul 9, detaknya jarumnya tak mungkin berhenti. Bani, pria 5 tahun itu saya siapkan ember hitam untuknya berendam. Laptop lusuh saya buka dan memasukkan keping CD berusia dua hari dari tanggal beli di Antida. Mengawali Hari, track pertama mengalun.

“Apa yang kita lihat/apa yang kita terima/apa yang kita rasa/semua karna kita sendiri,” suara datar Cok Bagus Pemayun sayup-sayup di antara kucuran air di tempat Bani mandi. Saya bayangkan Bani di masa depan, remaja yang dikejar pertanyaan, cita-citanya apa?

Lagu pertama dari album berjudul Perspektif Bodoh tiga bujang, Nosstress ini berteriak dalam sunyi. Memberikan peringatan dini bagaimana memulai duduk berbicara dengan anak muda. Saya juga tergolong muda sih, di bawah 30 tahun, walau sebentar lagi beranak dua. Yehaa..

Baiklah Bani, (di masa depan berusia sekira 20 tahun), “kamu mau jadi sesuatu yang kau tahu itu aku,” begitu lirik Mau Apa, track ke-7. Lagu ini saya rasa penuh kemarahan, tapi disenandungkan dengan ceria.

Man Angga, bujang asal Ulakan, Karangasem, yang kerap saya lalui pas pulang kampung di Pekarangan, Ngis ini tuntas menjawab, “Engken man, apa gae?” pertanyaan yang pasti ada di acara keluarga.

Seolah-olah bekerja hanya duduk, di meja rapi, menghadap layar monitor. Tidak berlaku untuk yang melakukan ini di rumah. Harus di bangunan yang disebut kantor. Ketiga biduan ini menungkas, “Bekerjalah walau hanya diam,” dalam On Job Trainning, track ke-5.

Saya tidak tahu berapa tahun trio akustik Angga-Kupit-Cok ini menyiapkan dialog-dialog tajam pada diri sendiri,tapi tak mau menyalahkan orang lain dalam lirik-lirik album ini. Untuk tiga laki-laki dewasa, kalau tak berkawan intim, susah rasanya menyelaraskan pesan orasi mereka yang reflektif ini.

Saya, ibu, merasa pahlawan itu adalah kamu, kita yang bisa berbicara dengan mereka. Bukan hanya bertanya, mau apa? Nosstress, dalam album perdananya ini menjadi teman sebaya yang asik bagi Bani kelak. Itu pasti.

“Sekarang kukerjakan yang harusnya bulan lalu/sorenya kukerjakan yang harusnya minggu lalu/sial malamnya semua itu sudah berlalu/esok paginya kumulai lagi dengan… tunda tunda tunda sampai kau menua…(Tunda).”

Hahaha, semua orang tua juga melakukan itu, tak hanya kamu Bani. Apakah kamu siap memijat punggung bunda, boy? Pake balsam yah.

“Bundaaaa, aku boleh sikat gigi?” teriakan bocah memecah dialog imajinerku dengan pria muda itu.

Coba dengarkan mereka di www.nosstress.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

6 thoughts on “Dialog (Jangan) dalam Diam”

  1. menyenangkan sekali bani tumbuh dengan lagu2 di luar arus utama. kesehariannya akrab sama nosstress, dialog dini hari, efek rumah kaca, bahkan marjinal.

    tumbuh. tumbuhlah anak kami. dengan segala sisi yang kita punya saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *