Perlukah Saya ke Ubud Village Jazz Festival?




image: ubudvillagejazzfestival.com
image: ubudvillagejazzfestival.com

Panitia Ubud Village Jazz (UVJ) Festival menantang khalayak. Ini baru event jazz beneran. Banyak festival jazz, tapi bukan jazz.

Gitu katanya. Saya diam aja, wong ndak paham. Tapi mari kita ricek argumen pembuat UVJ yang akan dihelat 12-13 Agustus ini.

“Jazz bukan what tapi how. Bukan lagunya tapi bagaimana improvisasi seluasnya. Bukan tempelan,” kata Yuri Mahatma, salah satu pendiri UVJ dan direktur artistik ini saat temu media di Rumah Sanur. “Musisi tak dibebankan untuk menghibur, silakan mau gila,” lanjutnya.

Keistimewaan lain, lanjut Yuri, musisi yang mengisi adalah 50% tinggal di Bali, 25% luar Bali, dan 25% luar negeri. Sementara versi pendiri lain Anak Agung Anom Wijaya Darsana, UVJ berniat jadi ikon jazz di Indonesia yang sedikit idealis. Seperti apa? Selain komposisi musisi tadi, juga karena prosesnya yang dimulai dengan dana minim ketika pertama kali dihelat.

“Berawal dari komunitas, kurang dana. Lalu ada yang support panggung, sound, dan lainnya. Mulai 2012 buat workshop dan event kecil di Serambi Art Antida,” tuturnya singkat. Serambi Art Antida yang cukup luas itu kini terbagi, menyisakan studio dan panggung kecil bernama Antida Sound Garden yang dikelola Anom.

Di tahun ke-4 ini, dalam booklet UVJ sudah tertera puluhan sponsor termasuk logo promosi pemerintah Pesona Indonesia dan sambutan Menteri Pariwisata. Juga terbaca menjadi sisters festivalnya Ubud Writers & Readers Fest dan Bali Spirit Fest.

Nah, sudah masuk agenda elit, kan? Hehe… Ketiganya juga kerap menghelat event di ARMA Museum, venue UVJ tahun ini.

Yuri dan Anom memang melengkapi. Satunya aktif bermusik membuat Underground Jazz Movement dan satunya fokus di event organizer karena keahliannya utak atik sound.

Apakah sudah menjawab UVJ mare seken perhelatan jazz? Penggemar panggung jazz mungkin bisa menjawab. Keduanya tak banyak membagi kisah antusiasmenya (yang pasti super) di temu media ini. Misalnya membahas tema tahun ini keunikan dan toleransi. Toleransi seperti apa?

Bahkan Yuri saat ditanya salah satu wartawan apakah ada rencana membuat sesi khusus untuk penulis, membagi pengetahuan musik. “Ada gak yang mau?” tanyanya balik.

Sementara untuk musisi ada Jazz Summer School yang dihelat 8-10 Agustus di sekolah musik Farabi bagi 40 siswa.

Barisan musisi yang akan mengisi UVJ 2016 adalah Peter Bernstein, Ian Scionti, Oele Pattiselanno, Reuben Rogers, Gregory Gaynair, Michael Setiawan, Piotr Orzechowski, Margie Sagers, Mia Samira, Louis, Nita Aartsen-Jean Sebastien, Youn Woo Park Trio, Bali Gypsy Fire, Salamander Big Band, The Daunas, Sandy Winarta Trio, Underground Jazz Movement, Angin Asia, Energetic Zen Quartet, Joyfe  Jazz Quintet, dan Yamaha Music Project. Wah, om Saylow musti buat contekan profil-profil musisi ini biar agak pinter di media relation. Bhihi..

Demikian terpapar di booklet. Ohya, di Yamaha Music itu ada deretan musisi Indonesia yang akan membawakan lagu Radiohead dengan gaya jazz. Salah satunya Is, ditulis gitaris dan vokalis Umbrella Teduh. Hihi..Bikin pangling.

Ohya, duo Archimetriz Klikz dan Diana Surya kabarnya mengonsep arsitektur panggung dengan elemen desa melalui tiga panggung, Giri, padi, dan Subak stage.

Apa sih komposisi jazz beneran? Saya tahunya mengandung alat musik piano, trompet, saksofon, gitar. Merujuk kelahirannya di Amerika Serikat sebagai musik rakyat, alat-alat musik itu bisa jadi tradisional a la sana. Elemen lain yang sekelebat pernah saya lihat improvisasi dan komunikasi. Tiap musisi dapat waktu yang hampir sama untuk unjuk diri. Tak hanya vokalis. Lagu memang bukan sajian utama.

Nah masalahnya harus punya keahlian bermusik untuk tahu mainnya benar atau gak. Apalagi saya yang biasanya lihat lagu dari liriknya. Apakah saya perlu beli tiket UVJ? Kalau ndak ngerti musik, mungkin bisa menikmati atmosfernya? *itung kancing*

2 thoughts on “Perlukah Saya ke Ubud Village Jazz Festival?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *