Digigit di Sumba Timur




Kunjungan pertama saya di Sumba Timur adalah “gigitan” dari anak-anak negeri savana ini.

Usai makan siang dari bandara dijemput Yunae dari Wahana Visi Indonesia area Sumba Timur kami menuju kantor. Ibukota kabupaten, Waingapu tampak gersang, sedikit pepohonan di pinggir jalan dan musim panas yang makin membara di khatulistiwa. Bali juga sedang panas-panasnya.

Saya diajak ngadem di ruangan ber-AC. Kantor @SlokaInstitute di Denpasar AC juga tapi merek angin cepoi-cepoi dari kipas angin yang kadang berbunyi ngik-ngik.

Kemudian datang Uli yang akhir kopi darat setelah beberapa hari koordinasi lewat telpon. Ia bersama adiknya disusul dua remaja perempuan lain yang masih berseragam sekolah. Mereka tim Forum Anak Sumba Timur dan beraktivitas rutin di kantor WVI.

Ketiganya segera sibuk membuat sesuatu. Ada yang utak atik laptop, dua lainnya menulis di buku tulis.

image

Uli menyodorkan majalah karya Forum Anak ini dan sebuah buku terbitan anyar akhir 2015. Judulnya Kami Daki Bukit Terjal tapi Tidak Tradisi.

Awalnya judul ini membingungkan saya. Isinya kompilasi karya lomba Hari Anak Sumba Timur. Na Anamu Writer atau anakmu penulis, demikian nama kompetisi ini.

Saya sangat ingin baca naskah asli mereka. Saya pikir jika materi esai semenggigit ini dibaca versi sebelum editingnya mungkin bisa lebih merasakan emosinya.

image

Saya seperti dalam sebuah longmarch, aksi dengan orasi-orasi protes belenggu tradisi yang menyakiti mereka. Jadi “hamba”, belis pernikahan, dan stigma sebagai korban marjinalisasi Indonesia Timur.

image

2 thoughts on “Digigit di Sumba Timur”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *