Peken Rubaya dengan Latar Gunung Agung




Saya sangat kangen pasar atau pekenan ini. Sayang sudah direlokasi. :'(:'(:'(

Lokasinya hanya 5 menit dari rumah bli Nyoman Suastika, tempat saya dan Mahayanthi menginap saat itu. Di areal banjar Tulamben.

Suastika adalah salah satu tokoh muda desa yang sangat sibuk. Pemandu selam, mendirikan organisasi pemandu selam lokal, mengurus sampah, pewarta warga, dan lainnya.

Beruntung sekali saya merasakan aura Rubaya. Baru saja masuk areal pasar sudah kepincut dua ibu-ibu ini.

image

Mereka jual garam lokal dari pesisir laut Kubu, ikan pindang tongkol segar, dan sayur kacang kebun sekitar. Tinggal gongseng, lengkaplah menu sarapan hari itu. Nyammm….

Berjalan masuk beberapa meter lagi mata mentok lagi sama pedagang ini.

image

image

Oh babe, jualan ibu ini syurga. Entah, mungkin ini lebih riil dibanding surga yang abstrak.

Dia juga memajang dagangannya dengan cantik. Susunan daun mengelilingi keranjang lalu aneka jajanan di dalamnya. “Bungkus 10, bu.”

Saya menoleh ke kiri di kios ini. Upsss…

image

Yang maha besar Gunung Agung mendongak dengan sempurna. Ibu saya merantau ke Denpasar saat Agung meletus 1963.

Walau belum puas cuci mata di dagang jaje Bali ini, saya menyongsong sang gunung ke Barat. Masuklah ke lorong arah kaki gunung ini.

image

image

Ada sebuah pura dan pedagang yang disiram cahaya mentari pagi.

Dan saya sangat ingin menikmati ini lagi. Tapi kini tinggal kenangan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *