I’am (only) 35 days single parent, hore…




Mendengar kabar beberapa hari ia akan kembali sungguh menyenangkan. Dua minggu terakhir ini aku sudah menghitung hari.  Rasanya tak tahan lagi. Hm, ini mirip sebuah lagu. Ingat jingle-nya tapi lupa penyanyinya.

Hampir tiap hari aku bersama Bani, termasuk mengajaknya ke tempat kerja. Dan memarahinya (dengan rutin, rata-rata 2 kali sehari) seminggu terakhir.  Sumber kemarahanku, coba kuingat-ingat dulu. Pertama, kalau Bani lemot.

Contohnya, pagi-pagi pas ke warung mo beli bahan masakan, Bani yang lagi nonton teve atau main laptop teriak minta ikut. Trus, aku yang sedang di sadel motor menunggunya dengan meriang karena dia pasti bengong dulu di depan pintu, main-main dengan sandalnya, kadang malah pake duduk. Dipanggil, gak nyahut. “Bani, ikut ndak?” kataku sambil berancang-ancang. “Bundaa…..(melolong) ikut,” masih males-malesan, bukannya mempercepat.

Ini masuk kategori tarik-ulur yang cepat membuat aku panas. Dalam kategori ini ada beberapa jenis kerewelan lainnya di bidang mandi, makan, bangun, dan lainnya. Dan kategori inilah yang kerap sukses memantik amarahku. Mungkin Bani tahu, walau dia tarik ulur seperti ini, bundanya toh cumin galak di mulut. Jadi, santai wae.

Aku sering tanya langsung ke Bani, kenapa dia senang sekali lemot tanpa alasan. Belum dijawab, mungkin bingung mo jawab apa. Karena dia belum paham ini memang jurus cari perhatian orang tua. Dan sangat sukses menarik perhatian emosiku.

Biasanya, Bani memang sering seperti ini, dan aku jarang teriak marah-marah sambil mengintimidasi Bani karena sebelum bablas, pasti aku bisa mengalihkannya ke ayah. “Ayah, plis urus Bani.” Nah, beres. Tapi kalau ndak ada ayahnya?

Oke, ini kategori kedua,  kekerasan fisik. Bani biasanya memang tak suka dibiarkan begadang sendirian. Nah, selama aku jadi single parent, jelaslah dia membuat aku jadi korban. Dia akan melakukan segala cara yang menyakitkan hati dan fisik untuk menemaninya terjaga, sampe jam 1an!  Ini akibat dia suka bobo sore dan malam maen game di laptop sampe ga inget dah tengah malam.

Cara dia antara lain, menusuk-nusuk mataku dengan benda terdekat yang ada. Memukul kepala, menjambak rambut, menginjak-injak, dan segala kekerasan dalam rumah tangga yg pasti dilaporkan jika dilakukan oleh suami. Kalau ada ayah, aku dengan santai bisa bangunin ayahnya yg udah bobo duluan, “Yah, Bani tuh!”

Oh anakku, berikan hak jawab dan klarifikasi atas tingkahmu kalau kau sudah bisa membaca blog ini ya.

Pun, seberapa dia sering menangis, atau usai dihukum masuk kamar mandi, Bani selalu berakhir di pelukanku. “Bunda, Bani sayang sama bunda,” kata pria 3,8 tahun ini tersedu.

15 thoughts on “I’am (only) 35 days single parent, hore…”

  1. kalo cara sepuh sepuhku menganjurkan untuk mbawa baju yang ditinggalkan.. secara mistis akan mempengaruhi yang pergi untuk mengurangi kekuatan kontak telepati..

    tapi yang penting sekarang kan coklat belgia-nya sudah di perut bani semua.. 🙂

  2. Sing sabar yah, juragan.. kadang ‘gogoda’ (Baca: Godaan) itu datang dari lingkup terdekat, selain sebagai ‘test-case’ buat menguji kesadaranmu.. mungkin mulai mengajak diskusi Bani layaknya seorang dewasa bisa mendapatinya mulai belajar mengerti.. didoakan agar sabar dan Bani secepatnya bisa faham akan perjuangan Bunda-nya dalam mengurusnya ini.. salam hangat dari afrika barat.. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *