Donor Darah Pertama




bloody-balebengong Bloody Valentine pagi ini di Lapangan Renon diberkahi. Cuaca sangat cerah hingga tengah hari ketika kotak bank darah PMI Badung penuh hingga sulit ditutup. Jam 11.30, diputuskan waktu donor usai, sesuai rencana. Sekitar pukul 2, awan hitam tiba-tiba datang, dan sesaat kemudian, hujan luar biasa lebat.

Hasil sumbangsih darah hari ini adalah 52 kantong darah. Sebagian besar golongan darah O, lalu B. Hanya 4 kantong tipe A, dan dua kantong saja yang AB. Tak heran, dua tipe darah ini sulit dicari ketika banyak pasien membutuhkan.

Tak perlu papan pengumuman untuk memanggil para pendonor dan pengunjung lapangan Renon. Bloody Valentine, tag acara ini yang ditulis di spanduk, tempat tidur lipat, dan perangkat tensi darah sudah mudah diidentifikasi sebagai acara donor darah. Selain itu, para pendonor yang mayoritas anak Bali Blogger Community memang sudah siap sejak pagi. Maklum, sebagian dari mereka baru sekali ini donor darah, jadi mungkin exited. Sayalah contohnya.

Haha..

Selain itu, sejumlah dokter-dokter muda dari Tim Bantuan Medis Fakultas Kedokteran Unud dan Kisara Youth Clinic pun sibuk memberikan pelayanan kesehatan gratis, mulai tensi darah, konseling, dan pemberian obat gratis. A Healthy day.

Nah untuk saya yang baru pertama kali donor, ada beberapa hal yang baru. Pertama, pastikan jika darah kita tidak terpapar virus seperti hepatitis B, C, sifilis, dan HIV.

Kemudian, tes hemoglobin yang disiapkan PMI. Tes ini untuk mengetahui apakah kandungan oksigen dalam darah kita cukup baik untuk memompa darah kembali setelah donor. Kalau oksigen dalam darah tidak cukup, kemungkinan pendonor bisa pingsan, atau hal buruk lainnya. Sisanya tinggal tidur terlentang, dan tanpa disadari sekantung darah Anda akan sangat berguna bagi siapa pun yang membutuhkannya.

Eh, terakhir. Bersyukurlah jika nanti PMI tidak menelepon Anda tiba-tiba usai donor. Jika ditelepon, artinya kemungkinan darah Anda terpapar penyakit yang tidak disadari. Karena sampel darah pendonor akan diperiksa laboratorium untuk memastikan darah aman didonorkan pada orang lain.

“Itu enaknya donor. Hitung-hitung kita check up kesehatan. Kalau ada penyakit, pasti dikasi tahu PMI,” ujar Hennie, dokter muda yang rajin donor ini.

0 thoughts on “Donor Darah Pertama”

  1. oming dari dulu selalu pengen ikutan donor darah, tapi selalu gak berhasil dan gak diterima..
    Bukan karena penyakit euy!, tapi tensinya gak pernah nyampe!
    Penyakit juga ya namanya tu?
    Heheheh…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *