Belajar jadi Wartawan Harian (lagi)




Rencana awal bulan Agustus adalah:
Nulis beberapa feature untuk JP (sebulan 3 kali lah) ? kuliah nyari akta IV 6 bulan ? jadi guru lepas/honorer di SD deket rumah (biar bisa sesekali ngajak Bani) ? buat beberapa rencana bisnis online.

So, pekerjaan yang hampir semuanya bisa dilakukan di rumah. Asoyyy…

Akhir Agustus rencana itu menjadi:
Nulis artikel nyaris tiap hari ke JP. Kuliahnya habis lebaran (semoga ga alasan untuk ngeles aja). Ayahnya Bani udah ga tahan untuk mulai usaha online-nya (eh… utangan renovasi rumah kemaren dibayar dulu kalee…)

Ternyata, jalan hidup itu bisa berubah dalam sekejap. Maklum ta biasa membuat perencanaan jangka panjang. Minjem kata Pak Alit, unplanned people. Yap, its me!

Begitulah, manusia tidak direncanakan ini. Kembalilah aku ke masa empat tahun silam, ketika masih bersemangat liputan harian. Ah, kalau inget jaman dulu, jadi ngeri. Satu hari bisa buat 3-5 laporan. Maklum, ketika di detik.com, satu berita bisa dipecah jadi 3 laporan. Biar keliahatan rame dan ter-update terus gitu beritanya. Padahal topiknya sama. Hehe…

Kalau sekarang sih, udah beda. Udah mature, liputan gak mau dong yang sembrono-asal lalu aja. Aih…..

Maksud hati ingin buat artikel dengan isu-isu non mainstream, apa daya diriku tidak disiplin. Rencana liputan berubah terus, tergantung perhatianku saat itu. Jadi agak pontang-panting. Udah unplanned, ga disiplin. Kompak banget ya…

0 thoughts on “Belajar jadi Wartawan Harian (lagi)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *