di mana pikiran beristirahat

Warnai World Silent Day dengan Caramu Sendiri




Novia Claudia Wijaya, 16 tahun, sibuk menjawab pertanyaan kenapa harus mematikan handphone selama empat jam, Minggu, di Vihara Vimalakirti, Kabupaten Badung. Remaja perempuan ini sudah tak asing dengan pertanyaan seperti itu karena hal yang sama juga dihadapinya seminggu ini di sekolahnya, SMAK Harapan Denpasar.

Sejak seminggu terakhir ini ia giat menggalang 10 juta tanda tangan untuk World Silent Day (WSD). “Karena sulit meminta orang menonaktifkan handphone, walau cuma 4 jam hari ini, kami akan memungut sampah plastik saja dia areal vihara,” ujar Novia.

Novia mengaku lebih mudah menggerakkan para orang tua di vihara dari pada teman-teman dan guru di sekolahnya. Karena itu, ia memanfaatkan kegiatan rutin diskusi umat Budha di Vihara Vimalakirti untuk menceritakan kenapa ia tertarik dengan ide WSD.

Saat itu di Vihara, umat yang datang tengah mendiskusikan soal kemandirian dan kemampuan personal. Sekitar 200 orang umat membuat tiga kelompok diskusi. Kelompok pria mendiskusikan mengenai kemandirian wanita, demikian sebaliknya. Sementara kelompok anak-anak dan remaja juga mendiskusikan persolan sekolah dan lainnya.

Novia menyeruak di tengah-tengah diskusi dan membawa isunya sendiri soal WSD. “Saya berhasil mendapatkan 350 tanda tangan dari sekolah dan ingin lebih banyak lagi dari umat di vihara saya ini,” katanya.

Jadilah, siang itu para umat sepakat untuk melakukan kerja bakti memungut sampah plastik di halaman dan luar Vihara. “Pokoknya hal sederhana soal penyelamatan lingkungan saja,” kata Ivy Sudjana, salah seorang pengurus vihara.

Menurutnya ide WSD ini bisa membumikan konteks Hari Nyepi di Bali yang lebih sarat dengan nilai ritual keagamaan. “Bahkan ketika Nyepi orang-orang kalap belanja, seperti dunia mau runtuh saja,” sentil Ivy. WSD bisa mendukung gagasan soal Nyepi ke seluruh dunia dan membuatnya sebagai gerakan global.

Sementara Lia Djohan, seorang ibu rumah tangga juga punya cara lain. “Suami dan anak-anak saya biasa sarapan di luar pada Hari Minggu. Saya ajak sarapan di rumah saja untuk empat jam WSD,” katanya. Akhirnya mereka sekeluarga membuat sarapan sendiri di rumah dan membaca. Lia sepakat bahwa kesadaran harus datang dari keluarga tentang lingkungan. “Semua orang punya cara sendiri, dan asik sekali kalau tau apa yang dilakukan orang lain,” ujarnya soal WSD.

Sejumlah LSM dan individu yang tergabung dalam Bali Collaboration for Climate Change (BCCC), pencetus WSD sebelumnya pada Sabtu melakukan kampanye dengan rali sepeda menelusuri Denpasar dan cleanup sungai, Tukad Badung.

Sedikitnya 100 remaja mengikuti kegiatan ini. Selama dua jam bersepeda mereka menyusuri jalanan Denpasar sambil memungut sampah plastik. Dilanjutkan memungut sampah di beberapa ruas Tukad Badung dan Pasar Badung, pasar tradisional terbesar di Bali.

Kegiatan ini diakhiri dengan pembacaan petisi di Lapangan Puputan Badung, Denpasar. “Kami, penandatangan dan pendukung World Silent Day (Hari Hening Sedunia) dengan ini meminta agar pemerintah provinsi Bali dan pemerintah pusat Republik Indonesia untuk mengadopsi 21 Maret sebagai World Silent Day dan menyampaikan gagasan Hari Hening Sedunia agar diadopsi oleh PBB,” demikian bunyi petisi yang dibacakan Siska Kusumadewi, seorang remaja, Koordinator aksi WSD tahun ini. Petisi itu dilampiri dengan 9000 buah tanda tangan masyarakat hasil penggalangan dukungan selama dua tahun ini.

Menurut Siska, ada beberapa perusahaan dan lembaga yang menyatakan siap mengurangi aktivitas selama empat jam pada 21 Maret. Misalnya jaringan swalayan Hardys di Bali, komunitas web developer, dan lainnya.

WSD diputuskan dilaksanakan setiap 21 Maret sebagai respon terhadap Konferensi Internasional tentang Perubahan Iklim pada akhir Desember 2007 di Bali. WSD pertama pada 21 Maret 2008, dengan menyerukan kepada publik untuk mengurangi penggunaan peralatan elektronik selama empat jam, pada jam 10.00 – 14.00 waktu setempat.

Tak hanya di Bali, WSD juga mendapat respon dari berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri melalui website www.worldsilentday.org.

http://www.thejakartapost.com/news/2010/03/22/bali-residents-observe-world-silent-day.html

6 Comments

  1. April 1, 2010    

    Hmm…, 10 juta tanda tangan…? Targetnya bukan main-main Mbak :)

    • April 6, 2010    

      10 juta gampang kok mas cahya. Saya saja bisa kok membuat 10 tandatangan. Tinggal goras-gores saja.

      Tapi, salut untuk semangat para penggagas dan penggalak WSD. Semoga sukses..

  2. April 3, 2010    

    betul, tapi salut sama semangatnya
    sertakan tanda tangan saya, bisa gak jarak jauh? ;-)

  3. April 26, 2010    

    wah, salut sama adek Novia ini…benar-benar salut!

  4. April 29, 2010    

    Salut sama Novia deh,
    gak kaya aku yang kadang masih suka cuek sama lingkungan

    Salam kenal ya Kak luh De..
    titiang Blogger Bali

    • lodegen's Gravatar lodegen
      April 30, 2010    

      salam kenal dik purnama. hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>