Mahakarya Hujan, Petir, dan Guntur
February 8th, 2011Mahakarya…mahakarya..
Ikhwal mahakarya ini lahir ketika Bani, lelaki 4 tahun ini menciut nyalinya mendnegar gelegar guntur dan kilatan petir, plus hujan yang datang tiba-tiba. Ini bukan yang pertama dia super ketakutan seperti itu. Sebelumnya pernah sampai sembunyi di bawah meja di kantor Sloka, trus lima menit kemudian ketiduran di kolong meja.
Berkali-kali diajak ngobrol bagaimana terjadinya hujan, dan kenapa harus ada guntur dan petir, ga mempan. Sampai bikin istilah petir itu ibarat kentutnya langit karena dia sakit perut kebanyakan angin dan air hujan. Ga ngaruh… Read the rest of this entry »
Kelas Jurnalisme Warga VI, yehaa…
January 28th, 2011nu jayus, mai ngejus
January 19th, 2011Seminggu sekali
January 17th, 2011Seperti hari lainnya, Bani minta uang jajan pada ibunya.
“Bunda, minta duit. Mau beli kue,” ujar Bani.
“Beli apa nak,” jawab si ibu seperti biasa.
Ibu memberi Bani uang Rp 2000, karena lembar seribuan tak tersedia di dompetnya. Read the rest of this entry »
Pada Gelahang, Sebuah Negoisasi
January 11th, 2011I Ketut Sukarta dan Ni Made Lely Nawaksari kini bisa bernafas lega. Mahkamah Agung mengabulkan putusan peninjauan kembali atas putusan pengadilan di Bali yang memvonis tak sah perkawinan Pada Gelahang (PG) pada November 2008 lalu. Salinan putusan ini belum diterima, namun telah dipublikasikan di website MA pada September lalu.
Hampir dua tahun mengikuti proses penyidikan dan sidang pengadilan, Sukarta mengaku sangat lelah. Pertama, pasangan yang tinggal di Surabaya ini shock perkawinan mereka yang sah secara adat dan dikuatkan pula dalam akte perkawinan dengan status PG diadukan oleh ibu tiri Lely.
Kedua, pasangan tiga putra dan putri ini tak mengira masalah keluarga harus diselesaikan secara hukum. “Ibu tiri istri saya menganggap perkawinan PG menyalahi aturan leluhur dan meyakini leluhur akan menghukum karena kami sepakat sebagai pasangan yang kapurusan (punya status yg sama),” katanya saat dihubungi, Selasa (26/10). Read the rest of this entry »
Hai..Cek cek dung
January 10th, 2011Kotaku Ramah (Sesaat)
January 8th, 2011Ribuan warga berkumpul di nol kilometer Kota Denpasar, merayakan akhir tahun 2010 dengan menikmati kenangan akan kota yang kini makin padat penduduk ini. Warga berharap kota Denpasar yang lebih baik tahun ini.
Sejumlah warga terlihat tertegun dan kadang tertawa menikmati potongan-potongan gambar yang direkam oleh beberapa komunitas fotografer di Denpasar.
Seorang perempuan pedagang canang yang bengong menunggu pembeli. Si pedagang canang menyandar di tembok bangunan tua yang masih sedikit tersisa di kawasan heritage Jalan Gajah Mada. Potret ini dibingkai dalam wadah kaleng minyak yang diterangi lampu neon di dalamnya. Ada juga potret kusir dokar yang juga melamun menunggu pengguna jasanya.
“Wah, Denpasar ternyata punya dokar juga. Lama tidak melihat dokar,” seru Anik, seorang ibu bersama anak perempuannya. Ia tak ingat Denpasar punya moda transportasi dalam kota tradisional yang kelihatan indah di bingkai foto. Padahal, keseharian dokar dan kusirnya adalah keterasingan dan kesepian. Read the rest of this entry »
yukz, follow the change
December 26th, 2010Kota Hijau, tapi Perilaku Hitam
December 25th, 2010“Mbak, kalau mo ganti jadwal terbang nambah 500 ribu, karena kelasnya beda. Yang sama gak ada,” demikian nona manis, Nur, dari IPC mengkonfirmasi penerbangan Garuda. Rabu malam, 11.35pm di GG House Happy Valley, Jalan Raya Puncak, Cibinong, minggu ketiga Desember. Jadi saya harus menghabiskan 36 jam lagi di Bogor.
Walau kangenku padamu, wahai ayah dan Bani tak tertahankan, tapi berat sekali rasanya mengeluarkan 500 ribu dari dompet. Kan kita mo nabung buat liburan ke Bandung bersama bulan Maret kan, darling??
Lagipula toh saya belum pernah jalan-jalan di Kota Bogor. Nelpon si ayah, dan dengan bijaksananya memberi semangat untuk menghabiskan 24 jam lagi di Bogor. Yes, u r my man. Read the rest of this entry »












