di mana pikiran beristirahat

Memanusiakan Kambing untuk Menyejahterakan Perempuan




IMG_7705

Sri Mardani, 43 tahun, ini lebih dikenal dengan nama ibu Sri Kambing. Nama belakangnya didapat sebagai penghormatan dan ikon warga Dusun Embung Rungkas, Desa Ketare, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Diawali dengan dua ekor kambing, Sri memberikan hak anak-anaknya untuk sekolah sampai kuliah, mencegah depresi ekonomi puluhan perempuan yang ditinggal suaminya menjadi buruh migran di Malaysia, penguatan ekonomi rumah tangga, dan menumbuhkan semangat warga dusun menjaga lingkungan.

Perjalanan usaha ternaknya menginspirasi banyak orang, dan membuat warga dusun setempat tak lagi terisiolasi secara ekonomi dan mental. Padahal Dusun Embung Rungkas hingga saat ini, masih terisolasi dengan jalan tanah yang bergelombang dan penuh kubangan jika musim hujan.

Mobil hanya bisa berjalan sangat perlahan. Di kiri dan kanan jalan tanah itu terlihat rumah-rumah dari gubuk kini mulai berganti menjadi batu bata. Dusun terlihat lebih riuh dengan suara embikan kambing dan obrolan perempuan-perempuan dusun sambil mengembalakan ternaknya.

Sebagian besar suami mereka meninggalkan rumah bertahun-tahun menjadi buruh migran di Malaysia. Di rumah-rumah penduduk hanya terlihat anak-anak dan ibu mereka.

Sekitar 1992, Sri merayu Satriawan Pahri, anak lelaki 4 tahunnya untuk membuka celengan tanah liatnya. Sri berencana membeli dua kambing, jantan dan betina untuk modal awal usaha ternak.

“Saya harus mulai buka usaha. Gaji suami sebagai pegawai negeri sipil honorer hanya Rp 17 ribu per hari. Anak saya bisa putus sekolah kalau terus begini,” ingatnya waktu itu. Anaknya yang mengapit celengannya diajak ke penjual kambing di desa. “Anak saya membelah sendiri celengannya di depan penjual kambing. Isinya Rp 33 ribu. Saya tambahkan untuk beli dua kambing Rp 58 ribu rupiah ketika itu,” kata Sri.

Kambingnya terus berbiak. “Kambing saya sakit, saya kasi puyer, pil untuk manusia. Kalau sakit perut saya kasi oralit. Saya terus putar otak dan mencoba semua,” katanya sambil tertawa lepas.

Secara perlahan Sri mempelajari perilaku kambing, bagaimana sikap kambing ketika makan, makanan yang disukai, jam tidurnya, dan strategi mengembalakannya. “Kambing tidak suka tidur kalau kandangnya kotor. Saya membersihkan kandang dua kali sehari, mengumpulkan kotorannya di pojok kandang dan malamnya dibakar. Asapnya mengusir nyamuk, kambing jadi tidur nyaman,” tuturnya.

Ia memberi makan kambingnya teratur dalam rentang waktu jam 10.00 sampai 14.00 Wita. “Embekan kambing itu alarm. Kalau kambing saya ngembek pertama artinya sudah jam 10 pagi. Jadi kambing saya jarang ribut karena sudah tahu jam makannya,” tambah Sri.

Pengembalaan kambing menurutnya hal yang sangat penting. Ia bergantian dengan kedua anaknya mengikuti kemana pun kambingnya pergi, selama berjam-jam sampai sekian kilometer dari rumahnya. Tak lupa Sri membawa daun turi, kesukaan kambing agar ternaknya tak makan tumbuhan orang lain. “Kalau kambing sudah capek, dia akan makan lahap dan cepat besar. Kambing tidak suka dikekang,” kata Sri.

Sri juga punya catatan khusus, Kartu Kambing Menuju Sehat. Sebuah catatan yang menjadi panduan trik-trik apa saja yang menjaga kambing sehat.

Salah satunya pemberian susu formula bagi anak kambing yang tidak mendapat air susu dari induknya. Karena puting susu kambing betina hanya dua, jika ada bayi ketiga, otomatis tak mendapat susu. “Semua anak kambing harus mendapat susu. Kalau tidak bisa mati. Anak kambing saya belum pernah ada yang mati,”ujarnya.

Usaha ternaknya yang maju, membuat tetangganya terbeliak. Sri merenovasi rumahnya dari anyaman bambu menjadi batu bata. Anak pertamanya pun kuliah. Suatu hal yang dinilai mustahil bagi warga disana ketika itu. Satriawan Pahri dewasa kini menjadi polisi di Lombok.

Pada 2004, kambingnya sudah 80 ekor.

Satu demi satu perempuan di dusun mengikuti jejaknya memelihara kambing. Mereka tak lagi termangu menunggu telepon dari suami yang menjadi buruh di Malaysia.

Inisiatif Sri dihargai sebuah lembaga bantuan pemerintah asing, Australian Community Development and Civil Society Strengthening Scheme (ACCESS) Phase I untuk menyebarkan gagasan dan penguatan kelompok ternak.

Dukungan ini mengharap kolaborasi dengan pemerintah daerah setempat misalnya dalam pemeliharaan kesehatan kambing. “Kalau kambing saya sakit, sudah gampang memanggil dokter hewan dari Dinas Peternakan disini. Kalau tak punya uang, bisa ngutang dulu. Jadi tidak pakai obat manusia lagi,” ia tertawa.

Pada suatu hari di bulan Agustus lalu, belasan perempuan terlihat berkumpul di rumah Sri. Mereka berbincang mengenai rencana penjualan kambing jelang bulan Ramadhan. Wajah mereka terlihat berseri karena harga kambing dipastikan melambung. “Harga kambing paling murah Rp 800 ribu per ekor. Kalau yang bagus bisa Rp 2 juta per ekor untuk usia minimal 2 tahun. Musimnya panen kambing,” seru Sri.

Tanpa suami, perempuan-perempuan desa berkumpul dalam tujuh kelompok peternak. Tiap kelompok terdiri dari 10 orang, dengan sedikitnya 20 ekor ternak. Artinya saat ini sedikitnya 70 orang perempuan kini bisa mandiri walau tanpa suami, dari beternak sampai memutuskan harga jualnya.

“Ketika kuliah dan kini menjadi polisi, anak saya tidak malu mengembalakan ternak. Saya terus ingatkan kambing adalah jawaban doa dari Tuhan ditambah kerja keras agar kita tak terbelit kemiskinan,” Sri mengucapkan dengan nada tinggi.

Ia dan kelompok peternak menyepakati awiq-awiq (peraturan komunal di Lombok) hukum kambing yang dijunjung tinggi yakni dilarang menjual bayi kambing. Kambing hanya bisa dijual jika cukup umur untuk daging potong dan kebutuhan darurat.

Berbicara dengan Sri, adalah juga belajar cara memperlakukan kambing dengan rasa hormat. Setiap topik pembicaraan selalu muncul prinsip perawatan kambing yang ditularkannya pada peternak perempuan lain.

Misalnya secara alamiah ia mengetahui peyebab kenapa kambing sulit makan. Di antaranya karena rambut kambing sering menutupi matanya sehingga sulit melihat makanan. Karena itu ia rajin mencukur rambut kambingnya, bahkan kadang dikuncir.

Lalu, anak kambing yang tumbuh dengan susu formula pasti tabiatnya manja seperti manusia. Karena itu harus sering diperhatikan agar pertumbuhannya baik. Sejumlah kambing seperti ini bahkan kerap berperilaku seperti anjing. Misalnya menyambut Sri dan suaminya jika pulang.

Yang lebih penting lagi, kelompok peternak sepakat harus mulai meremajakan pohon-pohon turi sebagai pakan utama ternak di sepanjang pematang sawah. Konservasi lingkungan menurut Sri harus dilakukan karena lahan akan terus berkurang untuk mencegah kekurangan pakan ternak.

Kambing, ternak favorit jelang bulan Ramadhan dan hari-hari besar umat Muslim itu adalah penyelamat Sri dan puluhan keluarga di Dusun Kampu. Hal ini tak terlepas dari upaya memanusiakan kambing dengan perlakuan dan perawatan yang baik. “Saya akan selalu tanamkan, kambing adalah penyelamat hidup saya, anak-anak, dan warga disini,” katanya emosional.

5 Comments

  1. September 13, 2009    

    Ayo, kapan ibu2 di bali ternak babi? Hehe!

    Pesan dari judul tulisan ini mulia banget. Perlakukan alam (binatang dan tumbuhan) secara manusiawi, maka mereka akan membuat manusia sejahtera. Saya percaya banget itu. :)

  2. September 15, 2009    

    dulu pernah keluarga saya membudidayakan babi…tapi sekarang udah pada dijual…

    setuju sama bli Pushandaka…perlakukan alam dengan baik maka alam pun akan membuat manusia sejahtera…

    kapan2 ajak2 jalan mbok luh de..

  3. September 15, 2009    

    pushandaka: ihhh kamu memang laki2 yang serius ya. cocok deh jadi diplomat… ameen!

    eka: beneran ya ta ajak ke kampungku di karangasem. ini wisata kuliner

  4. September 17, 2009    

    salam

  5. November 6, 2009    

    i’m touch… go peternak indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>