<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kamar kecil</title>
	<atom:link href="http://luhde.nawalapatra.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://luhde.nawalapatra.com</link>
	<description>di mana pikiran beristirahat</description>
	<lastBuildDate>Fri, 16 Mar 2012 09:17:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Melahirkan Satori dalam Hangat Water Birth</title>
		<link>http://luhde.nawalapatra.com/melahirkan-satori-dalam-hangat-water-birth/</link>
		<comments>http://luhde.nawalapatra.com/melahirkan-satori-dalam-hangat-water-birth/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Mar 2012 09:08:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luhde</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bebas]]></category>
		<category><![CDATA[Satori Nawalapatra]]></category>
		<category><![CDATA[Water Birth]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luhde.nawalapatra.com/?p=751</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu 11:40 wita &#8220;Ya, sudah sepertiga bu. Kepalanya sudah keluar. Ayo ngeden lagi lihat perutnya,&#8221; ucap dr Arya dan sejumlah perawat bergantian. Ada empat perawat perempuan yang kulihat. Satu orang memegang iPod yang sempat kuminta untuk merekam proses ini di sela-sela memburu nafas bukaan 8. Air dalam bak masih hangat. Sudah tiga kali aku ngeden [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" src="http://anton.nawalapatra.com/wp-content/uploads/2012/03/satori.jpg" alt="" width="501" height="334" /></p>
<p>Sabtu 11:40 wita</p>
<p>&#8220;Ya, sudah sepertiga bu. Kepalanya sudah keluar. Ayo ngeden lagi lihat perutnya,&#8221; ucap dr Arya dan sejumlah perawat bergantian. Ada empat perawat perempuan yang kulihat. Satu orang memegang iPod yang sempat kuminta untuk merekam proses ini di sela-sela memburu nafas bukaan 8. <img src='http://luhde.nawalapatra.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Air dalam bak masih hangat. Sudah tiga kali aku ngeden tapi dengan napas perut pendek. Tak ada waktu mengatur aliran nafas karena sejak bukaan 6 sampai lengkap hanya berselang beberapa menit. Cepat sekali. Baru saja nyeri akibat pembukaan jalan lahir usai disusul nyeri berikutnya. Tidak ada jeda seperti bukaan awal sampai 5 di ruang UGD.</p>
<p><span id="more-751"></span>Sejak bukaan 5 aku dipindah ke ruang persalinan waterbirth. Aku dan <a href="http://anton.nawalapatra.com" target="_blank">suami</a> baru dipersilakan berendam dalam air suhu 40 derajat itu ketika bukaan 8. Anton jadi tempat bersandar dan ikut mengalami tiap detik jelang lahiran.</p>
<p>&#8220;Ayo bu, tarik nafas sekali lagi. Rambutnya sudah kelihatan.&#8221; Napas kuatur terburu-buru dan agak panik karena tidak mau kepalanya nongol setengah. Pasti menyulitkan ia bernapas. Seorang perawat segera mengambil alat deteksi jantung bayi dan menempelkan di atas vagina. Detaknya kudengar. Ah, terima kasih bayi masih bernapas.</p>
<p>Sedetik kemudian aku menarik napas sekuat kubisa dan air hangat sudah berubah merah darah. Tubuh bayi ternyata sudah ditangkap dokter. Dia segera menaruhnya di dadaku.</p>
<p>Aku terkesiap. Tak peduli lagi nyeri, kubangan air bercampur darah, atau proses lainnya. Sayang aku harus segera pindah ke meja untuk menjahit luka robekan vagina.</p>
<p>Aku sudah merasa lebih santai. Bayi juga aku masih minta ditaruh di dada untuk inisiasi menyusui dini (IMD).</p>
<p>Setengah jam berlalu, nyeri jahitan mulai terasa. Dokter mengatakan luka robekanku parah sampai ke dalam vagina. Ia tak bisa melakukan jahitan di meja tanpa penerangan yang baik dan lebih nyaman karena butuh waktu panjang.</p>
<p>Aku dipindah dengan luka setengah terbuka ke ruang gyn. Aku masih ingin ditemani bayi, tapi diminta mengistirahatkan diri dulu karena proses jahit menjahit ini akan lama.</p>
<p>Benar saja, beberapa kali aku berteriak ke dokter. &#8220;Dok, berapa menit lagi kok lama sekali sih,&#8221; hardikku berulang-ulang.</p>
<p>&#8220;Bu, maaf ya robekannya di dalam. Bantu saya biar bisa cepat selesai ya,&#8221; kata dr Arya dengan sabar.</p>
<p>Tusukan jarum dan belitan benang sangat kurasakan. Bius tak bisa menembus vagina bagian dalam yang robek. Sekitar dua jam proses jahit ini baru selesai.</p>
<p>Aku masih harus tinggal di ruang ini lebih dari 1,5 jam untuk observasi apakah ada pendarahan usai jahitan. Aku minta perawat membawa bayiku lagi untuk melanjutkan imd. Hasratku amat besar biar bayi bisa mencapai payudara sendiri dan menikmati emutan pertamanya.</p>
<p>Bayi akhirnya dibawa kembali tapi ditaruh langsung tengkurap di dadaku. Kepala kecilnya bergerak pelan, perawat mendekatkan puting susu. Dia mencecap tetesan pertama setelah puting dipencet. Aku masih ingin bayi ditaruh di perut kemudian menikmati sensasi dia mendaki sampai dada. Tapi aku harus segera dipindahkan ke kamar. Aku minta bayiku juga dibawa ke kamar. Perawat bilang akan segera bawa ke kamar setelah dibersihkan.</p>
<p>Di kamar, rasa nyeri di vagina terus mendera. Ak juga masih khawatir apakah ada pendarahan. Karena ini yang menjadi risiko besar pada persalinan normal. Akibatnya bisa fatal. Ah aku tak mau mengingatnya.</p>
<p>Perawat datang tiap beberapa jam mengukur tensi darah, hitungan nadi, dan mengecek darah yang keluar.</p>
<p>Aku lebih menaruh perhatian pada bayiku. Perawat pertama yang ngecek tensi langsung kuminta bawa bayi ke kamar sesegera mungkin. Benar saja, perawat berikutnya datang membopong Satori yang sudah berpakaian. Aku minta Satori ditidurkan di sisi tempat tidurku bukan di box bayi.</p>
<p>Aku langsung menyodorkan payudara. Bisa menyusui adalah hasrat terbesar berikut karena aku tidak mau satori diberikan susu formula sama sekali sejak lahir.</p>
<p>Satori langsung mau mengulum puting dan menyesapnya. Senang sekali. Tapi aku tahu hanya ada satu dua tetes saja di payudara. Aku terus melekatkan puting. Tiap sesapan Satori kuyakini akan menstimulasi tetesan berikutnya.</p>
<p>Sepanjang malam Satori terus di tempat tidurku. Tiap dia menggeliat aku mendekatkan puting dan dia menyambut. Rasa nyeri vagina terasa hilang saat aku menyusui. Aneh. Sampai pas tengah malam, aku ingin ke kamar mandi melangkah kali pertama sejak dijahit karena dokter menyarankan aku tak menahan kencing dan BAB.</p>
<p>Menahan nyeri yang sangat aku duduk di kloset. Air kencing terasa terhambat sesuatu. Ayah kuminta nelp perawat. Perawat mendatangi di kamar mandi. Ia minta aku melepas sendiri tampon yang menghambat air kencing. Aku tak tahu ada tampon dalam vagina. Aku meraba dan memang ada tonjolan kain kasa yang digulung. Aku menariknya perlahan dan shock kok panjang sekitar 20 cm masuk vagina.</p>
<p>Darah langsung mengalir ke lubang kloset setelah ujung tampon lepas. Aku panik dan kepala terasa pusing. Oh no, jangan sampai bleeding. Perawat minta aku segera duduk dan akan mengecek tensi darah.</p>
<p>Minggu pagi<br />
Hari Minggu pertama bersama Satori. Makan pagi segera kulahap agar asi bertambah. Aku minta susu diganti teh hangat karena tak pernah minum susu sejak hamil dan kini pun tak tertarik.</p>
<p>Anton minta satori untuk dijemur matahari pagi. Sambil menyesap kopi, ayah menimang satori menikmati mentari pagi pertamanya.</p>
<p>Aku minta perawat segera membersihkan kamar karena aku ingin semua bersih saat Satori tiba usai dimandikan nanti. Memandikan bayi dan membersihkan kamar tak bisa segera karena perawat belum ganti shift. Sementara cleaning service juga belum mulai waktunya bekerja. Aku aja yang ingin lebih cepat karena saking semangatnya menyambut Satori.</p>

	<div style="">
		<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="vertical" data-text="Melahirkan Satori dalam Hangat Water Birth" data-url="http://luhde.nawalapatra.com/melahirkan-satori-dalam-hangat-water-birth/"  data-via="lodegen">Tweet</a>
	</div>
	<script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script><div style="clear:both;margin-bottom:5px;">
				<a href="http://twitter.com/share?url=http://luhde.nawalapatra.com/melahirkan-satori-dalam-hangat-water-birth/&text=Melahirkan Satori dalam Hangat Water Birth" target="_blank" title="Click here if you liked this article">
					<img src="http://luhde.nawalapatra.com/wp-content/plugins/twitter-plugin/images/twitt.gif" alt="Twitt" />
				</a>
			</div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luhde.nawalapatra.com/melahirkan-satori-dalam-hangat-water-birth/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adaptasi Multikultur Peranakan China di Bali</title>
		<link>http://luhde.nawalapatra.com/adaptasi-multikultur-peranakan-china-di-bali/</link>
		<comments>http://luhde.nawalapatra.com/adaptasi-multikultur-peranakan-china-di-bali/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Feb 2012 06:09:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luhde</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisan]]></category>
		<category><![CDATA[bangli]]></category>
		<category><![CDATA[dusun lampu]]></category>
		<category><![CDATA[etnis china di bali]]></category>
		<category><![CDATA[etnis tionghoa]]></category>
		<category><![CDATA[multikultur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luhde.nawalapatra.com/?p=740</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah lebih dari 300 tahun lalu, hanya 12 orang penjaga perbatasan keturunan China harus menghadapi seribu prajurit yang ingin menyerang Kerajaan Bangli di perbatasan Buleleng. Selusin prajurit yang setia pada rajanya itu lalu menyalakan banyak lampion di penjuru desa untuk bisa mengamati musuh. Prajurit lawan malah mengira titik-titik cahaya itu sebagai petanda banyaknya musuh yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_741" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://luhde.nawalapatra.com/adaptasi-multikultur-peranakan-china-di-bali/dusun-lampu-pura-blog/" rel="attachment wp-att-741"><img class="size-medium wp-image-741 " title="dusun lampu-pura-blog" src="http://luhde.nawalapatra.com/wp-content/uploads/2012/02/dusun-lampu-pura-blog-300x195.jpg" alt="" width="300" height="195" /></a><p class="wp-caption-text">foto @gunkparameswara</p></div>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Alkisah lebih dari 300 tahun lalu, hanya 12 orang penjaga perbatasan keturunan China harus menghadapi seribu prajurit yang ingin menyerang Kerajaan Bangli di perbatasan Buleleng. Selusin prajurit yang setia pada rajanya itu lalu menyalakan banyak lampion di penjuru desa untuk bisa mengamati musuh.</p>
<p>Prajurit lawan malah mengira titik-titik cahaya itu sebagai petanda banyaknya musuh yang harus dihadapi. Mereka takut. Ekspansi wilayah ini kemudian dibatalkan.</p>
<p>Demikian legenda kesetiaan warga etnis China versi generasi ke-4 marga Lie di Dusun Lampu, Desa Catur, Kecamatan Kintamani, Bangli.  Menurut Lie Giok Tian, pria 57 tahun, Ketua Perkumpulan etnis Tionghoa di Lampu ini, ikhwal nama Lampu adalah dari lampion lampion itu.<span id="more-740"></span></p>
<p>Bisa jadi ada versi lain sejarah nama Lampu ini. Tapi sosok Lie tak hanya soal kesetiaan warga etnis China pada raja-raja di Bali tapi soal adaptasi multikultur yang terpelihara hingga kini. Ragam kebijaksanaan dan peradaban yang membuat Bali kaya budaya.</p>
<p>Selain di Dusun Lampu, puluhan KK warga perkumpulan juga tersebar di Dusun Langgahan perbatasan Bangli-Gianyar dan Kembangsari, perbatasan Bangli-Buleleng. Persebaran ini disebut-sebut strategi untuk menjaga wilayah raja Bangli dan Karangasem dari penjajahan raja lain.</p>
<p>Lie Giok Tian yang ditemui Senin (11/7) di dusunnya yang berjarak sekitar 50 km arah Utara Denpasar ini mengatakan sedang menyusun sebuah kesepakatan tertulis mengenai perpaduan ritual Tionghoa dengan Hindu mengenai seluruh aspek kehidupan warga peranakan di Desa Catur.</p>
<p>“Di KTP kami beragama Budha tapi mengikuti seluruh ritual Hindu dari lahir sampai mati. Ditambah ritual Tionghoa pada beberapa tahapannya, bercampur tapi harmonis,” kata Lie, salah satu tokoh masyarakat yang disegani sekitar 125 KK warga Lampu. Warga peranakan ini berjumlah sekitar 14 KK saja di Lampu dan keseluruhan 64 KK di Desa Catur. Minoritas, tapi sangat berpengaruh dan memperkaya desa ini.</p>
<p>Di sebuah rumah lain, keluarga marga Lie sedang berduka. Lie Giok Lun, 73 tahun meninggal karena sakit. Di depan rumah ini dipajang dua lampion putih tanda berduka. Di dalam ruangan terdapat altar berisi rumah-rumahan kertas atau Gedong Dapet, yang menyimbolkan arwah almarhum.</p>
<p>“Setelah dikubur, almarhum akan mengikuti ritual seperti Ngaben umat Hindu disebut Cekongtik,” ujar Lie Cing Liong, keponakan laki-lakinya. Dalam ritual yang sebagian besar seperti penyucian arwah pada, menggunakan banten seperti upacara Ngrorasin Hindu ini. Dipimpin pemangku ala Hindu namun ditambah ritual pemanjatan doa dan atribut Tionghoa.</p>
<p>Giok Tian baru saja beberapa bulan lalu mengadakan Cekongtik untuk sembilan anggota keluarganya yang sudha meninggal. “Saya melakukan ritual hampir persis Hindu tapi ditambah doa-doa ke leluhur dan mendirikan altar leluhur di dalam rumah,” katanya.</p>
<p>Ia mengajak melihat dua altar di kamar berbeda. Pertama altar pemujaan dewa-dewa seperti keyakinan Tionghoa. Kedua, altar pemujaan aggota keluarga yang sudah meninggal. Keduanya berhias kertas-kertas merah, dupa yang selalu menyala, dan aneka makanan. Sementara di bagian luar bangunan rumah, keluarga Lie Giok Tan juga ada sanggah atau tugu persembahyangan ala Hindu.</p>
<p>Demikian juga pada upacara adat dan agama lainnya. Perkumpulan warga peranakan di Desa Catur mengikuti persembahyangan Hindu di pura-pura. Mereka berpakaian adat Hindu dan bersembahyang. Sebuah pura desa setempat terlihat istimewa karena ada kongco di dalamnya. Seperti Pura Dalem Balingkang di Batur.</p>
<p>“Ini sudah turun temurun, Ritual Hindu, Budha dan Tionghoa harus berjalan seimbang. Tidak boleh ada yang saling meniadakan. Yang berani berubah dipercaya bisa menderita,” demikian Lie Gio Tian mengingatkan dengan serius.</p>
<p>Semakin lama berbincang dengan Giok Tian, agama-agama serasa borderless. Perkumpulan peranakan ini membiarkan semuanya melebur. Toleransi dan keragaman menyisakan semangat menjalankan banyaknya ritual secara ikhlas.</p>
<p>Hanya sekali konflik yang menghantam pluralism ini. BUkan dari dalam desa tapi dari pemerintah pusat, ketika Suharto berkuasa, warga dilarang memperlihatkan atribut Tionghoa-nya dan menanggalkan identitas agama Budha di KTP. “Lampu kurung lampion tidak boleh terlihat di luar kalau ada peringatan. Hanya ini zaman pembungkaman,” kata Lie Giok Tan.</p>
<p>Walau minoritas, juga tak menghalangi warga memilih anggota perkumpulan peranakan sebagai pemimpin daerah. Kelian Adat Lampu saat ini adalah Po Chin Huang atau I Putu Sutanadi.</p>
<p>Ia sudah 12 tahun dipercaya menjadi Kelihan Adat yang bertugas mengkoordinasikan ritual dan kegiatan desa pekraman warga Lampu. “Saya dipercaya memimpin warga Hindu dan peranakan di sini, sebuah kehormatan pada pembauran,” kata Po Chin Huang.</p>
<p>Untuk melestarikan keragaman ini, Ia mengatakan seluruh warga peranakan terlibat dalam seluruh kegiatan desa seperti sekaa gong, panitia pecalang, panitia upacara adat, dan lainnya. “Kami sudah menyatu, dan semoga terus begitu,” tambahnya. Sebagian anggota keluarga peranakan di Lampu bekerja di luar kota. Mereka berbondong pulang saat peringatan kematian atau Hari Raya Imlek.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Memperkuat Pluralism, Menemukan Silsilah Keluarga Peranakan</strong></p>
<p>Pembuat film documenter, Dwitra J. Ariana, anak muda Bali ini baru saja merekam pluralism Dusun Lampu dan memenangkan lomba Film Dokumenter Pesta Kesenian Bali 2011. Ia berniat memperdalam risetnya soal warga-warga peranakan di Bangli, kampong halamannya. “Saya akan menambahkan cerita lain agar makin lengkap,” katanya. Menurutnya kisah seperti Lampu memperkaya khsanah budaya Bali dan menambah pemahaman soal toleransi beragama di Indonesia.</p>
<p>Sugi Lanus, budayawan dan penulis Bali pernah membuat analisa mengenai  keluarga peranakan China di Bali. Menurutnya imigrasi warga Tiongkok ke Bali dalam gelombang-gelombang yang berbeda. Era sebelum Majapahit, mata uang masyarakat Bali adalah Mong, mata uang yang diperkirakan awalnya dipakai kalangan warga Cina. Pemberlakuan mata uang Cina ini menandakan perdagangan Cina menguasai pulau ini.</p>
<p>Pura Pucak Penulisan yang diperkirakan telah ada sekitar abad X masehi di Bangli, tulis Sugi, tidak lepas dari keterkaitan legenda pernikahan Putri Cina dengan raja Bali. Konon, putri Cina (bermarga Kang), setelah dinikahi raja Bali, mereka membuka sebuah kawasan di utara Gunung Batur, pada hamparan tanah subur di sekitar 4 kilometer dari Pura Penulisan. Tempat itu disebut Bali-Kang, yang sampai kini dikenal sebagai Pura Balingkang di Desa Pingan. Pingan berarti damai dalam bahasa Cina.</p>
<p>Sugi mencatat, sensus Warga Tionghoa Volkstelling, semacam sensus yang dilakukan pemerintah Belanda. Total jumlah imigran Tiongkok yang telah masuk ke Indonesia sampai tahun 1930 telah mencapai 1.233.214 jiwa.</p>
<p>Sejumlah keturunan Tiongkok di Bali, tulis Sugi, menyebar di  segitiga perbatasan tiga Kerajaan Karangasem-Bangli-Klungkung. Di Dusun Lampuk, yang masih bermukim di Lampu ada 6 marga: Lie, Siaw, Cwa, Po, Ang dan Tan.</p>
<p>“Kalau ada warga pernakan bermarga itu yang ingin mencari tahu asal usul keuarga bisa datang ke desa kami,” kata Lie Giok Tian, tokoh Dusun Lampu yang pernah menjadi sopir truk pengangkut sapi Jawa-Bali ini.</p>
<p>&nbsp;</p>

	<div style="">
		<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="vertical" data-text="Adaptasi Multikultur Peranakan China di Bali" data-url="http://luhde.nawalapatra.com/adaptasi-multikultur-peranakan-china-di-bali/"  data-via="lodegen">Tweet</a>
	</div>
	<script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script><div style="clear:both;margin-bottom:5px;">
				<a href="http://twitter.com/share?url=http://luhde.nawalapatra.com/adaptasi-multikultur-peranakan-china-di-bali/&text=Adaptasi Multikultur Peranakan China di Bali" target="_blank" title="Click here if you liked this article">
					<img src="http://luhde.nawalapatra.com/wp-content/plugins/twitter-plugin/images/twitt.gif" alt="Twitt" />
				</a>
			</div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luhde.nawalapatra.com/adaptasi-multikultur-peranakan-china-di-bali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hamil: Boleh Resah Asal Gak Bikin Makin Susah</title>
		<link>http://luhde.nawalapatra.com/hamil-episode-2/</link>
		<comments>http://luhde.nawalapatra.com/hamil-episode-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Feb 2012 11:16:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luhde</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Blogging]]></category>
		<category><![CDATA[gentle birth]]></category>
		<category><![CDATA[kehamilan]]></category>
		<category><![CDATA[menyusui]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luhde.nawalapatra.com/?p=735</guid>
		<description><![CDATA[Kehamilan kali kedua ini bikin loyo. Jelang Bani 5 tahun, kehamilan ini memang direncanakan. Pertama, buka alat kontrasepsi IUD dulu dong. Proses pencabutan IUD di tempat masang dulu, klinik PKBI Gatsu tengah cukup singkat sekitar 10 menit. Tanpa alat kontrasepsi, tak perlu waktu lama sampai aku gak menstruasi lagi. Sperma si ayah lincah dan sel [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright" src="http://25.media.tumblr.com/tumblr_lxb2i08lqr1qjgnroo1_500.jpg" alt="" width="330" height="495" />Kehamilan kali kedua ini bikin loyo.</p>
<p>Jelang Bani 5 tahun, kehamilan ini memang direncanakan. Pertama, buka alat kontrasepsi IUD dulu dong. Proses pencabutan IUD di tempat masang dulu, klinik PKBI Gatsu tengah cukup singkat sekitar 10 menit.</p>
<p>Tanpa alat kontrasepsi, tak perlu waktu lama sampai aku gak menstruasi lagi. Sperma si ayah lincah dan sel telur bunda juga pintar menyeleksi satu yang terbaik. Jadilah pembuahan itu. Tidak ada yg lebih superior antara sperma dan sel telur. Jutaan sperma boleh menyerbu dengan kecepatan tinggi tapi hanya satu yang bisa diterima sel telur. Kalau tidak ada yang berkenan di hati sel telur, semua sperma akan layu. Lalu, mati.</p>
<p><span id="more-735"></span>Sebulanan setelah tidak mens lagi, baru beli test kit. Setelah dua bulanan baru periksa dokter unt pertama kali. Itu pun setelah mual muntah tak tertahan.</p>
<p>Episode muntah mual ini terus meningkat sampai 7 bulan. Luama banget. Tak seperti hamil pertama. Bahkan saat ini jelang 9 bulan juga pagi-pagi masih ada ritual mengeluarkan gas alias muntahin air liur karena kembung. Kalau tidak dipaksa keluar, dipastikan makan pagi akan termuntahkan tanpa tersisa sebulir nasi pun.</p>
<p>Hal lain yang menguras pikiran adalah upaya mencari dokter yang full support pada gentle birth dan Inisiasi Menyusui Dini alias IMD. Ketika lahiran Bani di sebuah rumah sakit mewah khusus ibu dan anak dekat rumah, seingatku dokter dan perawat tidak pernah bertanya ato memberitahu soal IMD ini. Bahkan pas mo pulang, perawat memberi tahu cara buat susu formula dengan bekal sisa sufor yg diberikan ke bani tanpa minta izin.</p>
<p>Setelah tanya sana sini, direkomenlah SPog dr Hariyasa yang praktik di antaranya di RS Kasih Medika dan Harapan Bunda. Ke sinilah kami sejak usia kehamilan 5 bulan.</p>
<p>Sebagian Spog biasanya ramai pasien seperti halnya dokterku dulu pas anak pertama. Demikian juga dr Hariyasa ini. Udah boking sehari sebelumnya dan ga pernah dapat no urut 5 pertama.</p>
<p>Pertama kali konseling, dia tanya, kok cesar yang pertama? Dan dia meyakinkan aku bisa normal walau pernah cesar dan pasti menjafi pilihan pertama persalinan.</p>
<p>Soal persalinan normal, ini memang mimpi terbesarku tahun ini. Karena anak kedua direncanakan sebagai anak terakhir dan aku ingin merasakan bagaimana kontraksi.</p>
<p>Sejak bulan awal aku terus meyakinkan diri pasti bisa normal, dengan pilihan water birth. Sampai suatu ketika, saat konseling jelang bulan ke-9 dr Hariyasa menyampaikan sesuatu yang buat aku menitikkan air mata. Dia sih sambil bercanda ngomong gini, &#8220;Nanti pas bukaan delapan, seperti orang naik gunung dan dekat puncaknya. Rasanya sakit tapi jangan minta balik turun.&#8221;</p>
<p>Aduh, kok ngena banget. Seingatku pernah turun mundur dua kali pas naik gunung padahal sudah hampir sampai puncak. &#8220;Ayah, plis ingatkan aku omongan dr Hariyasa soal naik gunung kalau aku mau menyerah pas persalinan nanti ya,&#8221; aku mengingatkan ayah.</p>
<p><strong>Resah</strong></p>
<p>Kehamilan kedua ini membuatku lebih sensitif. Pertama, karena ada beberapa kejadian buruk pada saudara saat hamil. Sepupuku dua kali mengalami kejadian misterius ketika kehamilan sudah 8 bulan. Dua kali hamil, dan dua kali anaknya dalam kandungan meninggal. Sampai sekarang Ia tak bisa menjelaskan penyebab pastinya.</p>
<p>Kedua, kasus-kasus umum seputar kematian bayi atau ibu saat melahirkan juga cukup tinggi dan butuh perhatian. Angka kematian bayi dan ibu di atas angka nasional di Bali ada di Kabupaten Karangasem, Bangli, dan Jembrana. Karangasem adalah kampong halamanku L</p>
<p>Namun, laporan pencapaian MIllenium Development Goals (MDGs) Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Bali menyebutkan penurunan angka kematian bayi dan ibu melahirkan diperkirakan sesuai target pada 2015. Catatan terakhir angka kematian bayi di Bali adalah 34 per 1000 angka kelahiran hidup (AKH). Target MDGs adalah 24 per 1000 kelahiran hidup.</p>
<p>Sejumlah kabupaten yang angka kematian bayi lahirnya masih buruk, di atas angka nasional adalah Kabupaten Karangasem dan Jembrana yakni 36/1000 AKH. Menurut laporan MDGs Bappeda ini, penyebab kematian pada bayi paling banyak karena berat badan lahir rendah sebanyak 188 kasus atau 41%.  Disusul asfiksia dan pnemunia.</p>
<p>Sementara angka kematian ibu di Bali yang ada hanya tahun 2007, yakni 228 per 100.000 kelahiran hidup. Target MGDs Bali adalah 100/100ribu AKH. Prosentase ibu bersalin yang ditolong tenaga kesehatan terlatih sekitar 96% namun ada disparitas di daerah.</p>
<p>Kabupaten yang angka capaiannya di bawah itu untuk akses pemeriksaan kesehatan oleh tenaga terlatih adalah Karangasem, Bangli, Jembrana, dan Klungkung. Penyebab kematian ibu melahirkan di antaranya penyakit jantung, pernfasan, dan suspek HIV/AIDS.</p>
<p>Nah soal HIV/AIDS ini juga menarik perhatianku. Beberapa kali ingin tes HIV untuk memastikan kondisi dan terlebih lagi agar tak menularkan pada bayi. Beberapa konselor yang menanyakan perilaku risiko tinggi terpapar HIV dan melihat riwayatku hingga kini menyatakan aku tidak ada risiko.</p>
<p>Aku pernah ketemu dua perempuan dengan status HIV di Bali. Seorang, perempuan yang sudah tahu statusnya dan menyiapkan dengan serius kehamilan dan proses persalinan untuk mencegah penularan ke bayinya. Ia berhasil. Ini sekaligus menjawab mitos jika ibu positif HIV tidak boleh punya anak.</p>
<p>Perempuan kedua tidak tahu positif HIV dan akhirnya baru tahu setelah bayinya dinyatakan positif. Apakah kita bisa membayangkan ada dalam kondisi seperti ini?</p>
<p><strong>Berbagi</strong></p>
<p>Mengurangi gelisah, ketika hamil berusia di atas lima bulan, aku mulai aktif mencari cara untuk belajar lebih banyak soal kesehatan selama kehamilan dan persalinan nanti. Selain SMS-an dengan teman, yang paling rajin adalah follow beberapa akun soal ibu dan anak di twitter.</p>
<p>Mujarab. Walau ngtwit dengan seseorang yang tidak kita kenal, lalu mendapat masukan juga dari orang yang kita ketahui nama akunnya saja, berhasil mengurangi perasaan susah. Apa yang aku ketahui juga lalu ditanyakan oleh calon ibu lainnya. Salah satu postingan blogku yang masih cukup ramai sampai sekarang tentang <a href="http://luhde.nawalapatra.com/pengalaman-pertama-pake-alat-kontrasepsi-dalam-rahim/">pengalaman pertama memakai kontrasepsi</a>.</p>
<p>Demikian viral informasi ini bergulir. Ternyata semua perempuan bisa menjadi “dokter” bagi perempuan lainnya asalkan mau berbagi.</p>
<p>Salah satunya melalui  <a href="http://nutrisiuntukbangsa.org/">web ini</a>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>

	<div style="">
		<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="vertical" data-text="Hamil: Boleh Resah Asal Gak Bikin Makin Susah" data-url="http://luhde.nawalapatra.com/hamil-episode-2/"  data-via="lodegen">Tweet</a>
	</div>
	<script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script><div style="clear:both;margin-bottom:5px;">
				<a href="http://twitter.com/share?url=http://luhde.nawalapatra.com/hamil-episode-2/&text=Hamil: Boleh Resah Asal Gak Bikin Makin Susah" target="_blank" title="Click here if you liked this article">
					<img src="http://luhde.nawalapatra.com/wp-content/plugins/twitter-plugin/images/twitt.gif" alt="Twitt" />
				</a>
			</div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luhde.nawalapatra.com/hamil-episode-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyelamatkan Anjing Bali dari Jalanan</title>
		<link>http://luhde.nawalapatra.com/menyelamatkan-anjing-bali-dari-jalanan/</link>
		<comments>http://luhde.nawalapatra.com/menyelamatkan-anjing-bali-dari-jalanan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Dec 2011 07:58:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luhde</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Blogging]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisan]]></category>
		<category><![CDATA[anjing bali]]></category>
		<category><![CDATA[bali dog]]></category>
		<category><![CDATA[BARC]]></category>
		<category><![CDATA[kesejahteraan hewan]]></category>
		<category><![CDATA[rabies]]></category>
		<category><![CDATA[ubud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luhde.nawalapatra.com/?p=725</guid>
		<description><![CDATA[Hampir dua tahun terakhir anjing Bali yang diliarkan di jalanan dicap pembawa virus rabies. Puluhan ribu anjing kampung ini dijauhi bahkan oleh pemiliknya. Pemerintah juga menargetkan pengurangan jumlahnya, terutama yang berkeliaran di jalanan, dengan eliminasi. Jacko, seekor anjing ras berumur 3 tahun ini tak pernah dicari pemiliknya. Ia ditabrak mobil. Tulang belakangnya patah menyebabkan dua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://luhde.nawalapatra.com/menyelamatkan-anjing-bali-dari-jalanan/balidogs-puppy/" rel="attachment wp-att-726"><img class="alignnone size-full wp-image-726" title="balidogs-puppy" src="http://luhde.nawalapatra.com/wp-content/uploads/2011/12/balidogs-puppy.jpg" alt="" width="495" height="261" /></a></p>
<p>Hampir dua tahun terakhir anjing Bali yang diliarkan di jalanan dicap pembawa virus rabies. Puluhan ribu anjing kampung ini dijauhi bahkan oleh pemiliknya. Pemerintah juga menargetkan pengurangan jumlahnya, terutama yang berkeliaran di jalanan, dengan eliminasi.</p>
<p>Jacko, seekor anjing ras berumur 3 tahun ini tak pernah dicari pemiliknya. Ia ditabrak mobil. Tulang belakangnya patah menyebabkan dua kaki belakang lumpuh total. Ia merenggang kesakitan selama beberapa jam di jalanan sekitar Blahbatuh, Gianyar.<span id="more-725"></span></p>
<p>Untungnya ada seorang turis yang menelpon Bali (dogs) Adoption and Rehabilitation Center (BARC) di Ubud. Beberapa saat kemudian, petugas BARC sudah mengandangkan Jacko dan merawat lukanya. Sayang, pinggang dan dua kaki belakangnya sudah tak bisa berfungsi. Namun dokter hewan BARC dan sejumlah relawan berjuang agar Jacko bisa berjalan.</p>
<p>Beberapa bulan ini Jacko belajar menggunakan kursi roda yang menggantikan fungsi punggung dan dua kaki belakangnya. Pada akhir pekan lalu, anjing muda berbulu hitam lebat ini terlihat bermain menangkap tulang tiruan, kesukaannya.</p>
<p>Jacko tak sendiri dengan status anjing tanpa pemilik di kandang penyelamatan BARC di Ubud, sekitar 25 km dari Denpasar ini. Ada sedikitnya 50 ekor anjing lokal Bali lainnya di sana.</p>
<p>Gonggongan anjing lokal jalanan ini terdengar riuh rendah ketika orang asing datang. Enam perempuan Bali berada di sejumlah kandang yang dibuat seperti arena bermain bagi puluhan anjing itu. Ada yang sedang membersihkan lantai kandang dari kotoran, membersihkan tempat makan, dan lainnya.</p>
<p>Ni Wayan Sini, 30 tahun dari Tegalalang, Gianyar seperti dikeroyok anjing. Ia mengelus-elus kepala Monika, dan puluhan anjing lain secara bergantian. Anjing-anjing ini seperti tak ingin ditinggal Sini.</p>
<p>“Anjing-anjing ini tak pernah dilatih khusus, mereka pasti tahu jika kita menyayangi dia,” ujar Sini. Puluhan ekor anjing lokal dengan perawakan dan bulu-bulu yang hampir mirip. Tapi Sini mengenali semua anjing dengan menyebut namanya satu persatu.</p>
<p>“Orang Bali biasanya memberi nama sesuai warna bulu. Misalnya badeng (hitam), poleng (hitam putih). Di sini, tidak bisa begitu, semuanya harus dikasi nama,” katanya tertawa. Tentu saja, karena anjing bulu putih saja bisa ada 10, demikian juga hitam, dan cokelat muda. Tiga warna bulu anjing umumnya di Bali.</p>
<p>Sini mengaku tak pernah digigit, termasuk oleh anjing baru yang diambil dari jalanan. Ia juga tak takut tertular rabies karena semua anjing baru melalui beberapa tahap adaptasi termasuk pemberian vaksin secara berkala.</p>
<p>Alfan Firdaus, relawan pria yang kerap membantu evakuasi anjing dari jalanan mengatakan anjing baru akan masuk kandang isolasi. Di sini akan dilihat apakah ada luka atau trauma. Selama beberapa saat anjing mendapat pemantauan sampai sembuh dan dinilai bisa bergabung dengan anjing lainnya.</p>
<p>“Jika semua lengkap, silakan diadopsi. Anda bisa memilih anjing yang disukai di sini, termasuk donasi untuk perawatan anjing lain,” kata Alfan.</p>
<p>Tak hanya anjing dewasa, di BARC juga merawat anak anjing yang ditelantarkan. Belasan puppy lucu aneka warna terlihat bermain di kandang terluar. Mereka mendekat dengan bergairah tiap kali ada orang yang menengok kandang. Seperti anak, yang ingin segera dibuai.</p>
<p>Menurut catatan Dinas Peternakan Bali, populasi anjing di Bali sekitar 500 ribu ekor, dan sebagian besar diliarkan. Dibiarkan bebas di luar rumah. Sejak akhir 2008, Bali yang sebelumnya bebas historis dari rabies kini menjadi daerah wabah. Sedikitnya 120 orang meninggal dan puluhan ribu anjing dieliminasi. Dimulailah program-program penanggulangan, termasuk himbauan mengikat anjing. Sesuatu yang baru bagi warga.</p>
<p>Untuk membatasi populasi anjing, sejumlah anjing betina jenis anjing pantai dan segala anging Bali  disterilisasi. Proses ini dilakukan di klinik hewan, jaringan BARC, Good Karma.</p>
<p><strong>Fundrising</strong></p>
<p>Bayangkan Anda memelihara setidaknya 150 ekor anjing jalanan, dengan segala jenis tipikal dan dirawat dengan prosedur yang baik. Yang diperlukan sekitar 10 kilogram nasi, beberapa kilo sayur, dan enam dogsitters per harinya.</p>
<p>Ini belum termasuk biaya operasi sterilisasi, untuk anjing tertentu. Biaya vaksin, perawatan luka, dan kebutuhan rekreasi seperti bermain bagi anjing. Karena kompleks itulah, BARC punya strategi dengan membuat klinik Good Karma dan juga sebuah toko kecil tempat menjual mercahandise dan menjual barang-barang yang didonasikan.</p>
<p>The Charity Shop, non profit for kids and dogs. Demikian papan nama toko kecil sebelah ARMA Museum. Seorang relawan BARC menjaga toko kecil yang sebagian besar menjual baju, sepatu, sandal, dan beberapa barang bekas yang didonasikan.</p>
<p>Ada juga boneka-boneka anjing, buku bekas, dan merchandise BARC. Beberapa warga sekitar terlihat membeli sejumlah baju bekas yang dijual Rp 10.000 sampai Rp 200.000, tergantung kondisi baju. Ada juga yang baru.</p>
<p>Sekitar 100 meter dari The Charity Shop, klinik hewan Good Karma, jejaring yang membantu fundrising BARC berada. Dua patung anjing menyapa pengunjung di depan klinik cukup besar ini. Poster dan pigura ajakan menyayangi anjing dipajang. Terutama bergambar anjing kampung Bali.</p>
<p>Klinik ini bak rumah sakit khusus hewan. Ada beberapa ruang khusus yang berisi anjing yang sedang menjalani rawat inap. Sementara yang sembuh diletakkan di luar kamar, agar pengunjung bisa melihat termasuk mengadopsi.</p>
<p>Di salah satu ruangan, dua perempuan muda sedang melakukan operasi sterilisasi pada seekor betina, anjing yang baru saja diambil dari pantai pesisir Gianyar. “Ini jenis anjing pantai,  Karena usianya juga kami harus sterilisasi,” sahut Nana Dianita Sari, dokter hewan di sana. Ia dibantu Katherine Daley, seorang relawan calon dokter hewan, mahasiswa The University of Queensland.</p>
<p>Katherine seperti praktik lapangan di klinik ini. “Im here for 10 days and its such fun to know and touch the local dogs here,” she said.</p>
<p>Di bagian penjualan makanan dan perlengkapan anjing, dokter hewan muda lainnya, Teti Oktawi Yani sedang bertugas. Ia melayani sejumlah orang asing yang datang. Membeli sesuatu atau mendampinginya melihat-lihat anjing yang baru diselamatkan dari jalanan.</p>
<p>“Bali tidak akan bisa bebas rabies, jika pemerintah tak menghentikan warga membuang anjingnya di jalanan,” ujar Teti. Menurutnya target Bali bebas rabies 2012 terlalu ambisius dengan kondisi saat ini yang belum berubah, dari cara penanganan anjing.</p>
<p>Menurutnya steppingout atau istilah pemerintah eliminasi anjing yang diliarkan tidak akan berhasil karena anjing cepat beranakpinak. “Perlu kontrol populasi dan memastikan tidak ada lalu lintas anjing,” tambah lulusan Fakultas Kedokteran Hewan Unud ini.</p>
<p>Selain itu, menurutnya Bali harus memiliki Rabies Information Center. “Banyak dokter hewan dan relawan pecinta anjing yang ingin terlibat dalam pemberantasan rabies ini. Tapi mereka tidak tahu harus kemana dan bagaimana,” kata Teti.</p>
<p>Rabies center yang dibuat pemerintah berlokasi di puskesmas dan kantor dinas peternakan. Hanya buka saat jam kerja. Dan hanya melayani pemberian vaksin.</p>
<p>“Warga juga harus serius dilatih merawat anjingnya. Tidak mahal, asalkan mereka tahu cara mengakses klinik hewan atau balai kesehatan,” tambah Nana.</p>
<p>Sebagian besar anjing yang dibawa dari jalanan mengidap penyakit kulit parah, berkutu, atau cacat. Masalah-masalah ini dipecahkan dokter hewan di BARC. Puluhan ekor anjing gudik kini secara perlahan mulai pulih, dan siap dibawa pulang oleh siapapun yang mau mengadopsi.</p>
<p>“I pray Balinese Gov’t  will in some wisdom of introspection, encourage its people along the humane solution, and help put active laws in place to protect all animals, to run an education program. Stop the inhumane slaughter of them,” Linda Buller, an Ausaralian women artist, and founder of BARC. Linda said Bali’s dogs are gentle they are not aggressive unless they have been abused which causes  them to live in fear for their lives. “Humans being the aggressor, so of course they will react to protect themselves, wouldn’t you? I wish the people in Bali could understand how very special their bali dogs are,” Linda added.</p>
<p>“We allow our soul to  communicate, we allow ourselves to be unconditionally loved. But we are going to loose our beautiful gentle Bali dog breed soon,” Linda added. Selama 16 tahun Ia di Bali dan mengumpulkan energy dan menggelar sejumlah fundrising untuk mendanai shelter itu.</p>
<p>“We have consistently cared for average 150 dogs, they are healed sterilized vaccinated and adopted out to good families. We charge a 50,000 which is $6,00 to adopt to a local family. We think if they are not willing pay this they would not  be willing to feed the pup or care for it,” she explained on BARC blog, freewebs.com/balidogs.</p>
<p>“Bali’s dogs have a special spirit. People have to learn how to take care and provide a  sanctuary for them. And just sent them your love,” she urged.</p>
<p>&nbsp;</p>

	<div style="">
		<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="vertical" data-text="Menyelamatkan Anjing Bali dari Jalanan" data-url="http://luhde.nawalapatra.com/menyelamatkan-anjing-bali-dari-jalanan/"  data-via="lodegen">Tweet</a>
	</div>
	<script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script><div style="clear:both;margin-bottom:5px;">
				<a href="http://twitter.com/share?url=http://luhde.nawalapatra.com/menyelamatkan-anjing-bali-dari-jalanan/&text=Menyelamatkan Anjing Bali dari Jalanan" target="_blank" title="Click here if you liked this article">
					<img src="http://luhde.nawalapatra.com/wp-content/plugins/twitter-plugin/images/twitt.gif" alt="Twitt" />
				</a>
			</div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luhde.nawalapatra.com/menyelamatkan-anjing-bali-dari-jalanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dialog (Jangan) dalam Diam</title>
		<link>http://luhde.nawalapatra.com/dialog-jangan-dalam-diam/</link>
		<comments>http://luhde.nawalapatra.com/dialog-jangan-dalam-diam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Oct 2011 02:35:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luhde</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Bebas]]></category>
		<category><![CDATA[Blogging]]></category>
		<category><![CDATA[akustik]]></category>
		<category><![CDATA[band]]></category>
		<category><![CDATA[nosstress]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luhde.nawalapatra.com/?p=709</guid>
		<description><![CDATA[Minggu pagi, sudah pukul 9, detaknya jarumnya tak mungkin berhenti. Bani, pria 5 tahun itu saya siapkan ember hitam untuknya berendam. Laptop lusuh saya buka dan memasukkan keping CD berusia dua hari dari tanggal beli di Antida. Mengawali Hari, track pertama mengalun. “Apa yang kita lihat/apa yang kita terima/apa yang kita rasa/semua karna kita sendiri,” [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_710" class="wp-caption alignnone" style="width: 521px"><a href="http://luhde.nawalapatra.com/dialog-jangan-dalam-diam/nosstress-blog/" rel="attachment wp-att-710"><img class="size-full wp-image-710 " title="nosstress blog" src="http://luhde.nawalapatra.com/wp-content/uploads/2011/10/nosstress-blog.jpg" alt="" width="511" height="339" /></a><p class="wp-caption-text">foto @eshasw, doi salah satu dari personil. aminnn..</p></div>
<p>Minggu pagi, sudah pukul 9, detaknya jarumnya tak mungkin berhenti. Bani, pria 5 tahun itu saya siapkan ember hitam untuknya berendam. Laptop lusuh saya buka dan memasukkan keping CD berusia dua hari dari tanggal beli di Antida. Mengawali Hari, track pertama mengalun.</p>
<p>“Apa yang kita lihat/apa yang kita terima/apa yang kita rasa/semua karna kita sendiri,” suara datar Cok Bagus Pemayun sayup-sayup di antara kucuran air di tempat Bani mandi. Saya bayangkan Bani di masa depan, remaja yang dikejar pertanyaan, cita-citanya apa?<span id="more-709"></span></p>
<p>Lagu pertama dari album berjudul Perspektif Bodoh tiga bujang, Nosstress ini berteriak dalam sunyi. Memberikan peringatan dini bagaimana memulai duduk berbicara dengan anak muda. Saya juga tergolong muda sih, di bawah 30 tahun, walau sebentar lagi beranak dua. Yehaa..</p>
<p>Baiklah Bani, (di masa depan berusia sekira 20 tahun), “kamu mau jadi sesuatu yang kau tahu itu aku,” begitu lirik Mau Apa, track ke-7. Lagu ini saya rasa penuh kemarahan, tapi disenandungkan dengan ceria.</p>
<p>Man Angga, bujang asal Ulakan, Karangasem, yang kerap saya lalui pas pulang kampung di Pekarangan, Ngis ini tuntas menjawab, “Engken man, apa gae?” pertanyaan yang pasti ada di acara keluarga.</p>
<p>Seolah-olah bekerja hanya duduk, di meja rapi, menghadap layar monitor. Tidak berlaku untuk yang melakukan ini di rumah. Harus di bangunan yang disebut kantor. Ketiga biduan ini menungkas, “Bekerjalah walau hanya diam,” dalam On Job Trainning, track ke-5.</p>
<p>Saya tidak tahu berapa tahun trio akustik Angga-Kupit-Cok ini menyiapkan dialog-dialog tajam pada diri sendiri,tapi tak mau menyalahkan orang lain dalam lirik-lirik album ini. Untuk tiga laki-laki dewasa, kalau tak berkawan intim, susah rasanya menyelaraskan pesan orasi mereka yang reflektif ini.</p>
<p>Saya, ibu, merasa pahlawan itu adalah kamu, kita yang bisa berbicara dengan mereka. Bukan hanya bertanya, mau apa? Nosstress, dalam album perdananya ini menjadi teman sebaya yang asik bagi Bani kelak. Itu pasti.</p>
<p>“Sekarang kukerjakan yang harusnya bulan lalu/sorenya kukerjakan yang harusnya minggu lalu/sial malamnya semua itu sudah berlalu/esok paginya kumulai lagi dengan… tunda tunda tunda sampai kau menua…(Tunda).”</p>
<p>Hahaha, semua orang tua juga melakukan itu, tak hanya kamu Bani. Apakah kamu siap memijat punggung bunda, boy? Pake balsam yah.</p>
<p>“Bundaaaa, aku boleh sikat gigi?” teriakan bocah memecah dialog imajinerku dengan pria muda itu.</p>
<p><em>Coba dengarkan mereka di www.nosstress.com</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>

	<div style="">
		<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="vertical" data-text="Dialog (Jangan) dalam Diam" data-url="http://luhde.nawalapatra.com/dialog-jangan-dalam-diam/"  data-via="lodegen">Tweet</a>
	</div>
	<script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script><div style="clear:both;margin-bottom:5px;">
				<a href="http://twitter.com/share?url=http://luhde.nawalapatra.com/dialog-jangan-dalam-diam/&text=Dialog (Jangan) dalam Diam" target="_blank" title="Click here if you liked this article">
					<img src="http://luhde.nawalapatra.com/wp-content/plugins/twitter-plugin/images/twitt.gif" alt="Twitt" />
				</a>
			</div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luhde.nawalapatra.com/dialog-jangan-dalam-diam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>maaf om wiji thukul, yg tersisa hanya romantika</title>
		<link>http://luhde.nawalapatra.com/maaf-om-wiji-thukul-yg-tersisa-hanya-romatika/</link>
		<comments>http://luhde.nawalapatra.com/maaf-om-wiji-thukul-yg-tersisa-hanya-romatika/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jul 2011 07:10:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luhde</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bebas]]></category>
		<category><![CDATA[Blogging]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luhde.nawalapatra.com/?p=702</guid>
		<description><![CDATA[NARASI WIJI THUKUL tujuan kita satu ibu : pembebasan disini kubaca kembali : sejarah belum berubah! tanah air digadaikan masa depan rakyat di gelapkan (dan) derita sudah naik ke leher kau menindas sampai di luar batas (dan) derita sudah matang bahkan busuk tetap ditelah? maka hanya ada satu kata : lawan! kita tidak sendirian kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_705" class="wp-caption alignnone" style="width: 169px"><a rel="attachment wp-att-705" href="http://luhde.nawalapatra.com/maaf-om-wiji-thukul-yg-tersisa-hanya-romatika/wiji-thukul-kaos/"><img class="size-full wp-image-705" title="wiji thukul-kaos" src="http://luhde.nawalapatra.com/wp-content/uploads/2011/07/wiji-thukul-kaos.jpg" alt="" width="159" height="175" /></a><p class="wp-caption-text">kaos wiji thukul dari sinteshirt</p></div>
<p><em>NARASI WIJI THUKUL<br />
tujuan kita satu ibu : pembebasan<span id="more-702"></span></em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>disini</em> <em><br />
kubaca kembali<br />
: sejarah belum berubah!</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>tanah air digadaikan</em> <em><br />
masa depan rakyat di gelapkan<br />
(dan)<br />
derita sudah naik ke leher<br />
kau<br />
menindas<br />
sampai di luar batas<br />
(dan)<br />
derita sudah matang<br />
bahkan busuk<br />
tetap ditelah?</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>maka hanya ada satu kata : lawan!</em> <em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>kita tidak sendirian</em> <em><br />
kita satu jalan<br />
tujuan kita satu ibu : pembebasan</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>satu mimpi, satu barisan</em> <em><br />
(maka)<br />
jika kami bunga<br />
engkau adalah tembok itu<br />
telah kami sebar biji-biji<br />
suatu saat kami akan tumbuh bersama<br />
dengan keyakinan : engkau akan hancur!</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>kutundukkan kepalaku</em> <em><br />
kepada semua kalian para korban<br />
sebab hanya kepadamu kepalaku tunduk<br />
kepada penindas<br />
tak pernah aku membungkuk<br />
aku selalu tegak</em></p>
<p>(setelah 12 tahun, baru kali ini aku membaca syair ini secara penuh. kalimat sakti dari orator ketika jadi mahasiswa baru dulu)</p>

	<div style="">
		<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="vertical" data-text="maaf om wiji thukul, yg tersisa hanya romantika" data-url="http://luhde.nawalapatra.com/maaf-om-wiji-thukul-yg-tersisa-hanya-romatika/"  data-via="lodegen">Tweet</a>
	</div>
	<script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script><div style="clear:both;margin-bottom:5px;">
				<a href="http://twitter.com/share?url=http://luhde.nawalapatra.com/maaf-om-wiji-thukul-yg-tersisa-hanya-romatika/&text=maaf om wiji thukul, yg tersisa hanya romantika" target="_blank" title="Click here if you liked this article">
					<img src="http://luhde.nawalapatra.com/wp-content/plugins/twitter-plugin/images/twitt.gif" alt="Twitt" />
				</a>
			</div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luhde.nawalapatra.com/maaf-om-wiji-thukul-yg-tersisa-hanya-romatika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gita Cinta untuk Bali</title>
		<link>http://luhde.nawalapatra.com/gita-cinta-untuk-bali/</link>
		<comments>http://luhde.nawalapatra.com/gita-cinta-untuk-bali/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Jun 2011 04:30:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luhde</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Blogging]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[sloka institute]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[kerusakan lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan bali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luhde.nawalapatra.com/?p=691</guid>
		<description><![CDATA[TENTANG LOMBA #MaiNgblog #SaveBali Mencintai Bali dengan sederhana. Caranya, buat postingan bebas (bisa foto, puisi, pantun, esai, dll dalam bahasa Bali, Indonesia atau Inggris) di blog/microblog kamu. Tema/subject email: Lomba #Maingblog #SaveBali Kamu bisa ikut, sekarang juga dengan cara: -    Buatlah postingan bebas mengenai potret kerusakan lingkungan di Bali saat ini atau kegiatan pencegahannya. -    [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-692" href="http://luhde.nawalapatra.com/gita-cinta-untuk-bali/baner-maingblog-walhi/"><img class="alignnone size-full wp-image-692" title="baner-maingblog-walhi" src="http://luhde.nawalapatra.com/wp-content/uploads/2011/06/baner-maingblog-walhi.jpg" alt="" width="180" height="314" /></a></p>
<p>TENTANG LOMBA</p>
<p>#MaiNgblog #SaveBali<span id="more-691"></span></p>
<p>Mencintai Bali dengan sederhana. Caranya, buat postingan bebas (bisa  foto, puisi, pantun, esai, dll dalam bahasa Bali, Indonesia atau  Inggris) di blog/microblog kamu.</p>
<p>Tema/subject email: Lomba #Maingblog #SaveBali</p>
<p>Kamu bisa ikut, sekarang juga dengan cara:</p>
<p>-    Buatlah postingan bebas mengenai potret kerusakan lingkungan di Bali saat ini atau kegiatan pencegahannya.</p>
<p>-    Bisa memposting ulang tulisan/materi lama</p>
<p>-    Posting di blog atau microblog (facebook note, tumblr, flickr, dll)</p>
<p>-    Kirim link postingannya dan identitas singkat ke: <a href="mailto:info@walhibali.org" target="_blank">info@walhibali.org<strong> dan</strong> walhi.daerahbali@gmail.com<br />
</a></p>
<p>-    Periode posting 5 Juni – 5 Juli 2011</p>
<p>-    10 postingan paling menarik mendapat hadiah dan sertifikat</p>
<p>Kegiatan ini adalah dukungan warga dan jaringan komunitas di Bali  untuk peringatan Hari Lingkungan (environmental Day) 2011 yang  difasilitasi Walhi Bali.</p>
<p>Salam Lestari.</p>

	<div style="">
		<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="vertical" data-text="Gita Cinta untuk Bali" data-url="http://luhde.nawalapatra.com/gita-cinta-untuk-bali/"  data-via="lodegen">Tweet</a>
	</div>
	<script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script><div style="clear:both;margin-bottom:5px;">
				<a href="http://twitter.com/share?url=http://luhde.nawalapatra.com/gita-cinta-untuk-bali/&text=Gita Cinta untuk Bali" target="_blank" title="Click here if you liked this article">
					<img src="http://luhde.nawalapatra.com/wp-content/plugins/twitter-plugin/images/twitt.gif" alt="Twitt" />
				</a>
			</div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luhde.nawalapatra.com/gita-cinta-untuk-bali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kalau ada Koneksi Internet, Pasti ada Jalan</title>
		<link>http://luhde.nawalapatra.com/kalau-ada-koneksi-internet-pasti-ada-jalan/</link>
		<comments>http://luhde.nawalapatra.com/kalau-ada-koneksi-internet-pasti-ada-jalan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Apr 2011 05:15:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luhde</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blogging]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia berprestasi]]></category>
		<category><![CDATA[kartini digital]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan bali]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan dan teknologi informasi]]></category>
		<category><![CDATA[TI bali]]></category>
		<category><![CDATA[xl]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luhde.nawalapatra.com/?p=676</guid>
		<description><![CDATA[Kalau ada kemauan, pasti ada jalan. Itu idiom motivasi zaman dulu. Sekarang menurut saya, kalau ada koneksi internet, pasti ada jalan! Berikan saya koneksi internet yang bohai, saya akan mengubah dunia. Nah, ini bisa agak berlebihan tapi ada benarnya. Setidaknya itu yang saya temukan di pengalaman hidup beberapa tahun ini, setelah berani mencumbu dunia online. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_683" class="wp-caption alignnone" style="width: 420px"><a rel="attachment wp-att-683" href="http://luhde.nawalapatra.com/kalau-ada-koneksi-internet-pasti-ada-jalan/kartini-06/"><img class="size-full wp-image-683" title="kartini-06" src="http://luhde.nawalapatra.com/wp-content/uploads/2011/04/kartini-06.png" alt="" width="410" height="458" /></a><p class="wp-caption-text">kartini, desain sinteshirt by @gungws</p></div>
<p>Kalau ada kemauan, pasti ada jalan. Itu idiom motivasi zaman dulu. Sekarang menurut saya, kalau ada koneksi internet, pasti ada jalan!</p>
<p>Berikan saya koneksi internet yang bohai, saya akan mengubah dunia. Nah, ini bisa agak berlebihan tapi ada benarnya. Setidaknya itu yang saya temukan di pengalaman hidup beberapa tahun ini, setelah berani mencumbu dunia online.<span id="more-676"></span></p>
<p>Sabtu (10/4) lalu, beberapa kawan baru saja mengunjungi rumah sepasang perempuan difabel, Restiti dan Alit. Keduanya mengalami polio sejak kecil. Beberapa kawan saya ini adalah teman yang dikenal lewat jejaring social. Ada yang kenal di milis Bali Blogger Community, lewat twitter, kemudian kopi darat di acara Melali bareng Balebengong.net, sebuah portal jurnalisme warga di Bali.</p>
<p>Restiti dan Alit mendapat hadiah berbagai jenis boneka. Tak hanya difungsikan sebagai teman tidur. Boneka-boneka yang dibawa teman itu ada yang berbentuk Barbie. Ini khusus untuk restiti, perempuan ramah 19 tahun yang cakap membuat desain baju boneka, termasuk kebaya.</p>
<p>Beberapa kawan yang dipertemukan lewat dunia maya pertama kali dengan kisah Restiti-Alit dari tulisan di balebengong.net. Tulisan ini merangkum kisah di balik “ditemukannya“ Restiti oleh sejumlah relawan penjangkau difabel yang “disembunyikan” keluarga, atau tak mampu mengakses bantuan di luar tembok rumah.</p>
<p>Singkat cerita, Restiti kemudian mendapat sejumlah dukungan seperti pemasaran baju-baju boneka dan kebayanya. Hendra, pemilik usaha web development memberikan domain-hosting gratis. Sakti Soediro, relawan perempuan penjangkau difabel ini membuatkan desain website dan terus mendampingi dalam pemasaran produk hingga saat ini.</p>
<p>Usai pertemuan terakhir di rumah Restiti, tulisan baru muncul di balebengong.net. Beberapa kawan kembali menawarkan bantuan, seperti fotografi untuk memotret produk Restiti dan lainnya. Alit, adik Restiti yang berusia 11 tahun punya bakat menggambar. Hasil dokumentasi dan proses kolaborasi terus menambah dukungan untuk dua perempuan difabel berbakat ini. Misalnya tambahan bantuan kursi roda, yang juga dimobilisasi dari media online.</p>
<p>Ini kisah kecil di Bali. Jurnalisme warga atau citizen journalism yang dikembangkan balebengong.net memberikan hak yang sama bagi perempuan berkarya dan kemudian brdampak langsung pada lingkuangan sekitar.</p>
<p>Saya pun kerap menulis dan memposting artikel di blog atau jejaring sosial ketika memasak. Saya cukup meletakkan meja kecil, sekitar 3 meter dari dapur. Saat menunggu sop matang di penggorengan atau empal diungkep dalam panci, saya bisa menulis. Karena kadang menulis, butuh waktu segera untuk menumpahkannya di papan keyboard.</p>
<p>Di ruang dapur yang terhubung langsung dengan ruang perpustakaan, saya juga bisa melihat anak bermain jika sedang libur sekolah. Memasak sambil online biasanya dilakukan pagi, usai mengantar anak sekolah dan menunggu waktu keluar sekolah. Menyenangkan dan menyeimbangkan.</p>
<p>Bahkan, saya sering menemukan semacam buddies tiba-tiba dalam hidup ketika memposting tulisan dan direspon ramai oleh perempuan lain. Salah satu contohnya, ketika menulis <a href="http://luhde.nawalapatra.com/pengalaman-pertama-pake-alat-kontrasepsi-dalam-rahim/">pengalaman pertama menggunakan alat kontrasepsi</a> Intra Uterine Device (IUD), akrab disebut KB pasang. Mencari alat kontrasepsi adalah hal krusial bagi perempuan.</p>
<p>Ada banyak pilihan dengan berbagai efek samping. Brosur atau iklan tak sepenuhnya bisa meyakini perempuan. Yang paling penting adalah mendengarkan pengalaman perempuan lain, dan ini bisa dilakukan di internet. Artikel ini masih seru didiskusikan oleh pengunjung blog saya dan menjadi topik paling populer.</p>
<p>Tentu tak pernah kita lupa kisah Prita Mulyasari, perempuan yang dipidanakan oleh sebuah rumah sakit di Jakarta beberapa tahun lalu. Ini sejarah penting di Indonesia mengenai teknologi informasi dan perempuan.</p>
<p>Seorang perempuan memposting keluhannya soal pelayanan rumah sakit, lalu direspon dan disebarkan ke orang lain. Dunia maya adalah viral. Hanya perlu sekali klik, dan jika pembaca tertarik, postingan sudah bisa dibaca jutaan orang. Sayang, komplain berbuah upaya pemenjaraan dari pihak yang merasa dicemarkan.</p>
<p>Perjuangan Prita lolos dari sel penjara digaungkan dengan gerakan Koin untuk Prita. Untuk membayar denda pidana pengadilan. Gerakan koin terus bergema, untuk isu-isu yang berbeda. Misalnya Koin untuk Bilqis, dan terakhir Koin Sastra untuk penyelamatan dokumentasi sastra HB Jassin di Jakarta.</p>
<p>Kisah Prita pada bisa dituangkan dalam konteks analisis gender. Kerangka analisis gender “Harvard” terdiri dari empat komponen, yaitu partisipasi laki-laki dan perempuan, akses masing –masing pada sumber daya alam dan sumber daya lainnya, pengaruh masing-masing dalam proses pengambilan keputusan pada tingkat rumah tangga dan komunitas, serta manfaat yang mereka peroleh dari kegiatan itu.</p>
<p>Prita berpartisipasi dalam mengemukakan pendapat. Ini yang kadang lalai diperhatikan dalam sejumlah pertemuan umum, rapat pemerintah, termasuk rapat adat. Internet memberikan hak yang sama bagi siapa pun untuk terlibat dalam pembentukan opini.</p>
<p>Kedua, akses perempuan pada sumber daya di dunia nyata tak terjadi di dunia maya. Prita menggunakan kemampuannya mengakses email  untuk berbagi. Ini sangat mudah, walau masih banyak perempuan yang menganggap sudah memanfaatkan TI hanya dengan membuat akun di facebook. Sementara alamat email tak terurus. Membuat akun email hanya untuk mendaftarkan diri di facebook, kemudian tak pernah membuka isi email, bahkan lupa password-nya.</p>
<p>Prita juga tak perlu menitipkan “suaranya” lewat suami atau kepala desa untuk bisa cepat mendapat respon atas keprihatinannya. Ia menulis email atas nama pribadinya sendiri dan bertanggung jawab secara mandiri.</p>
<p>Terakhir, soal manfaat dari kegiatan. Aksi Prita membuat email komplain ini berpengaruh luas pada cara pandang masyarakat dan institusi perusahaan dalam mekanisme resolusi konflik, dan tentu saja kehendak berbicara untuk perempuan. Kegiatan online lebih bermakna ketika berdampak di dunia nyata.</p>
<p>Siapa saja kini bisa mulai melakukan sesuatu, mulai dari memanfaatkan email, blog, atau jejaring sosialmu. Tinggal menulis, membaginya, kemudian mewujudkan.</p>

	<div style="">
		<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="vertical" data-text="Kalau ada Koneksi Internet, Pasti ada Jalan" data-url="http://luhde.nawalapatra.com/kalau-ada-koneksi-internet-pasti-ada-jalan/"  data-via="lodegen">Tweet</a>
	</div>
	<script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script><div style="clear:both;margin-bottom:5px;">
				<a href="http://twitter.com/share?url=http://luhde.nawalapatra.com/kalau-ada-koneksi-internet-pasti-ada-jalan/&text=Kalau ada Koneksi Internet, Pasti ada Jalan" target="_blank" title="Click here if you liked this article">
					<img src="http://luhde.nawalapatra.com/wp-content/plugins/twitter-plugin/images/twitt.gif" alt="Twitt" />
				</a>
			</div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luhde.nawalapatra.com/kalau-ada-koneksi-internet-pasti-ada-jalan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makelo sing melali? mai&#8230;</title>
		<link>http://luhde.nawalapatra.com/makelo-sing-melali-mai/</link>
		<comments>http://luhde.nawalapatra.com/makelo-sing-melali-mai/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Apr 2011 07:39:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luhde</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Blogging]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[sloka institute]]></category>
		<category><![CDATA[citizen reporter]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[kelas jurnalisme warga bali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luhde.nawalapatra.com/?p=670</guid>
		<description><![CDATA[Yuk melali bareng sambil bercerita tentang Batur, Kintamani, Bangli. Kita jalan-jalan sambil mencatat, motret, merekam, dan mengabarkan apa yang kita temukan: budaya, kuliner, wisata, sosial, apa saja. Dijamin fun dan ngefek positif! Melali bareng ini akan diadakan pada Minggu, 10 April 2011. Pukul 07.00 – 18.00 WITA di sekitar Danau Batur, Kintamani. Panitia menyediakan transportasi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_672" class="wp-caption alignnone" style="width: 610px"><a rel="attachment wp-att-672" href="http://luhde.nawalapatra.com/makelo-sing-melali-mai/melali-banner-balebengong-klikhati/"><img class="size-full wp-image-672" title="melali-banner-balebengong klikhati" src="http://luhde.nawalapatra.com/wp-content/uploads/2011/04/melali-banner-balebengong-klikhati.jpg" alt="" width="600" height="859" /></a><p class="wp-caption-text">desaign by @saktisoe</p></div>
<p><strong>Yuk melali bareng sambil bercerita tentang Batur, Kintamani,  Bangli. Kita jalan-jalan sambil mencatat, motret, merekam, dan  mengabarkan apa yang kita temukan: budaya, kuliner, wisata, sosial, apa  saja.</strong></p>
<p>Dijamin fun dan ngefek positif!<span id="more-670"></span></p>
<p><strong>Melali bareng ini akan diadakan pada Minggu, 10 April 2011. Pukul 07.00 – 18.00 WITA di sekitar Danau Batur, Kintamani.<br />
</strong></p>
<p>Panitia menyediakan transportasi, makan pagi, makan siang, dan snack.  Semuanya gratis! Panitia akan memberikan pilihan spot yang menarik  untuk dieksplorasi. Dari sini kamu bisa membuat tulisan, foto, video  pendek, karya sastra, dan lainnya…</p>
<p>Syaratnya:<br />
Pernah menulis di balebengong.net (kontributor), ATAU pernah mengikuti  kelas jurnalisme warga Sloka Institute – Bale Bengong, follower  @balebengong, dan ATAU anggota Bali Blogger Community</p>
<p>Daftar dengan mengirimkan biodata singkat <strong>info@sloka.or.id</strong> atau telp 0361-7989495 sebelum Jumat, 8 April 2011 pkl 15.00 Wita.</p>
<p>Melali ini hanya untuk 20 orang! Jadi. Silakan daftar segera.</p>
<p>Bale Bengong adalah blog jurnalisme warga di Denpasar, Bali. Dalam  jurnalisme warga (citizen journalism), warga tidak hanya jadi objek  berita, tapi sekaligus subjek. Warga terlibat aktif menulis atau sekadar  memberi respon atas sebuah kabar. Portal ini dikelola bersama-sama oleh  Sloka Institute dan Bali Blogger Community dengan dukungan para sponsor  dan kontributornya.</p>
<p>Saatnya warga memproduksi informasi sendiri tak hanya mengonsumsi. [b]</p>
<p><em>Melali bersama didukung pula oleh <a href="http://baliblogger.org/" target="_blank">Bali Blogger Community</a> &amp; <a href="http://klikhati.com/" target="_blank">Klik Hati</a>.</em></p>

	<div style="">
		<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="vertical" data-text="Makelo sing melali? mai..." data-url="http://luhde.nawalapatra.com/makelo-sing-melali-mai/"  data-via="lodegen">Tweet</a>
	</div>
	<script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script><div style="clear:both;margin-bottom:5px;">
				<a href="http://twitter.com/share?url=http://luhde.nawalapatra.com/makelo-sing-melali-mai/&text=Makelo sing melali? mai..." target="_blank" title="Click here if you liked this article">
					<img src="http://luhde.nawalapatra.com/wp-content/plugins/twitter-plugin/images/twitt.gif" alt="Twitt" />
				</a>
			</div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luhde.nawalapatra.com/makelo-sing-melali-mai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nafsu dan Asmara itu Cupcake</title>
		<link>http://luhde.nawalapatra.com/nafsu-dan-asmara-itu-cupcake/</link>
		<comments>http://luhde.nawalapatra.com/nafsu-dan-asmara-itu-cupcake/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Apr 2011 01:48:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luhde</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Blogging]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[sambel curcol]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luhde.nawalapatra.com/?p=664</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah pada suatu hari Sabtu di Subak Dalem. Selusin plus satu laki dan perempuan bertekad memerangi kebodohan mereka membuat cupcake. Datanglah seorang gadis berputra dua yang menjadi guru pembasmi kebodohan ini. &#8220;Hentikan ngiler di depan etalase cupcake,&#8221; demikian titah Yangmulia chef Ninok, lulusan PSSRD Unud yang kini bergabung dengan ISI Denpasar ini. Kesaktian Ninok bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alkisah pada suatu hari Sabtu di Subak Dalem.</p>
<p>Selusin plus satu laki dan perempuan bertekad memerangi kebodohan mereka membuat cupcake. Datanglah seorang gadis berputra dua yang menjadi guru pembasmi kebodohan ini. <span id="more-664"></span></p>
<p>&#8220;Hentikan ngiler di depan etalase cupcake,&#8221; demikian titah Yangmulia chef Ninok, lulusan PSSRD Unud yang kini bergabung dengan ISI Denpasar ini. Kesaktian Ninok bisa diintip di blognya, cacacake.wordpress.com ato galeri pesbuknya.</p>
<p>Dimulailah petualangan memadu kasih dengan tepung terigu, telur, mixer, dan lainnya ini. Dan beberapa puluh menit kemudian, walla.</p>
<p>Selusin cupcakes hand made and soul made by arie, bayu, yanuar, sakti, rara, me, bani, chipi, tj, anton, riri, bani, dan ninok guestar Sambel Curcol I.</p>
<p>Nah, kalo isi diskusinya sungguh sangat rahasia. Hanya bisa di copas di Sambel Curcol berikutnya. Informasi adalah kekuatan, karena itu curcol adalah keniscayaan.</p>

	<div style="">
		<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="vertical" data-text="Nafsu dan Asmara itu Cupcake" data-url="http://luhde.nawalapatra.com/nafsu-dan-asmara-itu-cupcake/"  data-via="lodegen">Tweet</a>
	</div>
	<script type="text/javascript" src="http://platform.twitter.com/widgets.js"></script><div style="clear:both;margin-bottom:5px;">
				<a href="http://twitter.com/share?url=http://luhde.nawalapatra.com/nafsu-dan-asmara-itu-cupcake/&text=Nafsu dan Asmara itu Cupcake" target="_blank" title="Click here if you liked this article">
					<img src="http://luhde.nawalapatra.com/wp-content/plugins/twitter-plugin/images/twitt.gif" alt="Twitt" />
				</a>
			</div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luhde.nawalapatra.com/nafsu-dan-asmara-itu-cupcake/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

